Postmodernisme Barat, Menggilas Ilmu dan Agama  Selasa, 30 Okt 07 18:32 WIB
   
  Era posmodernisme telah menggilas semua bentuk nilai. Jangankan nilai dan 
etika, agama dan seperangkatnya pun tak dibutuhkan. Karena itu pula ketika 
Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi diusulkan menjadi 
peraturan bermasyarakat mereka sontak menghujat dan menolaknya.
  Demikian pula ketika sejumlah aliran sesat bermunculan, kemudian Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) memberikan fatwa tentang kesesatan akidah mereka, maka 
sejurus kemudian mereka menuding fatwa MUI bertentangan dengan kebebasan 
beragama. Ironisnya lagi mereka juga menuding para ulama MUI sebagai ulama 
tolol.
   
  Para penganut posmodernisme memang anti ilmu dan kebenaran. Karena itu mereka 
menolak otoritas ulama (ilmuan). Mereka menganggap ulama sebagai biang 
carut-marut kehidupan.
   
  Lahirnya era postmodernisme sendiri akibat ketidakmampuan kaum Barat menjawab 
tantangan dan nilai modernisme, yang sejak awal memang menegasikan Allah 
sebagai sumber segala sesuatu (Allah Al-Shamd). Wajar saja jika di kemudian 
hari Barat dan pengikutnya mengalami kepincangan dan kebutaan nilai kehidupan.
   
  Mengenai hal ini, cendikiawan Muslim asal Palestina, Ismail Raji al-Faruqi, 
menyatakan, “Para ilmuan Barat menolak Tuhan dan mengusir-Nya dari alam, 
disebabkan oleh kebencian mereka kepada Gereja Kristen dan kewenangan palsu 
yang telah dipaksakan Gereja terhadap dirinya sendiri berkaitan dengan seluruh 
pengetahuan, termasuk pengetahuan kealaman. ” (Isma’il Raji al-Faruqi, Tawhid: 
Its Implications for Thought and Life, 1982).
   
  Reaksi radikal ilmuan Barat itu mengkristal dan muncul akibat dominasi Geraja 
yang kaku dan dogmatis. “Sejalan dengan hal itu, hampir seribu tahun ilmu 
pengetahuan di Barat tidak berkembang, ” sambung al-Faruqi. 
  
Dengan cara itulah mereka mengaku bebas melakukn ekspresi di bidang logika, 
fisika, seni, filsat, bahasa, teknologi, kepercayaan, ideologi, tindakan dan 
lainnya. Cara pandangan dan hidup demikian, menurut Hujjatul Islam Imam 
Al-Ghazali, tidak ada bedanya dengan perikehidupan binatang. “Mereka hanya 
cukup puas dengan kehidupan dan kebutuhan biologis, ” tulis Al-Ghazali. (Abu 
Hamid al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din). 
   
  Mengenai hal ini, peringatan Allah dalam surah Al-A’raf: 179, perlu kita 
camkan. Pada ayat itu disebutkan, bahwa mereka yang mempelajari ayat-ayat Allah 
tapi mereka jauh dari petunjuk-Nya. “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan 
mereka lebih sesat lagi. Mereka itu adalah orang-orang yang lain. ”
  Untuk mensukseskan agendanya, para pemikir Barat dan muridnya bergerak dan 
melancarkan aksinya di dunia Muslim. Proyek pertama yang mereka lakukan tidak 
lagi menjajah dan mencaplok wilayah-wilayah negara-negara Muslim, tapi mereka 
mendirikan kajian-kajian keIslaman (Islamic Studies) sesuai dengan framework 
dan pandangan hidup (wordlview) mereka.
   
  Sukses agenda pertama, mereka lalu memberikan beasiswa besar-besaran kepada 
para calon murid untuk studi strata dua (S2/magister ) dan strata tiga 
(S3/doktor) di tempat mereka. Menjelang membuat tesis dan disertasi, mereka 
diarahkan oleh para gurunya (orientalis) untuk mengikuti jejak mereka dalam 
memahami Islam.
   
  Setelah para murid itu kembali ‘mencari’ ilmu di negeri kampung 
masing-masing, aliansi merusak Islam tak berhenti di situ saja. Para alumni 
didikan orientalis itu diminta dan didorong mendirikan lembaga penelitian, 
pesantren, lembaga swadaya masyarakat (LSM), penerbitan, dan lainnya, untuk 
melanjutkan dan menyebarkan ‘ilmu’ yang selama ini mereka peroleh kepada 
masyarakat Muslim.
   
  Bantuan dana untuk kegiatan ini terhitung berlimpah. Sebut saja, saat ini ada 
LSM yang bergerak di bidang isu gender dan plularisme mendapat dana dari The 
Ford Foundation senilai Rp 10 miliar. Dana itu akan dialokasikan untuk 
pendidikan Paket A, B, dan C bagi masyarakat Indonesia tentang wacana gender 
dan pluralisme sesuai keinginan penyandang dana.
   
  Sudah puluhan tahun mereka merintis lembaga-lembaga itu untuk merusak 
ilmu-ilmu Islam, dan kini hasilnya banyak murid asuhan mereka yang berpikir dan 
berkepribadian sama seperti mereka, para orientalis. Bahkan tak jarang para 
murid itu lebih orientalis.
  * * *
  Sayangnya, akhir-akhir ini kita mendengar banyak perguruan tinggi didirikan. 
Tapi, tak banyak kita mendengar mereka berniat dan mendesain kampusnya sebagai 
lembaga pendidikan yang mengarahkan dan mengajak civitas kampus untuk menjadi 
manusia yang taat kepada Rabbnya. Karena itu tidak aneh jika banyak muncul 
sarjana Muslim, tapi mereka tidak mengetahui identitas dan kewajibannya sebagai 
schollars Muslim.
   
  Di sisi lain, dan ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, para alumni 
pesantren yang terbawa arus dan tergerus ilmunya di saat mereka menjejaki dunia 
perguruan tinggi.
   
  Tak sedikit di antara mereka yang menghalalkan meninggalkan shalat wajib, 
banyak di antara mereka yang lebih senang mengembangkan dan menikmati seni 
sastra Barat dibanding dengan seni dan karya sastra Islam. Selanjutnya, mereka 
pun lebih nyaman hidup permisif daripada harus berhati-hati. Mereka ini lebih 
berbahaya dari binatang buas dan mengancam kehidupan dan isinya. (dina)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke