From: Manneke Budiman, Canada E-mail: [EMAIL PROTECTED] Sekadar sedikit info. Kanonisasi terjadi karena ada otoritas yang menjadikan sebuah buku menjadi wajib hukumnya untuk dibaca. Dalam tradisi kanonisasi di Barat, biasanya sosok otoritas ini adalah Jurusan Sastra Inggris. Mereka menetapkan buku-buku apa yang wajib dikuasai mahasiswa agar dapat dinyatakan lulus sebagai sarjana sastra Inggris. Maka, biar mahasiswanya eneg dan muntah-muntah karena tak suka dengan buku yang ditentukan dosennya, ia tetap harus baca sampai ngelotok. Bila perlu dihafalkan luar kepala. Insitusi lain yang juga punya otoritas macam ini adalah kritikus sastra. Jika mereka rame-rame membaptis sebuah buku menjadi kanon, maka khalayak pun rame-rame akan membacanya. Nah, dalam praktiknya, para kritikus ini adalah juga dosen yang bikin kurikulum di universitas itu. Sdr. Ahimsa betul soal Pram. Orde Barulah yang menjadikan karya Pram sebagai kanon. Karena dilarang, maka ia makin dicari, dan orang rela masuk penjara demi bisa baca novel Pram. Panitia Nobel denger soal ketidakadilan yang dialami Pram, dan mereka lalu mengangkat karya Pram sebagai nominee Nobel di bidang kesusastraan. Jadilah Pram masuk dalam jajaran kanon sastra, tak cuma di Indonesia tapi juga di dunia. Di jurusan-jurusan sastra Indonesia di luar negeri, semua kurikulumnya dijamin memasukkan karya Pram untuk dibaca mahasiswa. Shakespeare dulu di Harvard dilarang diajarkan dan dianggap karya murahan yang maksiat. Dia cuma dipentaskan di kota-kota oleh kelompok-kelompok sandiwara keliling yang selalu seret duit. Seiring waktu, mungkin ada dosen Harvard yang rada gendheng dan suka nonton drama, lalu tertarik pada Shakespeare, Maka dia masukkanlah karya-karya orang itu ke dalam kurikulumnya. Pelan-pelan, Shakespeare pun pamornya terangkat. Kini, mahasiswa sastra Inggris di seluruh dunia takbisa jadi sarjana sastra Inggris kalo tak ngerti Shakespeare. Soal mutu? He he he. Pasti selalu adalah "hakim-hakim" yang punya otoritas menentukan karya mana yang bermutu atau tidak. Dengan kata lain, mutu tak bisa bicara sendiri. Harus ada jubirnya. Tak ada satu karya yang secara bulat diterima penuh sebagai karya bermutu, tanpa ada kontroversi ataupun perbedaan penilaian. manneke
e-mail: [EMAIL PROTECTED] blog: http://mediacare.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

