Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Di tengah-tengah kesibukan kuliah, biasanya saya berusaha mencuri-curi waktu untuk menikmati "refreshment" dengan membaca sejumlah majalah "aneh" yang saya sukai sejak lama, seperti Atlantic Monthly, Harper's, dan The New Yorker. Tadi malam, saya menikmati kesempatan yang sangat istimewa, yaitu menghadiri peringatan 1,5 abad terbitnya majalah Atlantic Monthly di sebuah gereja milik jemaat Unitarian-Universalist di seberang kampus Universitas Harvard (salah satu gereja yang sering dipakai untuk pemberkatan "nikah sesama jenis" di kawasan Massachusetts), yakni First Parish Church. Bagi masyarakat Boston, terutama kalangan yang menyukai pertukaran ide-ide, majalah Atlantic adalah sangat istimewa. Majalah ini terbit pada 1857 di Boston, dan pelan-pelan menjadi semacam "ikon intelektual" bagi masyarakat di kawasan New England. Penggagas awal majalah ini adalah sejumlah "intelektual publik" Amerika terkemuka, seperti penyair Ralph Waldo Emerson, Henry W. Longfellow (yang menjadi nama salah satu jembatan terkenal di sungai Charles), dan James R. Lowell. Ketiga nama ini dikenal dalam sejarah sastra Amerika sebagai tonggak puisi romantik, terutama Emerson. Umumnya, majalah yang menjadi konsumsi kalangan "budayawan" seperti ini terbit di kawasan Manhattan, New York, kota yang sejak awal berdirinya negara Amerika Serikat menjadi "magnet" bagi kalangan yang di Amerika sering disebut sebagai "intelektual publik", seperti The New Yorker, Harper's, atau The New York Review of Book. Majalah Atlantic Monthly adalah satu-satunya yang terbit di luar kota New York, dan salah satu yang tertua di Amerika. Layak sekali kalau majalah ini menjadi kebanggan "warga intelektual" kota Boston. Meskipun kebanggan ini agar sedikit berkurang setelah kantor Atlantic pindah ke Washington DC, sejak dua tahun lalu, karena pegantian kepemilikan. Selama berpuluh-puluh tahun, jurnal Atlantic berkantor di kawasan "down-town" Boston, di 77 North Washington St, dekat Faneuil Hall--sebuah kawasan bersejarah dalam revolusi Amerika. Majalah Atlantic menjadi terkenal karena menebitkan sejumlah artikel yang dikenang sebagai tonggak-tonggak perdebatan gagasan dalam dunia intelektual di Amerika. Di sanalah, sejumlah artikel penting terbit untuk pertama kali, seperti "Letter from Birmingham Jail" tulisan Martin Luther King, Jr., dan artikel sejarawan gaek, Bernard Lewis yang sudah pasti dibaca oleh banyak sarjana Muslim di mana-mana, "The Root of Muslim Rage". Di sana pula, artikel terkenal dari James Fallows, "The Fivety-First State" terbit enam bulan sebelum invasi Amerika ke Irak. Artikel Fallows menjadi terkenal dan dibicarakan banyak kalangan karena merupakan semacam "prophecy" atau ramalan tentang sejumlah dilema dan kesulitan yang akan dihadapi oleh Amerika setelah Irak berhasil diduduki. Malam itu, James Fallows bercerita panjang lebar tentang proses penulisan artikel itu yang memakan waktu berbulan- bulan, melibatkan wawancara dengan ratusan politisi, intelijen, dan kalangan akademik di Washington D.C. Dalam majalah itu pulalah, artikel masyhur dari Robert D. Kaplan terbit pada Februari 1994, "The Coming Anarchy" (yang hendak baca artikel ini, bisa meng-klik link berikut ini: http://dieoff.org/page67.htm). Konon, Presiden Clinton menganjurkan seluruh staf di Gedung Putih agar menjadikan artikel tersebut sebagai bacaan wajib (demikian menurut Robert Vare, editor senior Atlantic and The New Yorker yang malam itu bertindak sebagai moderator). Malam itu, Kaplan datang sebagai pembicara, dan menyampaikan rasa syukur yang tak habis-habisnya kepada pihak Atlantic karena menyediakan ruangan bagi para reporter seperti dirinya untuk menulis reportase yang mendalam, tanpa terjebak dalam kedangkalan reportase media massa pada umumnya. Seluruh artikel terbaik yang pernah muncul di Atlantic dikumpulkan serta diedit oleh Robert Vare, dan terbit dengan judul "The American Idea". Malam itu, di sebuah gereja "liberal" di seberang kampus Univesitas Harvard, buku itu diluncurkan. Sejumlah penulis terkenal yang pernah menulis di Atlantic hadir malam itu: Robert Kaplan, James Fallows, Cullen Murphy, dan Barbara Dafoe Whitehead. Barbara dikenal dengan artikelnya yang menjadi bahan pembicaraan di mana-mana pada tahun 1993, "Dan Quayle was Right". Artikel ini kemudian dilanjutkan dengan sebuah buku yang juga sangat terkenal, "Why There No Good Men Left" yang membahas soal sulitnya perempuan Amerika paska generasi "baby boom" untuk mencari suami yang "pas". Saya kira, buku ini layak dibaca oleh kalangan wartawan yang ingin mencari model-model penulisan dan reportase alternatif--reportase yang merangsang seorang pembaca untuk berpikir, bukan sekedar menambah "cuilan" informasi dalam otaknya. Malam itu, saya hadir bersama Meidyatama Suryodiningrat, Managing Editor koran The Jakarta Post yang saat ini menjadi "fellow" di Weatherhead Centre for International Affairs (sebuah "centre" yang berafiliasi dengan Universitas Harvard). Dalam perjalanan pulang menuju ke stasiun kereta di Harvard Sq, di tengah hujan yang turun tak henti-hentinya sejak sore, saya tak habis menyimpan rasa takjub: bagaimana mungkin sebuah majalah/jurnal terbit selama satu setengah abad, menampung gagasan-gagasan besar yang membentuk sebuah bangsa. Saya berkata dalam hati: seandainya jurnal "Perhimpunan Indonesia" yang diterbitkan oleh Mohammad Hatta di Belanda pada tahun 20an bertahan hingga kini; seandainya jurnal Prisma yang terbit tahun 70an hidup terus hingga sekarang; seandainya, seandainya... Di negeri saya sendiri, jurnal-jurnal ide bertumbangan, berumur pendek, cepat lapuk, persis seperti bangunan tua yang sekarang dirobohkan di mana-mana, digantikan pusat-pusat perbelanjaan yang gemerlap. Sebuah bangsa hidup dan bertahan, antara lain, karena ide, karena pertukaran gagasan, karena eksperimen mental--keyakinan yang saya kira dihayati dengan mendalam oleh Ralph Waldo Emerson, seorang romantik besar. Ulil Abshar-Abdalla Department of Near Eastern Languages and Civilizations Harvard University
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

