Beste Tossi,

Sepertinya ungkapan Anda adalah reaksi atas email animasi, yang super
kreatif: "Visit MALingSIA 2007"

TOSSI:
"Makin seru "kita" menuduh Malaysia maling, makin terjebak kita ke dalam
kemunafikan. Saya khawatir itulah yang kini terjadi."


YHG:
Selama bisa membedakan mana kebenaran yang utuh dan sesungguihnya, kenapa 
harus takut terjebak dalam kemunafikan?
Apakah kejujuran sebelah (partial) bukan Kemunafikan?
Apakah pembentukan opini publik yang dijadikan fakta, bukan Kemunafikan?


Mari saya tunjukan fakta Kemunafikan yang sesungguhnya:

* Quote:
The Australian Labor government shared the concerns of the United States
about the need to retain regional "stability" in the wake of the Vietnam
debacle.
In meetings with Suharto in 1974 and 1975, Prime Minister Gough Whitlam
offered Australian support for the incorporation of East Timor into
Indonesia.
Besides the wider geo-political concerns, the Australian government also
had specific economic interests at stake. These centred on the discovery
and exploitation of oil-an issue that was to assume crucial importance in
the period following the quadrupling of world oil prices by the OPEC
organisation in 1973-74.---End quote.


* Quote:
In 1975, the then Labor prime minister Gough Whitlam agreed with the
dictator Suharto, in effect, to look the other way while the Indonesians
annexed the Portuguese colony. Three months prior to the invasion, the
Australian ambassador to Jakarta, Richard Woolcott, sent this cable to
Canberra: "It would seem to me that [the] Department [of Minerals and
Energy] might well have an interest in closing the present gap in the agreed
sea border, and this could be much more readily negotiated with Indonesia
than with Portugal, or with independent Portuguese Timor. I know I am
recommending a pragmatic rather than a principled stand, but that is what
national interest and foreign policy is all about." In other words: if we
back Suharto, we'll get East Timor's oil and gas fields, the seventh largest
on earth.---End quote.


* Quote:
One of the nauseating moments of the East Timor tragedy was in 1989, when
Gareth Evans, the then Australian foreign minister, raised his champagne
glass to his Indonesian equivalent, Ali Alatas, as they flew over the Timor
Sea in an Australian aircraft, having signed the Timor Gap Treaty.---End
Quote.


Quote:
According to the account of events provided to Australian journalist John
Pilger by Philip Liechty, the CIA desk officer at the time: "[Ford and
Kissinger] came and gave Suharto the green light. The invasion was delayed
for two days so they could get the hell out. We were ordered to give the
Indonesians everything they wanted, and US arms were shipped straight to
East Timor without Congress knowing. I saw all the hard evidence; the place
was a free fire zone ... and all because we didn't want some little country
being neutral or leftist at the UN."
Subsequent testimony before the US Congress revealed that 90 percent of
the weapons used by the Indonesian military in the invasion had been 
supplied
by the US.
In January 1976, a US State Department official told the Australian
newspaper that "in terms of the bilateral relations between the US and
Indonesia, we are more or less condoning the incursion into East Timor ...
The United States wants to keep its relations with Indonesia close and
friendly. We regard Indonesia as a friendly, non-aligned nation-a nation we
do a lot of business with."---End quote.



TOSSI:
Kan "kita" (negara kita) mencuri wilayah, kekayaan bumi alam, bahkan nyawa
ratusan ribu rakyat tetangga lain, yaitu bangsa Timor Leste.
Sekarang malah kita mencuri keadilan dari tangan para korban TimTim lewat
impunitas dan KKP (Komite Bersama RI-Timor Leste untuk Kebenaran dan
Persahabatan)


YHG:
Mencuri wilayah dari siapa?
Dari Portugal, yang kabur meninggalkan belasan ribu pucuk senjata, agar
rakyat Timtim bisa melangsungkan perang saudara dan saling menghabisi?
Dari (sisa) rakyat Timor Timur yang berhasil keluar dari perang saudara, di
Kamp Pengungsian, di Ruman Sakit, Rehabilitasi Cacat Tubuh?
Ataukah dari para milisia Fretilin Komunis yang membantai rakyat Timtim
sendiri?



Jangan pernah lupa bahwa investasi RI di Timor Tiumur besar sekali, bahkan 
relatif lebih besar dari pembangunan wilayah lainnya.
Seperti halnya di Angola, tahun 1975 Portugal meninggalkan Timtim seperti 
kondisi diawal abad ke-20.
Juga mental dari mayoritas penduduk Timtim mandhek dijaman Kolonial, kecuali 
segelintir kalangan Indo-Portu berpendidikan lumayan.

Adalah pemerintah yang membangun jalan-jalan, sarana dan pra-sarana 
infrastruktur, Rumah Sakit, Universitas, SD-SMU dan Puskesmas sampai di 
desa-desa.
Memberikan bea-siswa bagi generasi mudanya untuk bisa mengikuti kuliah di 
Bali, Surabaya, Jogja dan Jakarta.
Orang-orang yang sekarang duduk dalam jajaran dan pucuk pemerintahan Timor 
Lorosae, umumnya adalah "produk" kebijakan RI.


Komite Bersama RI-Timor Leste untuk Kebenaran dan Persahabatan (KKP),
Banyak pihak yang ketakutan bahwa pengungkapan kesaksian dihadapan KKP, akan 
mengungkapkan "the other side of the truth", akan merubah opini publik 
dunia, yang selama ini yang dicekoki (brainwash) dengan "kebenaran" yang 
parsial.

Elit politik di Timor Leste, dari mulai Xanana Gusmao sampai dengan Ramos 
Horta, mereka menghendaki rekonsiliasi, dengan KKP ini tentunya diharapkan 
hubungan rakyat kedua bangsa akan lebih baik.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/28/Politikhukum/3872370.htm
Jumat, 28 September 2007
KKP Tetap Junjung Mandat
Komisioner Sering Beda Pendapat
M Hernowo

Quote:
Atas sikap Sekretariat Jenderal PBB ini, Perdana Menteri Timor Leste Xanana 
Gusmao, Senin, menyatakan, Indonesia dan Timor Leste adalah negara 
berdaulat. Dengan demikian, penyelesaian berbagai masalah yang ada di antara 
mereka sebaiknya diserahkan kepada kedua negara.---End quote.


Saya kira sikap statement negarawan besar seperti Xanana Gusmao, menutup 
segala spekulasi, apriori, serta upaya-upaya provokasi dan adu domba, untuk 
menggagalkan misi Rekonsiliasi rakyat Timor Leste dan rakyat Indonesia.


Bicara mengenai korban konflik, pada awal perang saudara sebenarnya sudah 
banyak jatuh korban dari kedua belah pihak, yang kemudian berlanjut dalam 
masa perang selanjutnya.
Korban dari sisi TNI juga banyak sekali. Kalau ke Jakarta nanti, tolong 
mampir ke Bekasi; "Kampung Seroja", mereka adalah sebagian korban cacat 
fisik dan mental yang masih hidup.
Saya ada beberapa teman, putra-putri para pahlawan dan korban Seroja, yang 
bisa menjadi "tour guide" Anda.

Kalau meluangkan waktu untuk mewawancarai para korban, kemudian menulisnya 
secara jujur dari sisi "the either side of the truth", saya yakin buku 
tersebut akan meledak sebagai "best seller'.



Malaysia: "Truly - Maling - Asia"
Wassalam, yhg.
-----------------




(Dari mailing list tetangga:)
Makin seru "kita" menuduh Malaysia maling, makin terjebak kita ke dalam
kemunafikan. Saya khawatir itulah yang kini terjadi.

Wapres Jusuf Kalla memperingatkan jangan kita jadi "bangsa pemarah",
tapi Kompas (26 Okt), karena tak mau ketinggalan arus, memlintirnya lalu
memasang judul "Wapres: Malaysia Anggap Enteng Indonesia". Bahkan mantan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan daoed Joesoef yang mengaku "pengamat
hubungan Indonesia-Malaysia" secara sarkastis menuding Malaysia "Menohok
Kawan Seiring" (Suara Pembaruan 16 okt), lantas memvonnis: "Kalo Ente
niat jual, Ane bakal beli".

MBM TEMPO (22 Okt) ternyata paling santun, pasang sisi kedua kubu,
dengan konteks ragam masalah (bukan sekadar soal "Rasa Sayange"), lalu
secara cukup adil bertanya dari sudut Indonesia "Encik Maunya Apa".
Jangan tanya siapa paling kasar dalam percaturan sebangsa tentang dua
bangsa-serumpun ini. Hampir semua posting di dunia maya (kecuali Adhie
Massardi dan segelintir lain) menjurus ke jingoisme Indonesia yang
merendahkan martabat bangsa tetangga.

Saya harus menyimpulkan rupanya kita amat berobsesi kedaulatan dan
kepemilikan ketimbang keserumpunan dan kebersamaan. Saya tak akan
membantah gejala semacam pengoperan, pinjam tanpa bilang, penyontekkan,
tapi ... pencurian? This is serious. Padahal Malaysia tak pernah
mengklaim hak cipta tsb, mereka hanya mengklaim telah menggalinya dari
khasanah peradaban Melayu, which is partly ours too (notabene!). Tepat
bahwa Deplu RI tak mau menanggapi karena tak ada gejala pencurian.
Malaysia adalah negara hukum yang serius, Indonesia juga negara hukum,
at least ngakunya begitu. Jangan lupa Malaysia adalah negara yang
penjajahnya menanamkan "law and order", sedangkan Indonesia, celakanya,
mewarisi motto hukum politik kolonial Belanda "rust en orde"
(ketenteraman dan keteriban)... (pantaslah dari situ kelak lahir Orde
Baru, Kopkamtib dan kamtibnas?!)

Saya membela Malaysia? Eh, ntar dulu. Cerita di atas, dengan kata lain,
mengatakan bahwa isu Rasa Sayange, Jali Jali dan sejenisnya yang
melahirkan tudingan "Malingsia" itu, sesungguhnya harus kembali ke
akarnya perbedaan yaitu nation states Indonesia dan Malaysia itu berbeda
riwayat namun berbagi peradaban. Dalam mailing list jurnalisme ini saya
pernah mengingatkan akan lebih adil apabila kita berpaling ke soal
berbagi peradaban. (Seingat saya waktu itu hanya sdri. Sirikit yang
menanggapi, dan secara cukup fair, trims).

Kita lupa kebangetan, bahkan tak peduli bahwa sebagian akar, bahkan
penduduk dan tokoh Malaysia berasal dari Indonesia, dari Nusantara
tepatnya. Kita lupa, sementara kerajaan kerajaan kita banyak yang jaya
lalu karam (Majapahit, Sriwijaya), sebaliknya dalam hal Malaysia, kita
lupa kawasan ini mengenal dua pukulan amat telak yang tak pernah dialami
kerajaan atau peradaban Nusantara lainnya yang sekarang menjadi
Indonesia itu. Yaitu di Kesultanan Johor terjadi banjir darah yang
membuat Sultan Mahmud tewas (lebih hebat ketimbang kudeta istana di
Nepal tempo hari), dan sejak itu membuat peradaban Melayu di sana
merosot hebat. Bayangkan semacam Mataram atau Samudera Pasai mengalami
semacam itu lalu kerajaannya dan terutama kenangan kolektifnya sirna
samasekali dari sejarah.

Lalu pukulan kedua bagi dunia melayu adalah Portugis merebut pusat
dagang Asia, Malaka, pada 1511. Kedua pukulan itu, Johor dan Penang,
membuat peradaban Melayu terpukul berat, maka pantaslah peluang
kebangkitan baru lahir sejak daerah tsb menjadi satu nation state
sendiri, Malaysia. Seharusnya kita belajar dari sini. Indonesia tak
mengalami semacam itu, bahkan, bersama Vietnam, menjadi pelopor
nasionalisme anti penjajahan - notabene nasionalisme yang dipelajari dan
ditiru oleh Filipina dan Malaysia. Tapi kita sekarang masih sibuk
bergulat mendadani nation state yang diguncang pemberontakan Aceh dan
Papua, namun pernah mencaplok Timor Timur - semua itu notabene secara
amat berdarah.

Betapa munafik, bukan?

Penutup: kita (sorry, kalian) menuduh Malaysia itu "maling". Lantas
bagaimana dengan kita (ya negara kita plus opini publiknya)? Kan "kita"
(negara kita) mencuri wilayah, kekayaan bumi alam, bahkan nyawa ratusan
ribu rakyat tetangga lain, yaitu bangsa Timor Leste. Sekarang malah kita
mencuri keadilan dari tangan para korban TimTim lewat impunitas dan KKP
(Komite Bersama RI-Timor Leste untuk Kebenaran dan Persahabatan). Kita
marah karena orang Malaysia bilang "Indon", tapi orang Timor Leste biasa
biasa aja ketika kita bilang mereka itu orang orang "Leste", bukan?

Wow, Indonesia ... munafik-sia? I hate to say this. Tapi mendingan kita
berjujur, ketimbang munafik, lantas sesat...

Terima kasih atas perhatian,
tabik,
Tossi AS 

Kirim email ke