Melihat trendnya, optimis Rupiah bisa tembus 9000/dolar. Belum lagi bila
memperhitungkan dampak subprime mortgage yang kerugiannya mencapai US$ 950
Milyar - 1Trilyun atau kira-kira 5%-8% PDB AS. Artinya untuk memulihkan
kembali seperti sediakala AS harus menebusnya dengan pertumbuhan ekonomi
5%-8%. Jika rata-rata pertumbuhan ekonomi AS 2%-2,5% per tahun maka
kira-kira AS baru bisa pulih 2 - 3 tahun. Artinya akibat dari krisis
subprime mortgage setara dengan 2-3 tahun.

------------------------------------
http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/07/time/172441/idnews/849714/idkanal/6



*Rupiah Makin Mantap*


Nurul Qomariyah - detikfinance

Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menguat seiring tumbangnya dolar AS di
pasar global. Bertahannya BI Rate di level 8,25% membuat rupiah semakin
mantap melangkah.

Pada perdagangan Rabu (7/11/2007) pukul 17.00 WIB, rupiah ditutup pada level
9.105 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.120 per dolar
AS.

Sementara dolar AS kembali melorot ke level terendahnya atas euro menyusul
adanya kabar China akan mendiversifikasi cadangan devisanya dan menjauhi
dolar AS.

Di London, euro menguat hingga level tertingginya di 1,4704 dolar, sebelum
akhirnya surut ke level 1,4694 dolar.

Poundsterling juga menguat ke level tertingginya dalam 26 tahun ke level 2,1
dolar.

Cheng Siwei, vice chairman National People mengatakan, China sedang
mempertimbangkan untuk mengalihkan cadangan devisanya ke mata yang yang
lebih kuat seperti euro. Namun ia menolak berkomentar apakah hal itu berarti
China akan membeli aset dalam denominasi euro lebih banyak.

"Komentar itu, meskipun membingungkan dari hal lainnya dan hanya
mempresentasikan pejabat lapis ketiga, telah menyebabkan terjadinya aksi
jual dolar," ujar analis dari BNP Paribas seperti dikutip dari AFP.

Dolar AS dalam beberapa bulan terakhir sebelumnya terus terpuruk di level
terendahnya, semenjak mencuatnya krisis subprime mortgage. Apalagi saat Bank
Sentral AS terus menerus menurunkan suku bunganya, yang membuat investasi
dalam denominasi dolar AS makin tak menarik. Hingga kini, dolar belum
berhasil bangkit dari keterpurukannya.
(qom/ddn)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke