Bung Robert, saya rasa ada anggota milis ini yang bisa memberi 
tanggapan menarik mengenai posting anda tentang tayangan Trans 
TV "Jamu di Sleman". 

Sebagai Producer - News Division, Trans TV, yang pernah menulis, di 
blognya, "...5. Berdasarkan pengamatan selama ini di milis Mediacare, 
saya bisa menyimpulkan: 95% postingan dari si X, Y, dan Z biasanya 
tidak relevan dengan kepentingan/urusan saya. Isinya baik, santun, 
sopan, dan mungkin bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak relevan 
dengan kepentingan/urusan saya sekarang", apabila bung Satrio merasa 
posting anda "relevan dengan kepentingan/urusan" beliau, tentu akan 
segera ditanggapi. 

Saya pernah mampir ke blog beliau. Berikut isi lengkapnya:

Monday, December 25, 2006
TENTANG TIDAK PERLUNYA MEMBERI TANGGAPAN DI MILIS 

Oleh : Satrio Arismunandar

Seorang anggota milis Mediacare bertanya, mengapa ada komentar 
seorang miliser yang tak pernah saya tanggapi di milis? Saya 
menjawabnya dengan butir-butir seperti di bawah:

1. TIDAK semua posting harus atau perlu ditanggapi.

2. Bahkan tidak semua posting harus dan perlu dibaca.

3. Keanggotaan kita di suatu milis adalah mencari MANFAAT yang bisa 
diraih.

4. Faktanya, dari semua postingan yang muncul, TIDAK semua relevan 
dengan urusan kita, bahkan banyak yang TIDAK bermanfaat sama sekali 
bagi kita.

5. Berdasarkan pengamatan selama ini di milis Mediacare, saya bisa 
menyimpulkan: 95% postingan dari si X, Y, dan Z biasanya tidak 
relevan dengan kepentingan/urusan saya. Isinya baik, santun, sopan, 
dan mungkin bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak relevan dengan 
kepentingan/urusan saya sekarang.

6. Sedangkan 95% (untuk tidak mengatakan 100%) postingan dari si A, B 
dan C biasanya bernilai sampah, tidak ada manfaatnya sama sekali bagi 
saya (saya juga ragu, apakah benar-benar ada manfaatnya bagi orang 
lain). Isinya biasanya sumpah serapah, caci maki, tidak jelas nalar 
dan logikanya, tidak jelas gaya bahasanya, seperti muntahan atau 
orang mengigau saja, dan sebagainya.

7. Yang biasa saya lakukan: Postingan si X, Y, dan Z kadang-kadang 
saya buka, dan kadang-kadang saya simpan (jika sekarang belum 
dianggap penting, mungkin suatu saat bisa berguna, entah buat saya 
sendiri, entah buat orang lain).

8. Sedangkan postingan si A, B dan C biasanya LANGSUNG saya delete 
begitu melihat nama pengirimnya. Ini saya lakukan, untuk tidak menyia-
nyiakan waktu, mengurusi hal-hal yang betul-betul tidak ada 
manfaatnya sama sekali buat saya. 

9. Selain itu, saya sangat menghargai keterbukaan, dan saya menaruh 
respect lebih tinggi kepada anggota milis yang IDENTITAS-nya jelas. 
Karena kejelasan ini bagi saya merupakan sikap dewasa, matang, dan 
bertanggung jawab. Siap menerima akibat dari postingannya sendiri di 
milis.

10. Sebaliknya, saya kurang menaruh respect pada anggota milis yang 
hanya berani menghantam orang di milis, tetapi berlindung di balik 
nama samaran. Meskipun tidak ada kewajiban harus mengungkap identitas 
asli di sini, itu saya anggap sikap yang kurang bertanggung jawab, 
dan kurang percaya diri, sehingga saya tidak merasa perlu menanggapi 
atau menganggap serius postingannya.

Seandainya mereka tidak hantam kanan-hantam kiri, sebetulnya tidak 
masalah. Tetapi main hantam kanan dan kiri dengan bersembunyi di 
balik nama samaran, sama saja seperti mengirim surat kaleng. Itu gaya 
seorang pengecut, yang tidak layak sama sekali ditanggapi. Mengapa 
kita harus membuang waktu, berdebat dengan orang yang begitu pengecut 
atau begitu tidak percaya diri, sehingga harus selalu bersembunyi di 
balik nama samaran di berbagai milis? ***

source: satrioarismunandar6.blogspot.com


--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Terima kasih Mas Robert untuk infonya. Saya teruskan ke milis.

Salam,

Moderator


----- Original Message -----
From: "robertsantoso1971" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, November 12, 2007 9:34 AM
Subject: TRANS TV BOHONG


Hari Sabtu atau Minggu pagi, saya nonton acara Halal? di Trans TV.
Temanya, waktu itu adalah tentang jamu pelangsing tubuh. Salah satu
kasus yang dijadikan referensi adalah tewasnya dua orang di Sleman,
DIY beberapa bulan lalu. Trans TV menayangkan, seolah-olah kedua orang
itu tewas karena minum jamu. Bahkan, dengan narasi yang khas (agak
serem tapi kurang intelek), si narator memilih kata-kata yang
menguatkan tayangan seperti meninggalnya korban kedua yang hanya
karena mencicipi jamu dengan ujung jari.
Saya sering melihat kebohongan semacam ini, tapi mungkin Trans TV
termasuk yang sering, dan lama-lama saya muak. Semua orang tahu,
beberapa hari setelah tewasnya dua orang di Sleman itu, diketahui
bahwa penyebab terbunuhnya almarhum dan almarhumah adalah racun
sianida yang sengaja dimasukkan orang lain ke dalam jamu. Itu adalah
kasus pembunuhan berlatar belakang asmara segitiga, dan Trans TV
sendiri, seingat saya, turut menayangkan berita bahwa kasus di Sleman
itu adalah pembunuhan direncana dengan racun sianida, bukan karena 
jamu.
Saya pikir, orang Trans TV bisa membedakan antara jamu dan sianida
yang dimasukkan ke jamu adalah dua hal yang berbeda. Tidak sepantasnya
Trans TV menghalalkan sebuah kebohongan hanya demi membuat cerita
mereka semakin menarik. Menurut saya, kebohongan itu justru membuat
acara Halal? patut dipertanyakan kehalalannya. Apakah acara yang
sedikit banyak menempatkan agama sebagai dasar berpendapat ini harus
diselipi dengan kebohongan. Demi rating? Rating palsu?
Saya heran televisi menakut-nakuti masyarakat demi persoalan rating.
Dan jangan berpikir saya menulis ini karena saya penjual jamu. Demi
Tuhan, saya bukan penjual jamu.
Jadi, bagaimana menurut Anda?

Robert


Kirim email ke