From: Ahimsa H. Situmeang, Bandung
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dalam perdebatan tentang "kanonisasi" (bagaimana sebuah karya sastra diangkat
jadi karya unggulan) dalam sastra Indonesia belakangan ini, disebut Pramoedya
Ananta Toer sebagai "kanon" sastra kita. Ada yang mensejajarkannya dengan
William Shakespeare di dunia berbahasa Inggris.
Akan tetapi tidak pernah diuraikan bagaimana prosesnya maka pengarang "Bumi
Manusia" itu diunggulkan di atas para sastrawan Indonesia lain. Apabila
"kanonisasi" Pramoedya itu benar ditentukan oleh lembaga dan kekuasaan yang
mampu memutuskan, maka lembaga dan kekuasaan manakah itu?
Kita ingat bahwa rezim Orde Baru dengan segala upaya melarang buku itu
beredar dan membuang nama Pramoedya dari bacaan sekolah. Rezim Orde Baru yang
bertahan lebih dari 30 tahun itu pasti kuat. Maka dalam "kanonisasi"
Pramoedya, lembaga dan kekuasaan apa yang mampu menandinginya?
Jangan-jangan tidak seluruhnya benar "teori" bahwa naiknya sebuah karya
sastra ke jajaran yang unggul adalah disebabkan oleh lembaga dan kekuasaan.
Melainkan karya itu yang memang bermutu. Jadi tidak selamanya faktor-faktor di
luar teks sastra menentukan.
A.H. Situmeang
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://mediacare.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]