http://www.antara.co.id/arc/2007/10/25/telaah--43-tahun-nuklir-indonesia/



*Telaah - 43 Tahun Nuklir Indonesia*

Oleh Adjar Irawan S Hidayat

Jakarta (ANTARA News) - Bulan ini, 43 tahun lalu, bangsa ini mulai berbicara
tentang reaktor nuklir, terhitung sejak "criticality-experiment" terhadap
reaktor nuklir pertama Triga Mark II di Bandung berhasil dilakukan dengan
baik.

Pemimpin percobaan Djali Ahimsa menulis dalam "log-book" tertanggal 16
Oktober 1964 : 18.37,5?, predict 57,5 critical.

Catatan itu menunjukkan bahwa pada jam tersebut sebanyak 57,5 batang elemen
bakar nuklir (berisi 2,3 kg U-235) telah dipancingkan ke dalam teras reaktor
dan pada kondisi itu reaksi inti yang berkesinambungan tepat sudah bisa
terjadi.

Besaran 2,3 kg U-235 disebut bobot-kritis. Kritis di sini tidak ada
kaitannya dengan bahaya.

Jauh hari kemudian, kepala proyek pembangunan reaktor Triga, Djali Ahimsa,
menjadi Dirjen Batan.

Ketika itu, para pakar yang terlibat bersorak gembira dan lega.

Keesokan harinya, 17 Oktober 1964, koran daerah Harian Karya memberitakan
soal kedatangan abad nuklir.

Sedangkan Radio Australia menyiarkan berita keesokan harinya "Indonesia
mampu membuat reaktor atom". Berita ini disusul dengan ulasan dua menit oleh
"stringer" AK Jacoby yang menulis : Indonesia masuk abad nuklir.

Bersama 11 unit yang lain, reaktor jenis riset-reaktor ini (tipe Mark I dan
Mark II) buatan General Atomic Mark II merupakan hibah dari pemerintah AS,
awal 1960-an, kepada ke Vietnam, Korsel, Italia, Austria, Jepang, dan
Indonesia seharga 350.000 dolar AS per unit. Kegunaannya untuk pelatihan,
riset, produksi radio isotop.

Sekitar 25 tahun kemudian semua reaktor hibah tersebut telah dihentikan
operasinya (decommissioning) karena sudah mencapai batas usia operasi,
kecuali reaktor milik Indonesia, karena komponen-komponen utamanya telah
diganti dengan membongkar reaktor kemudian memasang kembali dengan komponen
baru sebanyak dua kali.

Pembongkaran pertama pada 1972 dipimpin Sutaryo Supadi dan pada 1997
dipimpin Haryoto Djoyosudibyo dan A. Hanafiah.

Pengawasan dilakukan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) atas
segala sesuatunya, terutama neraca pemakaian dan keluar masuknya U-235.

Reaktor tipe itu, sebagaimana reaktor-riset lain pada umumnya, tidak mungkin
meledak karena elemen-bakar U-235 konsentrasinya hanya 20 persen, sedang
untuk bom perlu 98 persen. Jadi elemen-bakar kedua instalasi nuklir itu
berbeda.

Lagi pula elemen bakar U-235 disenyawakan dengan "zirconium-hidrida" yang
berubah menjadi bukan bahan bakar secara seketika, begitu temperatur terlalu
tinggi sebelum meledak (negative prompt reactivity coeffisien).

Reaktor yang bekerja selalu menghasilkan panas dan netron. Panas bisa diubah
menjadi energi listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), sedangkan
partikel netron untuk membuat "radioisotope" dengan cara menumbukkan kepada
suatu zat kimia biasa menjadi zat radioaktif.

Kini Kepala Pusat Instalasi Nuklir di bawah naungan Batan ini dipimpin oleh
Djatmoko M.Sc yang menyatakan sejauh ini tidak ada kecelakaan atau insiden
nuklir, kecuali beberapa kali anomali yang sama sekali tidak membahayakan
personel, termasuk pada waktu bongkar pasang reaktor dengan penggantian
komponen-koponen utama (tangki, reflector, bellow, Lazy Susan, batang
kendali, dan elemen-bakar).


Aplikasi radioisotope

Para pakar telah mempelopori aplikasi "radioisotope" yang dihasilkan untuk
penelitian hidrologi, seperti terhadap kebocoran tanggul Waduk Darma
Kuningan (1967), penelitian gerakan sedimen Pelabuhan Tanjung Priok (1972),
kedokteran nuklir (1970), pertanian (1969), dan industri (1968) dan kini
telah mencapai jumlah puluhan proyek lainnya.

Pengiriman zat radioaktif juga pernah dilakukan ke Malaysia (1971) dan
Singapura (1972) untuk penelitian. Pengiriman ini mempelopori ekspor zat
hasil teknologi tinggi ini (Molybdenum) ke Malaysia sejak 15 tahun lalu, ke
Vietnam, Thailand, bahkan Jepang sebagai hasil produksi Reaktor GA Siwabessy
di Serpong buatan RFJ (reaktor riset ketiga) oleh PT Batantek (dipimpin oleh
almarhum Bustomi dan Mulyanto).

Ratusan mahasiswa telah memanfaatkan reaktor Triga sebagai objek atau subjek
tugas akhir. Reaktor telah beroperasi lebih dari seratus ribu jam.

Belasan senyawa "radioisotope" yang dibakukan telah dihasilkan. Satu di
antaranya "Iodium-Hipuran" telah dipergunakan untuk diagnosa ginjal
(renogram) terhadap ratusan pasien di delapan 8 Klinik Kedokteran Nuklir.

Kepercayaan IAEA kepada pakar Triga dibuktikan dengan belasan kontrak riset
yang diberikan, dimulai riset tentang "tritium" atas nama Prof. Oei Ban
Liang (1973) dan penyelenggaraan beberapa kali pertemuan ilmiah
internasional serta penulisan hasil penelitian diberbagai jurnal fisika,
kimia, dan biologi internasional.

Pengalaman mengganti komponen utama reaktor tersebut menjadi pelajaran untuk
membangun reaktor nuklir sendiri, baik disain maupun konstruksinya seperti
reaktor Kartini (1979) di Yogyakarta yang dipimpin Iyos R. Subki dan Suroto
Ronodirjo (alm).

Pengalamam itu juga menjadi pelajaran dalam merencanakan membangun sebuah
reaktor khusus hanya untuk produksi "radioisotope" yang semua komponennya
merupakan hasil industri dalam negeri (kecuali peralatan kontrol elektronik
dan elemen bakar uranium).

Pendidikan khusus pakar ke Inggris telah siap tahun 1994, tetapi tidak dapat
dilaksanakan karena tidak ada dana. Studi kelayakan penjualan "radioisotope"
melalui agen internasional di Inggris dan Kanada telah rampung dan impas
dicapai dalam 6-7 tahun.

Sebagai pemerhati nuklir yang pernah berkecimpung dalam perkembangan tenaga
nuklir selama 20 tahun (1960-1980) dan mengamati di sana-sini
perkembangannya termasuk kontroversi pembangunan PLTN sampai kini.

Dari pengamatan itu bisa disimpulkan bahwa tanpa niat, keberanian dan tekad
bulat, bangsa Indonesia yang masih awam dan minim tenaga ahli reaktor pada
waktu menginstalasi reaktor pertama Triga Mark II di Bandung awal tahun
1960-an tidak akan berhasil mencapai sasaran.

Demikian juga jikalau pemerintah dan parlemen, misalnya, memutuskan akan
membangun PLTN, maka tekad bulat dan keberanian yang diperhitungkan harus
dipegang teguh, bersatu-padu.

"Rawe-rawe rantas, malang-malang putung".


*) Adjar Irawan S Hidayat, pemerhati nuklir, alumni Fisika ITB tahun 1967,
operator angkatan pertama reaktor Triga Mark II tahun 1964, dan Ketua
Asosiasi PBB Indonesia (United Nations Association in Indonesia) sejak
1973-sekarang. Dia juga peraih Piagam Pembawa Pesan Perdamaian (Peace
Messenger) PBB tahun 1994. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke