tdk ada yg lebih buruk drpd mahkluk yg telah diberi akal tp tdk 
dipergunakan dg baik, orang2 spt ini layak dan pantas menghuni NERAKA 
selamanya.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang 
musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka 
itu adalah seburuk-buruk makhluk.  QS98:6







sFe <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
10/24/2007 10:44 PM
Please respond to
[email protected]


To
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[email protected], [EMAIL PROTECTED]
cc
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED]
Subject
[ppiindia] Re: [debat_ islam-kristen] Situs PDS Hujat Shalat Umat Islam






itu karena mereka tidak mempunyai akal, seperti firman Allah :

"Dan apabila kamu menyeru mereka untuk shalat, mereka menjadikannnya buah 
ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar 
kaum yang tidak mau mempergunakan akal." (Al Maidah: 57)

kesian kan? gak punya akal. 

salam,

sFe

nong helman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Oleh : Fakta 23 Oct, 07 - 7:03 pm

"DAMAI-SEJAHTERA," adalah nama yang bagus, indah dan tenteram dambaan 
setiap insan. Tapi sayang, kelakuan Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam 
situsnya tak seindah namanya. Dalam salah satu forum di situs resminya, 
terdapat ratusan link website mancanegara yang menjajakan berbagai gambar 
bugil dan video adegan seks bebas (gara-gara hal ini link web forum PDS 
dihapus oleh servernya). 

Apakah website kejorokan ini sesuai dengan nafas "damai dan sejahtera," 
sehingga informasi yang merusak itu bertengger dengan gagahnya di situs 
partai rohani tersebut?

Yang lebih berbahaya dan memicu permusuhan antar agama, dalam forum 
tersebut dimuat tulisan seorang member yang menamakan diri DPP PDS. 
Tulisan dengan bahasa preman yang kasar, arogan sarkasme dan bombastis ini 
sepenuhnya mengagung-agungkan agama Kristen sembari menghujat Islam 
sejadi-jadinya. 

Beberapa hujatan yang terdapat dalam situs ini antara lain: Allah dalam 
Al-Qur`an mempunyai sifat yang plin-plan; Syariat Islam itu kejam, tidak 
adil dan ketinggalan zaman; Al-Qur`an bukan wahyu Allah yang benar; salah 
satu surat dalam Al-Qur`an aneh, tidak masuk akal dan kontradiktif; Islam 
tidak menjamin keselamatan surgawi; Al-Qur`an membenarkan kaum Muslim 
bersekutu dengan jin; Nabi Muhammad inkonsisten, tak percaya diri dan 
plin-plan; Nabi Muhammad memberikan peluang kepada umatnya untuk berbuat 
syirik kepada Allah dengan jin/iblis yang prakteknya antara lain untuk 
mendapat ilmu kebal, ilmu santet, ilmu pellet dll.

Ketika menghujat ibadah shalat, penulis berinisial DPP PDS itu menuding 
umat Islam shalat menyembah Tuhan yang berwujud batu hitam yang tinggal di 
dalam Kabah. Berikut kutipannya:

"Mulut umat Islam 5X komat-kamit, bahkan adakalanya dengan suara yang 
keras-lantang dibantu dengan loudspeaker pula, mengumandangkan "BAHWA 
TIADA TUHAN SELAIN ALLAH -LAILAHAILALLAH, DAN KEPADANYA SAJALAH MEREKA 
WAJIB SUJUD MENYEMBAH". Namun dalam beberapa saat kemudian mereka ruku dan 
sujud menyembah kepada Allah yang wujudnya sudah berubah menjadi BATU 
HITAM yang ada dalam bangunan yang diberi predikat BAITULLAH/KAABAH yang 
ada di Mekkah.

Mulut umat Islam selalu komat-kamit mengakui bahwa Allah itu pada satu 
titik yang bersamaan ada di mana-mana di setiap sudut dan penjuru dimensi 
dunia dan alam semesta ini, namun kenyataannya minimal 5X dalam 
sehari-semalam mereka menyembah Allah yang hanya berada di Mekkah dalam 
Kaabah dalam bentuk BATU HITAM."

Oknum DPP PDS ini sungguh tidak tahu etika bahasa. Bayangkan, umat Islam 
dalam shalat membaca doa-doa dan pujian kepada Allah dengan khusyu', 
tadharru' dan tawadhu'. Ini adalah ajaran ritual ibadah yang mulia. Tapi 
oleh penulis berinisial DPP PDS, hal itu dijuluki dengan kata yang buruk, 
yakni komat-kamit. Padahal kata ini hanya layak dipakai untuk para dukun 
yang sedang merapal mantra untuk tujuan tertentu yang dilakukan dengan 
bersekutu bersama setan. Seharusnya DPP PDS belajar bahasa yang baik 
Pepatah "bahasa menunjukkan bangsa" nampaknya sangat tepat bagi penulis 
hujatan di situs PDS ini. Kejelekan gaya bahasa menunjukkan keburukan 
akhlak dan wawasan orang yang bersangkutan.

Dalam penggalan dua paragraf tersebut, oknum DPP PDS melakukan banyak 
kekeliruan dan kebohongan.

Pertama, menyebutkan bahwa hajar aswad (batu hitam) berada di dalam 
Ka'bah. Ini adalah tudingan yang 'asal bunyi' tanpa ilmu. Karena hajar 
aswad itu menempel di salah satu pojok Ka'bah, bukan di dalam Ka'bah.

Kedua, menyebutkan bahwa Allah yang disembah umat Islam itu berwujud 
sebuah batu hitam yang hanya ada di Mekkah. Ini adalah anggapan yang sama 
sekali salah dan amat menggelikan. Silakan DPP PDS tanyakan kepada seluruh 
kaum muslimin, apa wujudnya Allah? Tak satupun umat Islam yang meyakini 
bahwa Allah itu wujudnya batu hitam, karena Al-Qur`an mengajarkan bahwa 
Allah itu berbeda dengan makhluk-Nya. "Laysa kamitslihi syay-un" (tidak 
ada sesuatu apapun yang menyerupai atau serupa dengan Allah).

"Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah)..." (Qs. As-Syura 
11). "Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah)" (Qs. 
Al-Ikhlash 4).

Ketiga, udingan bahwa umat Islam musyrik karena shalat menyembah Ka'bah. 
Tudingan ini tak berdasar sama sekali, hanya didasarkan pada khayalan DPP 
PDS yang penuh dengan semangat kebencian dan antiislam. Dalam kenyataan, 
boleh ditanyakan kepada seluruh umat Islam, apakah mereka shalat menyembah 
Ka'bah? Tak satupun orang Islam yang shalat menyembah Ka'bah. Salah satu 
syarat diterimanya shalat adalah Ikhlas, yaitu beribadah kepada Allah 
secara murni tanpa ada tujuan lain sedikit pun. Umat Islam bukan menyembah 
Ka'bah, tapi menyembah Tuhan pemilik Ka'bah tersebut, sesuai dengan 
perintah Allah SWT: "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah 
ini (Ka'bah)" (Qs. Al-Quraisy 3).

DPP PDS harus bisa membedakan makna "arah" dan "tujuan". Ka'bah adalah 
kiblat atau arah menghadap bagi umat Islam dalam ibadah ritual shalat. 
Harus digarisbawahi, hanya sebagai arah, bukan sebagai tujuan ibadah dan 
penyembahan. Umat Islam tidak pernah dan tidak akan menyembah apapun 
selain Allah SWT. Umat Islam melakukan shalat menghadap kiblat itu pun 
dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT yang telah memerintahkan umat-Nya 
untuk melakukan itu (Qs. Al-Baqarah 144).

Kiblat ke Ka'bah dalam shalat hanyalah arah yang ditentukan Allah sebagai 
pusat persatuan. Jika arah shalat umat Islam tidak ditentukan, maka akan 
terjadi kacau-balau. Sebagian ada yang menghadap ke barat, yang lain ke 
timur, ke selatan, ke utara, dan sebagainya. Untuk 
mempersatukan/menyeragamkan umat dalam beribadah kepada Allah SWT, maka 
umat Islam di manapun tinggal, diwajibkan menghadap ke satu arah yang sama 
yaitu kiblat ke Ka'bah.

Ada banyak fakta dan data yang secara otomatis membantah tudingan DPP PDS 
bahwa umat Islam menyembah Ka'bah:

Pertama, ika ada umat Islam berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui 
arahnya, atau sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya 
berkelok-kelok, maka mereka boleh melakukan shalat dengan menghadap ke 
arah mana saja. Karena Allah berfirman: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan 
barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. 
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Qs. 
Al-Baqarah 115).

Kedua, tahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan 
disembunyikan oleh kaum Syi'ah golongan Ismailiyah Qarmathi. Apakah dengan 
hilangnya batu itu lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi 
karena hajar aswad sudah tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun 
selama 21 tahun itu umat Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat 
Islam itu shalat menyembah hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka 
libur shalat. Tapi nyatanya tidak. Umat Islam tetap shalat menghadap 
kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak, karena esensi mereka ialah 
mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan menyembah batu.

Ketiga, setelah batu hitam itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah 
tidak utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai 
berkurang. Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan 
antara batu hitam yang asli dengan yang imitasi. Tetapi anda lihat, apakah 
umat Islam heboh karena itu? Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang 
disembah oleh umat Islam itu bukanlah batu tetapi Allah SWT. Batu boleh 
rusak dan hilang tetapi Allah (Tuhan mereka) tetap ada dan kekal sampai 
selama-lamanya.

Keempat pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri di atas 
Ka'bah ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Sampai saat ini, 
bila para petugas juga naik dan berdiri di atas Ka'bah untuk mengganti 
Kisywah (kain kelambu penutup) Ka'bah. Ini juga bukti nyata bahwa tak 
seorang pun umat Islam yang menyembah Ka'bah. Andai kata mereka menganggap 
Ka'bah sebagai tuhan yang disembah, mana mungkin mereka berani naik, 
berdiri dan menginjak-injak Ka'bah? 

Tuduhan memmber Kristen yang menamakan diri DPP PDS, bahwa umat Islam 
melakukan shalat untuk menyembah batu, betul-betul konyol dan tidak 
bermutu. Banyak sekali fakta-fakta yang secara otomatis dapat mematahkan 
hujatan dalam website resmi PDS itu. Antara lain:

Pertama,
jika berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui arah mata anginnya, 
atau sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya berkelok-kelok, maka 
umat Islam boleh melakukan shalat dengan menghadap ke arah mana saja. 
Karena Allah berfirman:

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap 
di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi 
Maha Mengetahui” (Qs. Al-Baqarah 115).

Kedua, tahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan 
disembunyikan oleh kaum Syi’ah golongan Ismailiyah Qarmathi. Apakah dengan 
hilangnya batu itu lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi 
karena hajar aswad sudah tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun 
selama 21 tahun itu umat Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat 
Islam itu shalat menyembah hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka 
libur shalat. Tapi nyatanya tidak. Umat Islam tetap shalat menghadap 
kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak, karena esensi mereka ialah 
mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan menyembah batu.

Ketiga, setelah hajar aswad itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah 
tidak utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai 
berkurang. Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan 
antara batu hitam yang asli dengan yang imitasi. Apakah umat Islam heboh 
karena itu? Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang disembah oleh umat 
Islam itu bukanlah batu tetapi Allah SWT. Batu boleh rusak dan hilang, 
tetapi Allah tetap ada dan kekal sampai selama-lamanya. Inilah bukti bahwa 
Allah bukan batu, dan batu tidak sama dengan Allah.

Keempat, dahulu pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri 
di atas Ka’bah ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Mereka 
melakukan itu lima kali sehari. Rasulullah tak pernah menegur maupun 
melarangnya. Jika Ka’bah adalah Tuhan yang disembah oleh umat Islam, mana 
mungkin para shahabat ketika itu berani menginjak-injak Tuhannya?

Kelima, Sampai saat ini, para petugas juga naik dan berdiri di atas Ka’bah 
ketika mengganti Kisywah (kain kelambu penutup Ka’bah). Ini juga bukti 
nyata bahwa sampai saat ini dan sampai kapan saja tak seorang pun umat 
Islam yang menyembah Ka’bah. Andai kata mereka menganggap Ka’bah sebagai 
tuhan yang disembah, mana mungkin mereka berani naik, berdiri dan 
menginjak Ka’bah?

Keenam, ketika thawaf dengan menunggang seekor unta, Rasulullah SAW pernah 
tidak mencium hajar Aswad, melainkan menyentuhnya dengan tongkat beliau. 
(HR. Bukhari juz 2 nomor 677). Jika Nabi pada waktu hidupnya menyembah 
hajar aswad, mana mungkin beliau berani menyentuh Tuhannya dengan sebuah 
tongkat sambil duduk di atas unta? Teladan Nabi ini membuktikan bahwa 
beliau tidak menyembah hajar aswad.

Menghadap ka'bah ketika shalat, bukan berarti umat Islam menyembah ka’bah 
tersebut. Mereka melakukan ini semata-mata menjalankan aturan ibadah yang 
diperintahkan oleh Tuhannya (Qs. Al-Baqarah 144). Jadi, esensi qiblat umat 
Islam ketika shalat bukan karena batu hitam, melainkan ketundukan dan 
kepasrahan kepada Tuhan.

Ketundukan ini pula yang telah dilakukan oleh shahabat Umar RA ketika 
haji. Dalam hadits shahih dikisahkan bahwa beliau datang mendekati Hajar 
Aswad (batu hitam) lalu dia menciumnya dan berkata: “Sesungguhnya aku tahu 
bahwa engkau ini batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak pula 
mendatangkan manfaat. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka 
aku tidak akan menciummu pula” (HR Bukhari dari Abis bin Rabi’ah RA).

Kemudian oknum DPP PDS yang miskin bahasa itu melanjutkan hujatannya: 
“Apakah masuk di akal bahwa Allah yang adalah pencipta langit dan bumi 
beserta isinya, baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, mempunyai 
RUMAH atau BAIT di dunia ini?... Yang benar adalah Alkitab, bahwa Allah 
tidak punya rumah di dunia ini...”

Sepenggal tulisan ini membuktikan bahwa oknum DPP PDS itu tidak memahami 
agama, baik agama Islam maupun Kristen. Bila memiliki wawasan yang cukup 
tentang kitab suci, dia tidak akan sesemberono itu. Sebab istilah 
Baitullah (rumah Allah) atau Bethel, bukan berarti rumah tempat tinggalnya 
Allah.

Istilah ini sebetulnya bukan monopoli Islam, karena sudah akrab dalam 
bahasa teologi para Nabi dan Rasul. Dalam Bibel sering disebut-sebut 
istilah “Bait Allah.”

“Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam 
rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan 
Engkau” (Mazmur 5:8).

“Dengarlah kiranya akan seru doaku apabila aku berteriak kepada-Mu, 
apabila aku menadahkan tanganku ke tempat kaabah-Mu yang suci itu” (Mazmur 
28:2, TL).

Dalam Matius 21:12 diceritakan bahwa Yesus mensucikan Bait Allah. Injil 
Matius 24:1 menceritakan Yesus keluar dari Bait Allah.

“Bait Allah” atau rumah Allah adalah istilah metafora. Apabila istilah ini 
diartikan sebagai rumah tempat tinggalnya Tuhan dalam arti hakiki, lalu 
diartikan apa ayat Bibel di bawah ini, yang menyatakan bahwa manusia 
adalah Bait Allah?

“Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam 
dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakah Bait Allah, maka Allah akan 
membinasakan dia. Sebab Bait Allah itu kudus dan Bait Allah itu ialah 
kamu” (I Korintus 3: 16-17).

Jika pisau analisa DPP PDS itu dipakai untuk menafsirkan ayat di atas, 
maka berarti bahwa rumah tempat tinggalnya Tuhan adalah manusia. Jika 
manusia meninggal dunia semua, maka rumah Tuhan akan binasa. Lalu apakah 
Tuhan kemudian tidak punya rumah?

Persoalan kiblat dalam ibadah sebetulnya bukan suatu keanehan. Sebab para 
nabi dan rasul sebelum Muhammad SAW pun telah mengamalkannya. Mereka 
berkiblat ke arah tertentu sesuai dengan ketetapan Allah. Perjanjian Lama 
menyebutkan para nabi terdahulu berkiblat ke Yerusalem. Tiga kali sehari 
mereka berlutut, berdoa serta memuji Tuhan menghadap Yerusalem. Dalam 
Alkitab terjemahan lama, istilah “Baitullah” diterjemahkan menjadi 
“kaabah” Tuhan.

“Tetapi akan Daniel, jikalau diketahuinya akan hal surat itu sudah 
dimeteraikan oleh baginda sekalipun, masuklah juga ia ke dalam rumahnya, 
yang pada alayatnya adalah tingkap-tingkap terbuka ke kiblat Yeruzalem dan 
pada sehari tiga kali bertelutlah ia dan meminta doa dan mengucap syukur 
kepada Allahnya, seperti biasa dibuatnya dahulu” (Daniel 6:11, TL).

“Maka oleh karena kaabah-Mu yang di Yeruzalem segala raja akan 
menyampaikan persembahan kepadamu” (Mazmur 68:30, TL). “Maka kataku: Bahwa 
aku sudah dibuang dari hadapan mata-Mu; kendatilah aku juga akan memandang 
pula kaabah kesucian-Mu”(Yunus 2:4, TL).

Meski para nabi itu berkiblat ke Yerusalem, tetapi Yesus tidak pernah 
menuduh mereka telah menyembah Yerusalem, bukan? Seharusnya, oknum DPP PDS 
ini mengikuti jejak Yesus, dengan tidak menuduh umat Islam menyembah 
Kabah. (timfakta-malang/majalahtabligh)

http://muhammadiyah-tabligh.or.id 

http://kristolog.blogspot.com/

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke