Sungguh.. aku jadi terharu, membaca tulisan ini..
Semoga tulisan ini, dapat membuahkan hasil indah untuk kemajuan bangsa,
serta kemakmuran rakyat di segala lapisan masyarakat..

Ada keharuan lain yg aku rasakan, setiap hari di atas metromini,
kendaraan umum di jakarta, pagi dan sore, sarana yg setia mengantarkan
untuk pergi dan pulang kerja, sekarang ini pengemudi dan kernetnya
kebanyakan adalah anak2 muda, sepantasnya usia mereka itu dinikmati
untuk mencari ilmu pun sebisanya melanglang buana, tapi keberuntungan
belum ada di pihak anak2 muda pengemudi dan kernet metromini ini..
karena pada kehidupan nyata, mereka harus berjuang untuk dapat bertahan
hidup..

Setelah membaca tulisan ini..

Ada harapan, generasi muda yg saat ini masih belajar di luar negeri,
suatu hari kelak, pulang kembali ke negeri tercinta untuk bersatu dan
bersama-sama membangun demi bangsa ini..

Mudah2an.. kesejahteraan akan segera terwujud.. di negeri ini..

Amin ya Robbal'alamin..

GOD BLESS INDONESIA


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Pan Mohamad Faiz
Sent: Monday, October 29, 2007 12:38 PM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; 'Berly Martawardaya';
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [ppiindia] Membangun Kepemimpinan Pemuda di Luar Negeri

Dear all, 
 
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-79. Semoga peran dan kontribusi kita
sebagai pemuda dapat terus ditingkatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan
bangsa dan negara di manapun kita berada. Sudah siap dan mampukah kita
memimpin?
 
Salam,
 
Pan Mohamad Faiz
New Delhi
 
PS: Jika artikel ini dirasa bermanfaat, rekan-rekan dipersilahkan untuk
meneruskannya kepada kawan-kawan PPI lainnya di negara masing-masing.
Salam Persatuan. Jayalah Indonesia!
 
---
 
Opini 

Membangun Kepemimpinan Pemuda di Luar Negeri
Oleh : Pan Mohamad Faiz 

27-Okt-2007, 19:44:29 WIB - [www.kabarindonesia.com]


KabarIndonesia - Sebagai aktor sosial perubahan, pemuda bukan saja
menyandang status sebagai pemimpin masa depan, tetapi juga sebagai
tulang punggung bangsa dalam mengisi pembangunan. Hal ini sejalan dengan
tema peringatan Hari Pemuda Internasional 2007 yaitu "Youth
Participation for Development".

Pada tahun 1928, para pemuda Indonesia dari beragam latar belakang suku,
agama dan bahasa membulatkan tekad demi menggalang persatuan bangsa guna
berjuang melawan penindasan kaum kolonialis. Sejak saat itu pula, setiap
tanggal 28 Oktober kita memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Manifesto yang tertanam sejak 79 tahun yang lalu ini telah berulang kali
memberikan andil besar terhadap arah dan semangat pergerakan pemuda
dalam menyelamatkan Indonesia dari jurang kehancuran. Oleh sebab itu,
goresan sejarah Indonesia tidak akan pernah luput dari lembaran sejarah
kepemudaannya (Benedict Anderson, 1990).

Dalam tulisan berikut, penulis mengajak untuk melakukan refleksi sejenak
terhadap signifikansi dan peran pemuda yang selama ini sangat jarang
disoroti dan digarap secara serius oleh banyak pihak, yaitu terhadap
aset intelektual muda yang terserak di luar negeri.

Berbeda dengan masa pra kemerdekaan, para pemuda Indonesia kini telah
tersebar di lima benua dan puluhan negara yang terbentang dari
timur-barat hingga utara-selatan dunia. Walaupun belum terdapat data
empirik terhadap penyebarannya, berdasarkan hasil penelusuran penulis,
setidaknya saat ini terdapat lebih dari 20.000 pemuda dan mahasiswa
Indonesia di Australia, 26.000 di Malaysia, 5.000 di Mesir, 1.500 di
Jepang, 13.000 di Amerika Serikat, 3.000 di Inggris, dan puluhan ribu
lainnya di berbagai negara Eropa dan Afrika. Namun disayangkan, angka
yang sangat menjanjikan ini belum dapat teroptimalkan dalam rangka
mendukung pembangunan bangsa yang berkelanjutan.


Kepemimpinan Internasional

Corak pergerakan pemuda setelah tahun 1928, khususnya pasca kemerdekaan,
mempunyai tantangan yang berbeda dengan pergerakan yang diusung sebelum
tahun 1928. Pergerakan pemuda pada era globalisasi ini menghadapi
tantangan yang justru semakin kompleks. 

Selain perjuangan untuk memberangus KKN dan menegakkan nilai-nilai
demokrasi serta HAM, tidak kalah pentingnya yaitu menggalang kekuatan
guna menghadapi persaingan ekonomi global, destruksi budaya dan moral
generasi, intervensi kedaulatan bangsa, serta reposisi Indonesia di
tengah-tengah realitas ekonomi dan politik internasional. Tantangan
seperti tersebut di akhir inilah yang belum menjadi isu stategis dari
gerakan pemuda pada umumnya di tingkat nasional.

Walaupun tantangan yang dihadapi oleh pergerakan pemuda di kedua zaman
tersebut berbeda, akan tetapi berdasarkan sifatnya dapat kita tarik satu
benang merah yang sama. Tantangan global seperti perdagangan bebas dan
hadirnya organisasi keuangan internasional merupakan alat yang dapat
mengusik kedaulatan bangsa yang berujung pada neo-colonialism. Oleh
karenanya, meskipun tampak berbeda, namun apa yang sedang kita hadapi
saat ini masihlah "musuh" yang sama, yaitu penjajahan.

Dengan ketersediaan akses dan sumber informasi yang tidak terbatas,
pemuda Indonesia di luar negeri sudah seyogyanya mengambil peran
signifikan dengan menggalang kepemimpinan internasional guna menghadapi
berbagai tantangan di atas. 

Sebagai kaum intelektual, sudah seharusnya transfer informasi, ilmu
pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui berbagai bentuk dan cara
bagi mereka yang berada di Indonesia. Hal ini sama halnya dengan apa
yang telah dilakukan oleh para intelektual pendahulu kita yang menempuh
pendidikan di Belanda pada masa pra kemerdekaan. Bersama Moh. Hatta
mereka mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia dengan tujuan membangun
basis pendidikan ilmu pengetahuan kepada segenap rakyat Indonesia
(Nicholas Tarling, 1999).

Setiap pemuda Indonesia di mana pun ia berada harus mampu menjadi duta
bangsa pada setiap aspek diplomasi kehidupan, baik itu di bidang
politik, ekonomi, pendidikan, ataupun budaya. Lebih dari itu, setiap
pemuda Indonesia juga harus dapat merevitalisasi peran dan fungsinya
sebagai bagian dari global village guna menghimpun terbentuknya soft
power guna meningkatkan reputasi dan posisi tawar Indonesia di mata
dunia sebagaimana yang telah dinikmati hasilnya oleh Cina, India, dan
Brazil.


Relevansi Sumpah Pemuda

Hal utama yang dibutuhkan untuk membangun kekuatan pemuda di tingkat
internasional adalah kesatuan. Tanpa adanya kesatuan, dalam konsep
Antonio Gramsci, perjuangan menghadapi tantangan terkini akan kandas
diterpa gelombang hegemoni negara-negara besar. Proses terjadinya Sumpah
Pemuda sangatlah relevan untuk dapat kita gunakan sebagai cermin
pembentukan kepemimpinan internasional pemuda Indonesia di masa yang
akan datang.

Pertama, para pemuda dan pelajar Indonesia baik yang bersifat perorangan
maupun yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) atau
organisasi sejenis lainnya dalam satu kawasan dunia yang sama, dapat
mengikatkan dirinya dalam satu jejaring koordinasi awal untuk tahapan
konsolidasi. Hingga saat ini, baru beberapa kawasan saja yang memiliki
jaringan koordinasi demikian, di antaranya yaitu Jejaring PPI se-Eropa,
Badan Koordinasi PPI se-Timur Tengah dan sekitarnya, serta PPI
Australia.

Kedua, jika telah terbentuk jejaring koordinasi awal di masing-masing
kawasan, maka menyatukan seluruh jejaring kawasan yang ada guna
pembentukan kepemimpinan pemuda internasional bukanlah suatu hal yang
mustahil. Sebagai contoh, hampir setiap tahunnya secara resmi negara
Perancis mengadakan Temu Pemuda Internasional (Rencontres
Internationales de Jeunes) guna membahas arah dan kontribusi
mahasiswanya yang tengah berada di seluruh penjuru belahan dunia.

Ketiga, guna menyamakan arah dan gerakan pemuda Indonesia, maka
koordinasi dan komunikasi yang intensif harus selalu dilakukan antara
pemuda di dalam dan di luar negeri. Tanpa adanya koordinasi dan
kerjasama yang harmonis, maka kekuatan pemuda Indonesia tidak akan
terlalu berarti baik pada level nasional maupun internasional.

Keempat, dengan begitu besarnya aset pemuda di luar negeri, Pemerintah
sudah sebaiknya memfasilitasi dan memberikan dukungan penuh demi
terciptanya kepemimpinan pemuda di luar negeri dengan sistem koordinasi
triumvirat yang melibatkan Departemen Pemuda dan Olah Raga, Departemen
Luar Negeri, dan Departemen Pendidikan Nasional.

Tahun 2008 mendatang merupakan waktu yang sangat tepat untuk
mencanangkan Kepemimpinan Pemuda di Luar Negeri sekaligus menancapkan
gelombang keenam Kebangkitan Indonesia. Pasalnya, selain akan memasuki
usia ke-80 untuk peringatan Sumpah Pemuda, pada saat yang bersamaan
bangsa Indonesia juga akan memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan
Nasional.

Apakah ini sebuah mimipi? Iya. Apakah ini mimpi yang tidak mungkin
terjadi? Tidak, ini adalah mimpi yang sangat mungkin terwujud. Martin
Luther pernah mengatakan, "I have a dream today. I have a dream...".
Kemudian, berkat perjuangan dan komitmen bersama, akhirnya mimpi
tersebut berhasil ia raih.

* Pan Mohamad Faiz adalah Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia di
India (PPI-India), salah satu penggagas berdirinya Overseas Indonesian
Student Association Alliance (OISAA), dan mantan aktivis UI. Penulis
dapat dihubungi di http://faizlawjournal.blogspot.com.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



************************************************************************
***
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
************************************************************************
***
________________________________________________________________________
__
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links





Kirim email ke