http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0710/29/081018.htm


*LIPI Lirik Ramalan Gempa Dengan Gelombang Elektromagnetik*

Jakarta, Senin - Penelitian mengenai anomali gelombang elektromagnetik (EM)
berkaitan dengan terjadinya gempa semakin dilirik para ilmuwan geologi dan
geofisika. Meskipun ramalan gempa dengan metode ini belum bisa diterima
sebagai suatu metode ilmiah, berbagai upaya untuk mmanfaatkannya terus
berkembang.

"Tapi sebenarnya sejak 15 tahun penelitian intensif tentang
seismo-electromagnetics ini sudah dilakukan di banyak negara seperti Jepang,
Rusia, Taiwan, China, Yunani, Perancis, Itali, India, Meksiko dan AS, hanya
kemajuannya lambat," kata pakar geofisika LIPI dari Puslit Geoteknologi LIPI
Dr. Djedi S. Widarto, seperti dilaporkan Antara, Jumat (26/10).

Bahkan, lanjut dia, Perancis pada Juni 2004 telah meluncurkan satelit
observasi seismo-electromagnetic (Demeter) atas dasar fakta bahwa gangguan
elektromagnetik dan ionosfer berkaitan dengan terjadinya gempa seringkali
teramati.

Menurut dia, kemunculan anomali medan elektromagnetik itu diduga berkaitan
dengan persiapan pelepasan energi gempa, yang biasanya antara 20 hingga 30
hari untuk sensor pemantauan di daratan.

"Tetapi, untuk sensor di satelit, anomali medan elektromagnetik di ionosfer
terjadi umumnya antara 3 hingga 6 hari sebelum terjadi gempa," katanya.
Dengan kata lain, pada medan elektromagnetik frekuensi ultra rendah
(very-low frequency), anomali muncul 20 hingga 30 hari sebelum gempa dan
untuk medan EM frekuensi tinggi (very-high frequency), kemunculan anomali
itu 3 hingga 6 hari sebelum gempa terjadi.

Namun untuk disebut bahwa anomali gelombang EM bisa dipakai untuk meramal
gempa, menurut dia, terlalu jauh, karena masih harus diuji berdasarkan
kaidah-kaidah ilmiah. Menurut dia, kesuksesan di suatu wilayah tertentu,
belum tentu dapat diperoleh di tempat lainnya karena kondisi geologi dengan
proses dinamikanya berbeda-beda di setiap wilayah.

"Itulah mengapa sangat penting penelitian yang berkontribusi pada pemecahan
dan bagaimana mekanisme fenomena seismo-EM dengan menganalisis data gangguan
geomagnetik, geoelektrik, dan ionosfer pada satelit Demeter ini," katanya.
Apalagi, lanjut dia, Indonesia sebagai negara yang berada di perbatasan
lempeng-lempeng Indoaustralia, Eurasia dan Indopasifik sangat rawan terhadap
kehancuran akibat gempa.

Karena itulah LIPI dan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS)
akan menggelar International Workshop on Seismo-Electromagnetic Phenomena
(IWSEP) di Bandung, 6-8 November 2007 yang akan membahas mengenai kemajuan
dalam bidang seismo-EM di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ini juga
melibatkan tidak saja ilmuwan geofisika padat (solid earth geophysics),
tetapi juga ahli fisika, matematika statistik, dan ilmu-ilmu bahan, serta
ilmuwan sains fisika antariksa (space physics), kata Chairman IWSEP 2007
itu.

Para ahli yang akan berbicara pada workshop tersebut antara lain, Dr.
Katsumi Hattori dari Chiba University, Jepang, Jann-Yenq Liu dari National
Central University, Taiwan, Dr. Jaques Zlotnicki dari CNRS Perancis, Dr.
Birbal Singh dari India, Dr. Dimitar Ouzounov dari Rusia, dan lain-lain.


Sumber: Antara
Penulis: Wah


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke