Riset: Menyiksa Warga Palestina Merupakan Kenikmatan Bagi Para Prajurit Israel  
Senin, 22 Okt 07 10:53 WIB
   
  Para tentara Israel ternyata memang sangat menikmati melakukan penyiksaan 
terhadap warga Palestina, baik laki-laki maupun perempuan. Penyiksaan itu 
mereka lakukan hanya untuk melepaskan energi mereka yang berlebih.
  Hal ini terungkap dari hasil riset yang dilakukan Nufar Yishai-Karin, pakar 
psikologi klinis di Universitas Hebrew. Dalam risetnya, ia melakukan wawancara 
dengan 18 tentara dan tiga pegawai sipil Israel, yang bertugas di basis militer 
Israel di Rafah, Jalur Ghaza. Dari para narasumbernya itu, ia mendapatkan 
pengakuan bahwa penyiksaan brutal terhadap warga Palestina merupakan aktivitas 
rutin para tentara Israel.
   
  "Pada satu titik atau suatu saat dalam masa tugas mereka, mayoritas tentara 
yang diwawancarai mengaku senang melakukan kekerasan, " kata Nufar Yishai-Karin 
pada The Observer, edisi hari Minggu (21/10).
  Setelah pensiun dari kemiliteran Israel, Yishai-Karin menghabiskan waktu 
tujuh tahun untuk meneliti perilaku kejam para prajurit Israel, sejak pecah 
gerakan intifada tahun 1980-an dan 1990-an.
   
  Beberapa prajurit, pada Yishai-Karin mengungkapkan betapa mereka menikmati 
kekuasaan yang tak terbatas saat melakukan penyiksaan terhadap warga Palestina. 
"Ini seperti candu. Jika saya tidak pergi ke Rafah dan jika di sana tidak ada 
keributan sekali saja dalam seminggu, saya jadi gila, " kata seorang prajurit.
   
  Buat sejumlah prajurit Israel, memukul warga Palestina membuat diri mereka 
menjadi seperti orang penting. "Anda akan merasa bahwa Andalah yang memegang 
hukum. Andalah yang memutuskan, Anda adalah tuhannya, " aku seorang prajurit 
lainnya.
   
  Tentara yang lain, mengakui bahwa mereka bebas melakukan tindakan apapun 
terhadap warga Palestina tanpa ada larangan. Seorang prajurit mencontohkan 
ketika tentara Israel menembak begitu saja seorang warga Palestina yang sedang 
melintas di jalan.
   
  "Kamis sedang dalam kendaraan pengangkut senjata, ketika laki-laki Palestina 
yang berusia sekitar 25 tahun, melintas di jalan. Laki-laki itu, tidak melempar 
batu, tidak melakukan apapun, ketika 'bang' tentara Israel menembah begitu 
saja, tanpa alasan ke perut laki-laki itu hingga ia tergeletak di trotoar, dan 
kami berlalu begitu saja, tanpa menengok ke belakang lagi, " tutur prajurit 
tadi.
  Lain lagi pengakuan seorang prajurit yang mengatakan bahwa bukan persoalan 
baginya menyiksa perempuan warga Palestina. Menurutnya, ia pernah memukuli 
seorang perempuan Palestina, gara-gara perempuan itu melemparnya dengan sendal.
   
  "Saya tendang dia bagian ini (sambil menunjuk ke arah selangkangan), saya 
patahkan, dia jadi tidak bisa punya anak, " tuturnya tanpa rasa bersalah.
   
  Dari riset yang dilakukannya, Yishai-Karin menemukan fakta bahwa para 
prajurit Israel melakukan penyiksaan dan kekejaman terhadap warga Palestina, 
sejak minggu-minggu pertama mereka dilatih sebagai tentara.
   
  Para tentara yang ditanyainya mengaku bahwa para komandan mereka mendorong 
mereka untuk bertindak brutal terhadap warga Palestina yang tidak berdaya. Para 
prajurit itu menceritakan bagaimana sejumlah komandan baru, di hari pertama 
bertugas memukuli seorang anak lelaki Palestina berusia empat tahun.
   
  "Kami melakukan patroli pertama dengan seorang komandan. Saat itu jam enam 
pagi, Rafah di bawah status jam malam. Ada empat orang anak sedang main pasir. 
Mereka sedang membuat istana dari pasir, " kisah seorang prajurit Israel.
   
  Ia melanjutkan, "Tiba-tiba, komandan menarik seorang anak, dia mematahkan 
pergelangan tangak dan kaki anak itu, serta menginjak perutnya sebanyak tiga 
kali. Kemudian kemudian itu pergi begitu saja. "
   
  Hasil penelitian Yishai-Karin yang dipublikasikan sejumlah media massa di 
Israel, membuat syok warga Israel yang selami ini meyakini bahwa tentara mereka 
mendapatkan pendidikan etika terbaik dibandingkan tentara-tentara negara 
lainnya di dunia.(ln/iol)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke