Sekadar koreksi untuk Tunjung Utomo. Diponegoro tidak berjuang untuk tanah Mataram, tetapi untuk tanah miliknya (tanah perdikan? - cmiiw) yang akan digusur oleh kompeni untuk pelebaran jalan. Diponegoro justru ingin lepas dari lingkaran Kraton dengan mengenakan busana ala Timur Tengah. Jadi boleh dibilang ia membelot dari Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Jadi kalau boleh saya menilai, gerakan Diponegoro tak ubahnya Syariatisasi Islam di wilayah DIY dan Jawa Tengah pada khususnya.
Sekilas tentang Perang Jawa (Java Oorlog, 1925 - 1830): Menurut catatan sejarah, pada Mei 1825 Belanda punya rencana membuat sebuah jalan baru yang akan dibangun di dekat Tegalrejo, pinggiran Yogyakarta. Proyek itu akan melewati makam dan tanah leluhur Diponegoro yang membuat Diponegoro tersinggung. Ia menentang keras rencana itu. Pada 20 Juli 1825 Belanda mengirim serdadunya dari Yogyakarta untuk menangkap Diponegoro. Tegalrejo berhasil direbut oleh Belanda. Namun Diponegoro berhasil melarikan diri dan mencanangkan panji pemberontakan. Sejak saat itu hingga pertengahan 1830 meletuslah perlawanan yang disebut Perang Jawa (Java Oorlog), pusatnya di daerah Yogyakarta. Sekira 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Mojo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Pemberontakan ini juga menyerang orang-orang Cina karena mereka dituding telah bertindak curang dan juga banyak mendapat kemudahan dari pihak Belanda. 15 Oktober 1826, Diponegoro aka Ngabdul Kamidi mengalami kekalahan di Gawok, dekat Surakarta. Sejak saat itulah sang pangeran semakin menyadari pada akhirnya ia tak akan berhasil mewujudkan niat dan rencananya yang telah dicanangkan sejak memulai peperangan yaitu untuk menegakkan keluhuran agama Islam di seluruh Tanah Jawa: "Mamangun luhuripun Agami Islam wonten ing Tanah Jawi" Sasaran ganda moral dan agama itu memang sudah tumbuh dalam diri sang pangeran sejak ia muda dan hidup sebagai santri yang berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain. Pengembaraan fisik dan rohani itu membuat ia menampik semua jabatan politik: "mapan ingsun banget lumuh". Ia tanggalkan pakaian Jawa dan menggantinya dengan pakaian rasul yang serba putih. Pada 1827 Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng. Gerombolan pemberontak dipaksa bertempur sebelum mereka sempat tumbuh dalam jumlah besar. Pasukan Diponegoro terjepit. Penyakit kolera, malaria, disentri merajalela menyerang kedua belah pihak. Pada April 1829 Kyai Modjo tertangkap, lalu diasingkan. Pada September 1829, Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro, dan panglima utamanya Sentot Alibasyah Syahbana menyerah. Pada 28 Maret 1830 Diponegoro bersedia melakukan perundingan di Magelang, tetapi itu hanya taktik Belanda saja. Diponegoro dinaikkan kereta tahanan untuk dibawa ke Semarang. Lalu dengan kapal laut ia diasingkan di Manado, kemudian di Makassar. Berakhirlah Perang Jawa yang merupakan perlawanan elite bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban. Di pihak pemerintah menelan 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 berkebangsaan Indonesia, 200.000 orang Jawa tewas. Sehingga jumlah penduduk Yogyakarta kala itu menyusut separuhnya. Pelukis Raden Saleh Boestaman yang keturunan Arab lahir di Solo pada 1814. Setelah pergi ke Belanda selama 23 tahun lamanya untuk mengabdi pada Raja Willem III, ia kembali ke Jawa pada 1857. Dialah yang melukis penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang yang diberi judul 'Historisches Tableau, die Gefangennahmen des Javanischen Hauptling Diepo Negoro'. Raden Saleh wafat di tahun 1880. Peninggalan beliau diantaranya adalah kebun binatang yang kini berubah fungsi menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta. Juga rumah miliknya yang kini berubah fungsi menjadi rumah sakit Katholik di Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat. Buku: "Asal-usul Perang Jawa, pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh Penulis: Peter Carey Pengantar: Onghokham Penerbit: LkiS, Yogyakarta, 2004 Tebal: 197 halaman __________________________________________________________ Kisah yang aku cuplikkan dari sebuah buku tersebut dapat disimpulkan, bahwa sebenarnya Pangeran Diponegoro ingin mendirikan sebuah kekhalifahan Islam di Tanah Jawa - minimal di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Ia dan para pengikutnya rela melepas busana kerabat kraton Jawanya dengan busana khas Timur Tengah. Kala itu sungguh amat jarang seorang bangsawan kraton keturunan Mataram mau menanggalkan tradisi kejawaannya demi apa yang diyakininya. Tercatat pada 1813 wilayah Mataram pecah menjadi empat dengan naik tahtanya Pangeran Notokusumo sebagai Paku Alam I. Wilayah lainnya menjadi milik Kasunanan dan Mangkunegaran yang berkedudukan di Surakarta. Di Yogyakarta berbentuk Kasultanan. Ini bisa menjadi penelitian yang amat menarik terkait dengan proses Islamisasi di Indonesia pada masa lalu. Catatan: Kisah Perang Jawa pernah difilmkan oleh almarhum Teguh Karya dengan judul "November 1828". Namun itu hanya sepenggal kisah dari ratusan kisah yang belum sempat terungkapkan. __________________________________________________________ ----- Original Message ----- From: "Tunjung Utomo" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, November 11, 2007 11:40 AM Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Imam Bonjol, Dikenang Sekaligus Digugat Saya minta saudara Suryadi untuk konsisten dengan konsepnya dalam menelisik gelar kepahlawanan dari para pahlawan nasional yang nama-namanya telah menyatu dengan jalan-jalan raya kita, dengan nama-nama batalyon infanteri kita. Karena kalau begitu tentu akan sangat banyak sekali pahlawan nasional yang nama-namanya telah saya hafalkan sejak sekolah dasar harus dicabut dari gelar kepahlawanannnya. Karen memang pada masa-masa itu sedikit atau belumlah ada ide keindonesiaan sebagai sebuah nation state,tidak sebelum 28 Oktober 1928. Pangeran Diponegoro berjuang untuk mengembalikan tanah Mataram, Kapitan Pattimura berjuang untuk melawan penyiksaan di tanah ambon,bukan untuk Indonesia,Tuanku Hasanuddin berjuang untuk tanah Makassar,Sisingamangaraja juga berjuang untuk tanah Batak. Lagipula bagaimana dengan tokoh-tokoh nasional pasca Proklamasi 1945 yang belum ditahbiskan sebagai "Pahlawan"??kalau menilik konsep saudara Suryadi semua tokoh nasional era kemerdekaan jelas jauh lebih "Indonesia" daripada nama-nama yang telah disebutkan tadi.Tapi apa yang terjadi??pasca proklamasi penilaian tentang gelar kepahlawanan justru semakin sulit dan tidak jelas kriterianya melainkan justru bersanda pada selera politik penguasa. Coba bandingkan berapa besar prosentase (yg artinya jumlah dibagi jumlah semua tokoh pada masanya) tokoh pasca proklamasi yg diangkat sebagai pahlawan nasional dengan nama-nama pra prokamasi seperti nama-nama yg tadi kita bahas?? Saya terpikir kasus Bung Tomo, seorang yg punya kapasitas "lengkap" lengkap dalam artian performance perjuangannya cukup menonjol pada masa sesudah, sebelum maupun pada era2 kritis Proklamasi (maas Agresi Militer) proklamasi 17 Agustus 1945. Ia piawai di medan pertempuran senjata sekaligus garang dalam ruang-ruang rapat DPR,catatan-catatan sejarah menggambarkan perjuangan ke-indonesia-an beliau. TApi apa yang terjadi??kapan Bung Tomo pernah dilirik namanya untuk ditahbiskan sebagai Pahlawan??Apa hanya karena beliau berteriak "Allohuakbar",apa hanya karena ia begitu kritis terhadap para pamong pemerintahan semasa Bung Karno maupun Pak Harto,ia menjadi tidak layak akan gelar pahlawan??Bagaimana juga tokoh-tokoh kritis lain seperti Almarhum Soemitro Djohohadikusumo?? On Nov 10, 2007 5:44 PM, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > Oleh Suryadi > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/10/opini/3982078.htm > ====================== > > Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di > ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama > universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 > November 2001. > > Tuanku Imam Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan > nasional berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 > November 1973, adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat > (1803-1837) yang gigih melawan Belanda. > > Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. > TIB dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak > (1816-1833) yang menewaskan "jutaan" orang di daerah itu > (http://www.petitiononline. com/bonjol/petition.html). > > Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya buku MO Parlindungan, > Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam > Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (2006) (Edisi pertama terbit > 1964, yang telah dikritisi Hamka, 1974), kemudian menyusul karya > Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku Rao (2007). > > Kedua penulisnya, kebetulan dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan > nenek moyangnya dan orang Batak umumnya selama serangan tentara Paderi > 1816-1833 di daerah Mandailing, Bakkara, dan sekitarnya (Tempo, > Oktober 2007). > > Mitos kepahlawanan > > Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini > mencuatkan kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional. Kaum > intelektual dan akademis, khususnya sejarawan, adalah pihak yang > paling bertanggung jawab jika evaluasi wacana historis itu hanya > mengakibatkan munculnya friksi di tingkat dasar yang berpotensi > memecah belah bangsa ini. > > Ujung pena kaum akademis harus tajam, tetapi teks-teks hasil > torehannya seyogianya tidak mengandung "hawa panas". Itu sebabnya > dalam tradisi akademis, kata-kata bernuansa subyektif dalam teks > ilmiah harus disingkirkan si penulis. > > Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah (bangsa)-nya sendiri. > Namun, generasi baru bangsa ini—yang hidup dalam imaji > globalisme—harus menyadari, negara-bangsa apa pun di dunia memerlukan > mitos-mitos pengukuhan. Mitos pengukuhan itu tidak buruk. Ia adalah > unsur penting yang di-ada-kan sebagai "perekat" bangsa. Sosok pahlawan > nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, > Sisingamangaraja XII, juga TIB, dan lainnya adalah bagian dari mitos > pengukuhan bangsa Indonesia. > > Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in > Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam > Journal of Asian Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah > dibentuk sejak awal kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, setidaknya > terkait tiga kepentingan. > > Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda > sebagai bagian wacana historis pemersatu bangsa. > > Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan > negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya. > > Ketiga, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang > telah mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa > PRRI. > > Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman > perjuangan TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang > kini dikenal sebagai pahlawan nasional. > > Kita juga tahu pada zaman itu perbudakan adalah bagian sistem sosial > dan beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan ekspansi > teritorial dengan menyerang beberapa kerajaan tetangga. Para pemimpin > lokal berperang melawan Belanda karena didorong semangat kedaerahan, > bahkan mungkin dilatarbelakangi keinginan untuk mempertahankan > hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan akibat kedatangan > bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan nasional karena > bangsa memerlukan mitos pemersatu. > > Bukan manusia sempurna > > Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik > sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun > pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama > orang Minangkabau dan Mandailing atau Batak umumnya. > > Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan > Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema > awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni > melibatkan diri dalam perang itu karena "diundang" kaum Adat. > > Pada 21 Februari 1821 mereka resmi menyerahkan wilayah darek > (pedalaman Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken > di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu > melawan kaum Paderi. Ikut "mengundang" sisa keluarga Dinasti > Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari > pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto > Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 seperti disebut > Parlindungan, 2007:136-41). > > Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat > dan kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)— > transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah > sumber pribumi yang penting tentang Perang Paderi yang cenderung > diabaikan sejarawan selama ini—mencatat, bagaimana kedua pihak > bahu-membahu melawan Belanda. > > Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. > Di ujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik > justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri. > > Dalam MTIB, terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan kaum Paderi > atas sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar, perjuangannya > sudah melenceng dari ajaran agama. "Adapun hukum Kitabullah banyaklah > yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran kita?" (Adapun banyak > hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran > kalian?), tulis TIB dalam MTIB (hal 39). > > Penyesalan dan perjuangan heroik TIB bersama pengikutnya melawan > Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam > bulan (16 Maret-17 Agustus 1837)—seperti rinci dilaporkan De Salis > dalam Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de vermeestering van > Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie [Akhir Perang Paderi: > Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah Publikasi Sumber] > (2004): 59-183—mungkin dapat dijadikan pertimbangan untuk memberi maaf > bagi kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat TIB. > > Kini bangsa inilah yang harus menentukan, apakah TIB akan tetap > ditempatkan atau diturunkan dari "tandu kepahlawanan nasional" yang > telah "diarak" oleh generasi terdahulu bangsa ini dalam kolektif > memori mereka. > > Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van > Zuidoost-Azië en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda > > ===================================================== Pojok Milis Komunitas FPK: 1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links -- No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.28/1123 - Release Date: 10/11/2007 15:47 *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

