<>Panggung Sang Juru Bicara<> 



Andi Mallarangeng meluncurkan buku dari kompilasi kolomnya di sebuah harian 
nasional. Meski banyak kisah yang bisa diungkap, ia sering terjebak pada 
atraksi verbal yang tak perlu.




-------




NAMANYA Widodo Sumardjo, insinyur muda lulusan Universitas Gadjah Mada yang 
mendapat tugas belajar di Kuba pada 1960. Lima tahun kemudian, gelar doktor 
sudah digondolnya. Widodo bersiap pulang. Apalagi seorang gadis bernama Widari 
Suwahyo sudah menunggunya di Jakarta. Pernikahan di ambang mata. Tapi peristiwa 
G-30-S telanjur meletus. Mimpi Widodo hangus. Paspor Orde Lama yang dimilikinya 
tak lagi berlaku, sedangkan paspor pengganti dari Orde Baru tak kunjung keluar. 
Widodo terdampar di negeri orang, tanpa kewarganegaraan. 

Bayangan pernikahan ikut karam, meski kesetiaan Widodo terhadap Widari bertahan 
hingga setengah abad. Tahun lalu, saat bertemu dengan Andi Alifian 
Mallarangeng, yang sedang berkunjung ke Kuba, ia berpesan, "Sampaikan salam 
saya, dan katakan padanya, saya masih setia." Andi menuliskan ini dalam "Cinta 
yang Terhalang di Kuba", kolom yang ditulisnya bertitimangsa 25 September 2006. 


Bagus sekali, Andi tak terjebak pada melankoli semata. Ia menautkan problem itu 
dengan instruksi Presiden Yudhoyono kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia 
untuk segera mengevaluasi status orang-orang seperti Widodo agar bisa 
mendapatkan paspor Indonesia secepatnya. 

Kini kolom itu, bersama 65 topik lainnya dari rentang Mei 2006-September 2007, 
terbit dalam sebuah buku mewah berjudul Dari Kilometer 0,0, judul yang diambil 
dari nama kolom tetapnya setiap Senin di harian Jurnal Nasional. Sebagai 
kompilasi kolom, buku ini seharusnya istimewa mengingat dua hal. 

Pertama, Andi pernah dikenal sebagai pengamat politik yang andal, baik sebagai 
pembicara maupun penulis. Kedua, ia menimbang jabatannya kini sebagai juru 
bicara presiden. Ini posisi yang menyebabkan doktor ilmu politik lulusan 
Northern Illinois University itu bisa menjelaskan--meminjam ungkapan sosiolog 
Erving Goffman--kejadian di "panggung belakang", sebuah wilayah dengan akses 
sangat terbatas bagi publik. 

Kesempatan terbuka, tapi sayang bekas Ketua Umum Partai Persatuan Demokrasi 
Kebangsaan ini sering kehabisan stamina untuk menggali kisah-kisah "panggung 
belakang" yang menarik. Seperti kisah Widodo-Widari, atau pesan pendek seorang 
perempuan kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono yang meminta agar dibuat 
Undang-Undang Perlindungan... Istri Muda (dalam "Gambut, Media, Dll").

Yang kerap muncul adalah atraksi verbal, terutama pada bagian ending, yang 
menyebabkan Andi terlihat bak seorang fan mabuk kepayang ("Selamat ulang Pak 
SBY, selamat ulang tahun pemimpinku", dalam "Ulang Tahun Presiden SBY"); 
terkadang centil ("Besok-besok, jika ada yang bertanya, di mana Presiden SBY 
pada hari terjadi gempa? Jawabannya jelas, di garis depan, Yogya! Bagaimana 
dengan jubirnya? Selalu siap di mana pun Presiden berada", dalam "Berkantor di 
Yogya"). 


Contoh seperti ini bertebaran di banyak kolom, karena Andi tak cukup yakin 
bahwa pembaca menunggu ulasan seorang juru bicara presiden yang menghidangkan 
suasana "panggung belakang" dengan kecerdasan seorang pengamat politik--bukan 
kegairahan seorang petugas humas.

Sensitivitas Andi pada beberapa topik juga perlu diuji ulang. Senyampang 
menyodorkan "Menikmati Piala Dunia", Andi justru melupakan (atau memang 
mengabaikan?) bagaimana "panggung belakang" yang tercipta antara Zinedine 
Zidane dan Presiden Yudhoyono. Kedatangan dua Nobelis, Muhammad Yunus dan 
Joseph Stiglitz, ke Jakarta beberapa bulan lalu ternyata juga tak cukup menarik 
minat Andi untuk menuangkannya ke dalam sebuah kolom yang inspiratif. Memang 
ini sebuah pilihan yang tak mutlak harus dilakukan.

Namun tak terhindarkan kesan bahwa ini adalah sebuah buku yang disunting 
terburu-buru. Entah untuk mengejar momentum tiga tahun pemerintahan 
Yudhoyono-Kalla yang jatuh persis Oktober lalu, atau karena pertimbangan lain. 
Simaklah bagaimana pada "Perkawinan dan Kematian" Andi membuka kolomnya sebagai 
berikut: Tahukah Anda acara sosial apa yang paling sering dilakukan oleh 
Presiden SBY? Jawabannya adalah: perkawinan dan kematian. "Dilakukan" jelas 
bukan kata yang tepat, karena yang dimaksud pastilah "dihadiri".

Kesalahan terparah adalah karena pada 20 artikel mulai Januari hingga Mei 2007, 
berarti hampir sepertiga buku, semua penanggalan keliru karena menuliskan 2007 
dengan 2006. Ini jelas bukan kesalahan Andi sebagai penulis, melainkan editor 
yang ceroboh.

<>
Akmal Nasery Basral 



<>
DARI KILOMETER 0,0 
Penulis: Andi A. Mallarangeng

Penerbit: Indonesian Research and Development Institute, Oktober 2007

Tebal: xvi + 302 halaman

(Sumber: Tempo, 12-18 November 2007)


Akmal N. Basral










mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke