http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0711/02/081638.htm
*Indonesia dan Jerman "Ternak" Obat Penyakit Dalam* Bandung, Kamis - Indonesia dan Jerman diam-diam tengah bekerja sama mengembangkan obat-obatan berbagai penyakit dalam melalui teknologi ternak molekul (molecule farm). Penelitian yang melibatkan pakar kedua negara dalam bidang bioteknologi telah dimulai sejak tahun 2004. "Penelitian bio teknologi ini dilakukan dengan berpijak pada kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Jerman, dan diharapkan akan rampung sebelum 2010 nanti," ujar Kepala LIPI, Prof Dr Umar Anggara Jennie, seperti dikutip Antara Kamis (1/10). Penelitian bilateral itu dilakukan langsung melalui dua institusi, yakni LIPI (lem,baga Ilmu Pengetahuan indonesia) mewakili pemerintah Indonesia sementara pemerintah Jerman diwakili Departemen Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan setempat. Target penelitian bersama ini adalah menghasilkan jenis obat Interferon (INF)-Alfa2a. Obat-obatan ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit internist (dalam) seperti hepatitis, kanker, dan jantung. Umar mengatakan penelitian itu menggunakan metode "molecule farm" yang diharapkan akan meningkatkan kecepatan serta penghematan biaya penelitian hingga 50 persen daripada penelitian konvensional. Menurutnya, bahan dasar INF-Alfa2a berasal dari sejenis gen yang didapat dari satu jenis bagian tubuh manusia. Saat ini, ungkapnya, penelitian tersebut sudah memasuki tahap mensenyawakan antara INF-ALfa2a dengan satu jenis ragi sehingga akan menurunkan biaya produksi obat dengan hasil yang relatif lebih cepat. Ke depan, hasil penelitian tersebut, menurutnya, akan dikelola oleh industri dalam negeri, Kimia Farma sedangkan dari pihak Jerman penelitian itu akan dikembangkan produksinya melalui Sartorius Coy Institute. Sementara itu, Dekan Sekolah Farmasi ITB Tutus Gusdinar menyatakan perkembangan penelitian farmakologi atau ilmu pembuatan berbagai jenis obat yang dilakukan ilmuwan nasional saat ini belum mampu menghasilkan output yang nyata. "Masih minimnya industri farmasi swasta ataupun negeri di Indonesia cenderung membuat sulit pemanfaatan hasil penelitan, sementara penelitian yang dilakukan bersama pemerintah pun masih terbatas," ujar Tutus. Sumber: Antara Penulis: Wah [Non-text portions of this message have been removed]

