itu karena mereka tidak mempunyai akal, seperti firman Allah :
"Dan apabila kamu menyeru mereka untuk shalat, mereka menjadikannnya buah
ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum
yang tidak mau mempergunakan akal." (Al Maidah: 57)
kesian kan? gak punya akal.
salam,
sFe
nong helman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Oleh : Fakta 23 Oct, 07 - 7:03 pm
"DAMAI-SEJAHTERA," adalah nama yang bagus, indah dan tenteram dambaan setiap
insan. Tapi sayang, kelakuan Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam situsnya tak
seindah namanya. Dalam salah satu forum di situs resminya, terdapat ratusan
link website mancanegara yang menjajakan berbagai gambar bugil dan video adegan
seks bebas (gara-gara hal ini link web forum PDS dihapus oleh servernya).
Apakah website kejorokan ini sesuai dengan nafas "damai dan sejahtera,"
sehingga informasi yang merusak itu bertengger dengan gagahnya di situs partai
rohani tersebut?
Yang lebih berbahaya dan memicu permusuhan antar agama, dalam forum tersebut
dimuat tulisan seorang member yang menamakan diri DPP PDS. Tulisan dengan
bahasa preman yang kasar, arogan sarkasme dan bombastis ini sepenuhnya
mengagung-agungkan agama Kristen sembari menghujat Islam sejadi-jadinya.
Beberapa hujatan yang terdapat dalam situs ini antara lain: Allah dalam
Al-Qur`an mempunyai sifat yang plin-plan; Syariat Islam itu kejam, tidak adil
dan ketinggalan zaman; Al-Qur`an bukan wahyu Allah yang benar; salah satu surat
dalam Al-Qur`an aneh, tidak masuk akal dan kontradiktif; Islam tidak menjamin
keselamatan surgawi; Al-Qur`an membenarkan kaum Muslim bersekutu dengan jin;
Nabi Muhammad inkonsisten, tak percaya diri dan plin-plan; Nabi Muhammad
memberikan peluang kepada umatnya untuk berbuat syirik kepada Allah dengan
jin/iblis yang prakteknya antara lain untuk mendapat ilmu kebal, ilmu santet,
ilmu pellet dll.
Ketika menghujat ibadah shalat, penulis berinisial DPP PDS itu menuding umat
Islam shalat menyembah Tuhan yang berwujud batu hitam yang tinggal di dalam
Kabah. Berikut kutipannya:
"Mulut umat Islam 5X komat-kamit, bahkan adakalanya dengan suara yang
keras-lantang dibantu dengan loudspeaker pula, mengumandangkan "BAHWA TIADA
TUHAN SELAIN ALLAH -LAILAHAILALLAH, DAN KEPADANYA SAJALAH MEREKA WAJIB SUJUD
MENYEMBAH". Namun dalam beberapa saat kemudian mereka ruku dan sujud menyembah
kepada Allah yang wujudnya sudah berubah menjadi BATU HITAM yang ada dalam
bangunan yang diberi predikat BAITULLAH/KAABAH yang ada di Mekkah.
Mulut umat Islam selalu komat-kamit mengakui bahwa Allah itu pada satu titik
yang bersamaan ada di mana-mana di setiap sudut dan penjuru dimensi dunia dan
alam semesta ini, namun kenyataannya minimal 5X dalam sehari-semalam mereka
menyembah Allah yang hanya berada di Mekkah dalam Kaabah dalam bentuk BATU
HITAM."
Oknum DPP PDS ini sungguh tidak tahu etika bahasa. Bayangkan, umat Islam dalam
shalat membaca doa-doa dan pujian kepada Allah dengan khusyu', tadharru' dan
tawadhu'. Ini adalah ajaran ritual ibadah yang mulia. Tapi oleh penulis
berinisial DPP PDS, hal itu dijuluki dengan kata yang buruk, yakni komat-kamit.
Padahal kata ini hanya layak dipakai untuk para dukun yang sedang merapal
mantra untuk tujuan tertentu yang dilakukan dengan bersekutu bersama setan.
Seharusnya DPP PDS belajar bahasa yang baik Pepatah "bahasa menunjukkan bangsa"
nampaknya sangat tepat bagi penulis hujatan di situs PDS ini. Kejelekan gaya
bahasa menunjukkan keburukan akhlak dan wawasan orang yang bersangkutan.
Dalam penggalan dua paragraf tersebut, oknum DPP PDS melakukan banyak
kekeliruan dan kebohongan.
Pertama, menyebutkan bahwa hajar aswad (batu hitam) berada di dalam Ka'bah. Ini
adalah tudingan yang 'asal bunyi' tanpa ilmu. Karena hajar aswad itu menempel
di salah satu pojok Ka'bah, bukan di dalam Ka'bah.
Kedua, menyebutkan bahwa Allah yang disembah umat Islam itu berwujud sebuah
batu hitam yang hanya ada di Mekkah. Ini adalah anggapan yang sama sekali salah
dan amat menggelikan. Silakan DPP PDS tanyakan kepada seluruh kaum muslimin,
apa wujudnya Allah? Tak satupun umat Islam yang meyakini bahwa Allah itu
wujudnya batu hitam, karena Al-Qur`an mengajarkan bahwa Allah itu berbeda
dengan makhluk-Nya. "Laysa kamitslihi syay-un" (tidak ada sesuatu apapun yang
menyerupai atau serupa dengan Allah).
"Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah)..." (Qs. As-Syura 11).
"Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah)" (Qs. Al-Ikhlash 4).
Ketiga, udingan bahwa umat Islam musyrik karena shalat menyembah Ka'bah.
Tudingan ini tak berdasar sama sekali, hanya didasarkan pada khayalan DPP PDS
yang penuh dengan semangat kebencian dan antiislam. Dalam kenyataan, boleh
ditanyakan kepada seluruh umat Islam, apakah mereka shalat menyembah Ka'bah?
Tak satupun orang Islam yang shalat menyembah Ka'bah. Salah satu syarat
diterimanya shalat adalah Ikhlas, yaitu beribadah kepada Allah secara murni
tanpa ada tujuan lain sedikit pun. Umat Islam bukan menyembah Ka'bah, tapi
menyembah Tuhan pemilik Ka'bah tersebut, sesuai dengan perintah Allah SWT:
"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah)" (Qs.
Al-Quraisy 3).
DPP PDS harus bisa membedakan makna "arah" dan "tujuan". Ka'bah adalah kiblat
atau arah menghadap bagi umat Islam dalam ibadah ritual shalat. Harus
digarisbawahi, hanya sebagai arah, bukan sebagai tujuan ibadah dan penyembahan.
Umat Islam tidak pernah dan tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT. Umat
Islam melakukan shalat menghadap kiblat itu pun dalam rangka ketaatan kepada
Allah SWT yang telah memerintahkan umat-Nya untuk melakukan itu (Qs. Al-Baqarah
144).
Kiblat ke Ka'bah dalam shalat hanyalah arah yang ditentukan Allah sebagai pusat
persatuan. Jika arah shalat umat Islam tidak ditentukan, maka akan terjadi
kacau-balau. Sebagian ada yang menghadap ke barat, yang lain ke timur, ke
selatan, ke utara, dan sebagainya. Untuk mempersatukan/menyeragamkan umat dalam
beribadah kepada Allah SWT, maka umat Islam di manapun tinggal, diwajibkan
menghadap ke satu arah yang sama yaitu kiblat ke Ka'bah.
Ada banyak fakta dan data yang secara otomatis membantah tudingan DPP PDS bahwa
umat Islam menyembah Ka'bah:
Pertama, ika ada umat Islam berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui
arahnya, atau sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya berkelok-kelok,
maka mereka boleh melakukan shalat dengan menghadap ke arah mana saja. Karena
Allah berfirman: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun
kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas
(rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Qs. Al-Baqarah 115).
Kedua, tahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan disembunyikan
oleh kaum Syi'ah golongan Ismailiyah Qarmathi. Apakah dengan hilangnya batu itu
lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi karena hajar aswad sudah
tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun selama 21 tahun itu umat
Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat Islam itu shalat menyembah
hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka libur shalat. Tapi nyatanya tidak.
Umat Islam tetap shalat menghadap kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak,
karena esensi mereka ialah mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan
menyembah batu.
Ketiga, setelah batu hitam itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah tidak
utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai berkurang.
Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan antara batu hitam
yang asli dengan yang imitasi. Tetapi anda lihat, apakah umat Islam heboh
karena itu? Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang disembah oleh umat Islam
itu bukanlah batu tetapi Allah SWT. Batu boleh rusak dan hilang tetapi Allah
(Tuhan mereka) tetap ada dan kekal sampai selama-lamanya.
Keempat pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri di atas Ka'bah
ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Sampai saat ini, bila para
petugas juga naik dan berdiri di atas Ka'bah untuk mengganti Kisywah (kain
kelambu penutup) Ka'bah. Ini juga bukti nyata bahwa tak seorang pun umat Islam
yang menyembah Ka'bah. Andai kata mereka menganggap Ka'bah sebagai tuhan yang
disembah, mana mungkin mereka berani naik, berdiri dan menginjak-injak Ka'bah?
Tuduhan memmber Kristen yang menamakan diri DPP PDS, bahwa umat Islam melakukan
shalat untuk menyembah batu, betul-betul konyol dan tidak bermutu. Banyak
sekali fakta-fakta yang secara otomatis dapat mematahkan hujatan dalam website
resmi PDS itu. Antara lain:
Pertama,
jika berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui arah mata anginnya, atau
sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya berkelok-kelok, maka umat Islam
boleh melakukan shalat dengan menghadap ke arah mana saja. Karena Allah
berfirman:
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di
situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
Mengetahui (Qs. Al-Baqarah 115).
Kedua, tahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan disembunyikan
oleh kaum Syiah golongan Ismailiyah Qarmathi. Apakah dengan hilangnya batu itu
lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi karena hajar aswad sudah
tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun selama 21 tahun itu umat
Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat Islam itu shalat menyembah
hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka libur shalat. Tapi nyatanya tidak.
Umat Islam tetap shalat menghadap kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak,
karena esensi mereka ialah mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan
menyembah batu.
Ketiga, setelah hajar aswad itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah
tidak utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai
berkurang. Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan antara
batu hitam yang asli dengan yang imitasi. Apakah umat Islam heboh karena itu?
Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang disembah oleh umat Islam itu bukanlah
batu tetapi Allah SWT. Batu boleh rusak dan hilang, tetapi Allah tetap ada dan
kekal sampai selama-lamanya. Inilah bukti bahwa Allah bukan batu, dan batu
tidak sama dengan Allah.
Keempat, dahulu pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri di
atas Kabah ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Mereka melakukan
itu lima kali sehari. Rasulullah tak pernah menegur maupun melarangnya. Jika
Kabah adalah Tuhan yang disembah oleh umat Islam, mana mungkin para shahabat
ketika itu berani menginjak-injak Tuhannya?
Kelima, Sampai saat ini, para petugas juga naik dan berdiri di atas Kabah
ketika mengganti Kisywah (kain kelambu penutup Kabah). Ini juga bukti nyata
bahwa sampai saat ini dan sampai kapan saja tak seorang pun umat Islam yang
menyembah Kabah. Andai kata mereka menganggap Kabah sebagai tuhan yang
disembah, mana mungkin mereka berani naik, berdiri dan menginjak Kabah?
Keenam, ketika thawaf dengan menunggang seekor unta, Rasulullah SAW pernah
tidak mencium hajar Aswad, melainkan menyentuhnya dengan tongkat beliau. (HR.
Bukhari juz 2 nomor 677). Jika Nabi pada waktu hidupnya menyembah hajar aswad,
mana mungkin beliau berani menyentuh Tuhannya dengan sebuah tongkat sambil
duduk di atas unta? Teladan Nabi ini membuktikan bahwa beliau tidak menyembah
hajar aswad.
Menghadap ka'bah ketika shalat, bukan berarti umat Islam menyembah kabah
tersebut. Mereka melakukan ini semata-mata menjalankan aturan ibadah yang
diperintahkan oleh Tuhannya (Qs. Al-Baqarah 144). Jadi, esensi qiblat umat
Islam ketika shalat bukan karena batu hitam, melainkan ketundukan dan
kepasrahan kepada Tuhan.
Ketundukan ini pula yang telah dilakukan oleh shahabat Umar RA ketika haji.
Dalam hadits shahih dikisahkan bahwa beliau datang mendekati Hajar Aswad (batu
hitam) lalu dia menciumnya dan berkata: Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini
batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak pula mendatangkan manfaat. Jika
aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu pula (HR
Bukhari dari Abis bin Rabiah RA).
Kemudian oknum DPP PDS yang miskin bahasa itu melanjutkan hujatannya: Apakah
masuk di akal bahwa Allah yang adalah pencipta langit dan bumi beserta isinya,
baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, mempunyai RUMAH atau BAIT di
dunia ini?... Yang benar adalah Alkitab, bahwa Allah tidak punya rumah di dunia
ini...
Sepenggal tulisan ini membuktikan bahwa oknum DPP PDS itu tidak memahami agama,
baik agama Islam maupun Kristen. Bila memiliki wawasan yang cukup tentang kitab
suci, dia tidak akan sesemberono itu. Sebab istilah Baitullah (rumah Allah)
atau Bethel, bukan berarti rumah tempat tinggalnya Allah.
Istilah ini sebetulnya bukan monopoli Islam, karena sudah akrab dalam bahasa
teologi para Nabi dan Rasul. Dalam Bibel sering disebut-sebut istilah Bait
Allah.
Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam
rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau
(Mazmur 5:8).
Dengarlah kiranya akan seru doaku apabila aku berteriak kepada-Mu, apabila aku
menadahkan tanganku ke tempat kaabah-Mu yang suci itu (Mazmur 28:2, TL).
Dalam Matius 21:12 diceritakan bahwa Yesus mensucikan Bait Allah. Injil Matius
24:1 menceritakan Yesus keluar dari Bait Allah.
Bait Allah atau rumah Allah adalah istilah metafora. Apabila istilah ini
diartikan sebagai rumah tempat tinggalnya Tuhan dalam arti hakiki, lalu
diartikan apa ayat Bibel di bawah ini, yang menyatakan bahwa manusia adalah
Bait Allah?
Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam dalam
kamu? Jika ada orang yang membinasakah Bait Allah, maka Allah akan membinasakan
dia. Sebab Bait Allah itu kudus dan Bait Allah itu ialah kamu (I Korintus 3:
16-17).
Jika pisau analisa DPP PDS itu dipakai untuk menafsirkan ayat di atas, maka
berarti bahwa rumah tempat tinggalnya Tuhan adalah manusia. Jika manusia
meninggal dunia semua, maka rumah Tuhan akan binasa. Lalu apakah Tuhan kemudian
tidak punya rumah?
Persoalan kiblat dalam ibadah sebetulnya bukan suatu keanehan. Sebab para nabi
dan rasul sebelum Muhammad SAW pun telah mengamalkannya. Mereka berkiblat ke
arah tertentu sesuai dengan ketetapan Allah. Perjanjian Lama menyebutkan para
nabi terdahulu berkiblat ke Yerusalem. Tiga kali sehari mereka berlutut, berdoa
serta memuji Tuhan menghadap Yerusalem. Dalam Alkitab terjemahan lama, istilah
Baitullah diterjemahkan menjadi kaabah Tuhan.
Tetapi akan Daniel, jikalau diketahuinya akan hal surat itu sudah dimeteraikan
oleh baginda sekalipun, masuklah juga ia ke dalam rumahnya, yang pada alayatnya
adalah tingkap-tingkap terbuka ke kiblat Yeruzalem dan pada sehari tiga kali
bertelutlah ia dan meminta doa dan mengucap syukur kepada Allahnya, seperti
biasa dibuatnya dahulu (Daniel 6:11, TL).
Maka oleh karena kaabah-Mu yang di Yeruzalem segala raja akan menyampaikan
persembahan kepadamu (Mazmur 68:30, TL). Maka kataku: Bahwa aku sudah dibuang
dari hadapan mata-Mu; kendatilah aku juga akan memandang pula kaabah
kesucian-Mu(Yunus 2:4, TL).
Meski para nabi itu berkiblat ke Yerusalem, tetapi Yesus tidak pernah menuduh
mereka telah menyembah Yerusalem, bukan? Seharusnya, oknum DPP PDS ini
mengikuti jejak Yesus, dengan tidak menuduh umat Islam menyembah Kabah.
(timfakta-malang/majalahtabligh)
http://muhammadiyah-tabligh.or.id
http://kristolog.blogspot.com/
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]