http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=310952&kat_id=248


*Kualitas Pendidikan Indonesia di UNESCO, Menengah ke Atas*

*Paris-RoL--*  Posisi Indonesia di Unesco dilihat dari berbagai sisi,
terutama kualitas pendidikan berada pada tingkat menengah ke atas dari 193
negara anggota UNESCO.

Hal itu dikatakan Dirjen Dikti, Satryo Soemantri Brodjonegoro, pada temu
muka dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Prancis di Paris, Prancis
pada Minggu, 21/10.  Menurut Satryo , saat ini dalam skala kualitas
pendidikan, posisi Indonesia tidak begitu buruk dibandingkan negara-negara
lain di dunia.

"Kita sudah mengarah ke posisi ideal, meskipun keadaannya tidak begitu
baik," ujarnya.  Ia bersama delegasi Indonesia lainnya mengikuti Sidang Umum
Unesco ke-34 untuk mengukur posisi Indonesia di badan PBB itu . Selain itu
juga, ada ratifikasi terkait gelar pendidikan dan sistem pendidikan supaya
ke depannya gelar yang diperoleh di Indonesia bisa diakui di seluruh dunia.

Selama ini, pelajar dan mahasiswa mengalami kesulitan jika hendak
melanjutkan pendidikan ke luar negeri karena gelar yang disandangnya tidak
diakui. Akibatnya ia harus mengikuti kelas matrikulasi atau mengulang pada
tingkat yang sama. Sementara itu , posisi pendidikan di Asia, dikatakan
Satryo, cukup bersaing. Hanya saja kondisinya belum optimal. Masih banyak
infrastruktur, sarana dan prasarana yang perlu dibenahi.

Ia mencontohkan pengakuan kesetaraan pendidikan yang masih dirasa sulit
adalah dengan Filipina karena negara tersebut menggunakan sistem pendidikan
dasar menengah 10 tahun, berbeda dengan Indonesia, 12 tahun. Namun, menurut
dia, selain dengan Filipina, tidak ada masalah kesetaraan dengan negara lain
di Asia.

Satryo menegaskan pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional
berupaya terus melakukan pembenahan-pembenahan baik dalam sistem, sarana
maupun prasarana yang mendukung pendidikan.  Saat ini, menurut penuturan
Satryo, terdapat 40 juta siswa Sekolah Dasar di Indonesia dan angka itu
terus menerus ditingkatkan.

Indonesia sudah mulai membuka diri dengan dunia luar untuk mengembangkan
potensi yang dimiliki. Putra mantan menteri pendidikan dan kebudayaan tahun
1973 Soemantri Brodjonegoro itu itu menepis kritik mahasiswa bahwa
pemerintah lepas tangan dengan masalah pendidikan.

"Kami (pemerintah) selalu berusaha meningkatkan agar anggaran pendidikan
lebih besar dari sektor lain. Kita juga sudah memberikan banyak beasiswa
-beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan
pendidikannya di dalam maupun di luar negeri," ujar dosen teknik mesin ITB
itu.  Baru-baru ini di Jakarta, Dewan Perwakilan Rakyat juga telah mensahkan
anggaran pendidikan dalam APBN 2008 sebesar 12,3 persen dari total anggaran
lebih dari Rp800 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan, Fasli Jalal menjelaskan alokasi dana yang terbesar dari
anggaran itu atau sekitar 50 persen adalah untuk wajib belajar sembilan
tahun.  Fasli menjelaskan bahwa di Indonesia masih terdapat 1,5 juta anak
yang belum mendapatkan tempat untuk wajib belajar 9 tahun.

"Angka ini berusaha kita kurangi terus menerus," ujarnya. Ia menambakan,
pemerintah akan memberikan insentif atau tambahan gaji kepada guru-guru yang
menunjukkan profesionalitas kerjanya. Menurut dia, saat ini gaji guru
sekolah dasar di Jakarta sudah mencapai Rp2,6 juta/ bulan .

Pada kesempatan temu muka itu, Ketua PPI Prancis, Mahmud Syaltout, atas nama
Jejaring PPI Eropa menyerahkan rancangan naskah kerja hasil studi banding
tentang sistem pendidikan tinggi di beberapa negara Eropa, diantaranya
Prancis, Belgia, Jerman dan Swiss. Diharapkan ke depannya, rancangan itu
dapat menjadi acuan atau referensi untuk reformasi sistem pendidikan tinggi
di Indonesia. *antara/**mim*


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke