Sentuhlah Aku Setelah Kau Bersuci
  Oleh : Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.tk  
   
  Mungkin para pembaca akan punya pikiran yang beraneka ragam ketika membaca 
judul diatas, bahkan bisa jadi ada yang berkata "Emang siapa sih kamu, kok 
sombong amat?!" atau mungkin ada yang berpikiran bahwa penulis sedang 
dikhianati kekasihnya, dan dikatakanlah kata itu sebagai syarat damai dan rujuk 
kembali. Apakah demikian?he he he
   
  Semua orang pada dasarnya suka dengan kesucian, baik kesucian cinta, 
kasih-sayang, jiwa, raga, pakaian, makanan dan lain sebagainya. Hanya saja 
untuk mendapatkan sebuah kesucian membutuhkan berbagai macam usaha, perjuangan, 
dan pengorbanan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak di capainya. 
Meskipun kita tahu bahwa orang-orang yang terjebak dalam jurang ke-najis-an tak 
bisa dihitung jumlahnya, namun bukan berarti mereka tidak suka dengan kesucian. 
Hanya saja mungkin kesukaan kepada kesuciannya terlalu tipis dan terkalahkan 
oleh nafsu ke-najis-an dalam dirinya.
   
  Kesucian dalam cinta, setiap perempuan tentu sangat suka jika kekasihnya 
mencintainya dengan cinta yang suci, yang bersih dari khiyanat, selingkuh, 
kekerasan, memperbudak, dan berbagai kotoran yang termasuk hal-hal yang 
membatalkan cinta yang suci. Maka wajarlah jika seorang perempuan berkata 
"sentuhlah aku setelah kau bersuci" tentunya bukan bersuci untuk sholat, sebab 
kalau bersuci untuk sholat terus menyentuhnya tentu menjadi batal (tidak suci) 
lagi.
   
  Laki-laki pun seperti itu saya pikir, dalam soal cinta rata-rata akan sangat 
suka kalau kekasihnya mensucikan hatinya dari orang lain, kecuali memang punya 
budaya nomaden (alias suka pindah-pindah) apalagi tak punya tujuan untuk 
menetap, bisa jadi akan memakan banyak korban-korban hati yang berjatuhan 
hancur seperti serpihan kaca. Ah.. betapa banyak kisah seperti itu dalam 
kehidupan ini, dan mungkin semua orang pernah merasakannya dengan standar 
masing-masing, hanya untuk memburu cinta yang suci.
   
  Kesucian raga, tentunya semua orang pernah mandi, dan tujuannya tak lain 
adalah membersihkan badan dari kotoran, baik kotoran dhohir ataupun kotoran 
bathin (maknawi). Kita tentu akan marah ketika orang yang penuh kotoran 
ditubuhnya tiba-tiba menyentuh kita, bahkan menyentuh barang milik kita saja 
kita akan marah, atau paling tidak akan berkata "sentuhlah aku setelah kau 
mandi". Bukan hanya badan yang kotor kita enggan disentuhnya, bahkan bau badan 
yang nggak sesuai aja kita enggan berdekatan, apalagi disentuhnya.
   
  Manusia memang sering lupa terhadap berbagai kotoran dalam tubuhnya, karena 
keterbatasan jangkauan mata yang dimilikinya, hingga tak mampu melihat matanya 
sendiri yang terkena pasir, atau bahkan "blobok" (aduh sori ya, apa sih namanya 
kotoran diujung mata, kalau habis tidur?). Maka dari itulah dibutuhkan cermin 
untuk melihat kekurangannya, dan cermin itu tak lain adalah "orang lain".
   
  Adalah salah, jika orang melihat wajahnya buruk lalu menghantam cermin yang 
ada, bukankah tidak baik, "tak bisa menari menyalahkan lantai yang tidak rata". 
Kecuali cermin yang ada memang juga cermin yang kotor, makanya kalau bercermin 
pada cermin yang bersih agar tahu kotoran dalam tubuh kita, apalah untungnya 
bercermin pada cermin yang kotor? Keindahan kita aja jadi kotor dan nggak 
jelas, apalagi kotoran kita malah tidak tampak.
   
  Begitulah soal bercermin untuk tubuh kita, kalau cermin untuk pikiran kita 
adalah pembaca, dan tulisan adalah tubuh kita, kenapa harus takut dengan apa 
yang akan terlihat di cermin, toh itulah sesungguhnya kita. Kenapa takut dengan 
kritik orang atas tulisan kita, asalkan dia adalah cermin yang bersih tentunya 
kebaikan untuk kita benahi kekurangan yang tampak, kalau ternyata pengkritik 
hanya cermin yang lusuh, biarkan saja "anjing menggonggong, kafilah tetap 
berlalu".
   
  Biasanya untuk cari sensasi orang-orang suka bercermin dengan topeng, apalagi 
musim pemilu, bisa dipastikan topeng-topeng akan beraneka ragam, maka tak heran 
kalau topengnya dibuka, mengalir darah dan nanah di wajahnya. Ah..betapa 
beratnya bercermin dengan wajah kita sesungguhnya, sampai kapankah kita tetap 
memakai topeng itu? Jika semua orang memakai wajah aslinya, damailah alam 
semesta.
   
  Adakah manusia yang tak pernah kotor? Setiap manusia pernah bergelut dengan 
kotoran, baik kotoran jiwa maupun raga, hanya Allahlah yang selalu suci dan tak 
akan bisa mendekatiNya kecuali jiwa-jiwa yang disucikan. Bahkan mendekati 
surat-surat cintaNya pun hanya boleh untuk tubuh-tubuh yang disucikan. "Laa 
yamassahu illa-lmutthoharun" Jika tubuhmu ingin menyentuh tubuh Al qur'an 
(Mushaf) maka bersihkanlah, dan jika jiwamu ingin menyentuh jiwa Al qur'an maka 
bersihkanlah pula.
   
  Mungkin sebagian orang bisa menyentuh mushaf dalam keadaan kotor, tapi 
manusia tak akan mampu menyentuh jiwa Al qur'an dengan jiwa yang kotor. Lalu 
dimanakah penghormatan dan kecintaan kita yang kita teriak-teriakkan pada semua 
orang, jika bersuci pun kita enggan sebelum menyentuh surat-suratNya. Lalu 
bagaimana jiwa kita bisa menyentuhnya jika membersihkan raga yang tampak jelas 
saja kita enggan?.
   
  Maka pantaslah bagi Allah, berkata "Sentuhlah Aku setelah kau bersuci", 
"Sentuhlah KalamKu dengan tubuh yang disucikan" karena hanya Dialah yang selalu 
suci.
   
  Marilah kita mempelajari cara-cara bersuci dan mulai melakukannya sedikit 
demi sedikit, teratur, dan kontinyu untuk membersihkan jiwa kita dari berbagai 
noda hitam kenajisan yang terlalu sulit untuk dilihat mata, bahkan mata hati 
kita masih tidur berselimut dosa. Jika tidak ada cermin yang bisa menunjukkan 
keadaan kita, marilah kita raba diri kita, seperti apakah kita sebenarnya??
   
  Alliem
  Cairo, Sabtu 03 November 2007
  Sentuhkan aku, denganMu yang suci.
   


  :::: Mochammad Moealliem :::: 
  :::: http://muallimku.tk/ atau http://muallimku.multiply.com/ ::::
:::::  Bergabunglah! di Komunitas Sahabat Lintas Batas, http://www.kangguru.tk/ 
::



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke