Kontroversi Tuanku Rao Medan, Kompas - Kontroversi siapa Tuanku Rao yang memimpin pembantaian oleh tentara Padri terhadap penduduk Tanah Batak pada abad ke-19 belum menemukan jawaban. Pembicara belum sepakat apakah Tuanku Rao berasal dari Batak atau Minang, sehingga alasan pasti penyerangan tentara Padri ke Tanah Batak dapat terkuak. Demikian terungkap dalam bedah tiga buku, yaitu Greget Tuanku Rao karya Basyral Hamidy Harahap, Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP), dan Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao karya HAMKA di Universitas Negeri Medan (Unimed), Sabtu (10/11). Dua guru besar antropologi Unimed Prof Usman Pelly dan Prof BA Simanjuntak, serta sejarawan Dr Ichwan Azhari membahas ketiga buku itu.
Sambil mengutip beberapa pernyataan MOP, Ichwan menyatakan, buku Tuanku Rao tidak memiliki nilai sejarah sedikit pun. "Saya katakan, buku ini lebih layak disebut sastra sejarah karena akan sulit membedakan antara fakta dan khayal," ujarnya. Ichwan mencontohkan, bahwa tentara Napoleon memang pernah mengunjungi Piramide di Mesir. "Itu fakta. Tetapi, apakah tentara Turki yang memukul mundur tentara Napoleon dipimpin Haji Piobang asal Minang, itu amat sulit diverifikasi," katanya. Usman Pelly menambahkan, buku Tuanko Rao muncul untuk memperkuat identitas Mandailing atau Tapanuli Selatan sekaligus membedakan dengan Batak Utara (Toba) dan Minangkabau. "Karena kesulitan mencari data pembanding, saya justru melihat buku Tuanku Rao muncul untuk menguatkan identitas kebatakan Mandailing yang berbeda dengan Toba, sekaligus dengan Minangkabau," katanya. Menurut Usman, identitas diri akan diperoleh apabila peran sosial, politik, dan ekonomi jelas dan berarti dalam perjuangan bangsa. "Dalam rangka pencarian identitas itu, buku Tuanku Rao menjadi sebuah legenda yang sangat pas untuk dikaji," katanya. Simanjuntak mempertanyakan apakah Perang Paderi merupakan perang pengembangan agama Islam atau hanya pemaksaan aliran agama Islam. "Ini perlu dikaji lebih jujur dan ilmiah," katanya. Dia sepakat dengan Basyral bahwa tentara Paderi telah melakukan kejahatan kemanusiaan di Tanah Batak. "Saya membaca justru saat itu terjadi pembersihan etnis, membangun perbudakan, hingga menyebabkan pelarian," ujarnya. Basyral menyatakan, pembantaian oleh tentara Paderi yang dipimpin Tuanku Tambusai terhadap marga Babiat (Harahap) di Simanabun. "Ini perlawanan satu-satunya dari warga Mandailing terhadap tentara Paderi," jelasnya. (MBA) KOMPAS, Senin, 12 November 2007 Sejarah ================================================= Komentar: Persoalan sejarah Tuanku Rao ini amat penting untuk mengenal identitas dan sejarah di tanah Batak. Kalau tidak diteliti para sejarawan, saya khawatir, hal yang sama akan terulang di tanah batak, dengan modus baru. Mudah-mudahan para sejarawan dengan cepat melakukan penelitian ke negara-negara Eropa. Pormadi Simbolon mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

