Kekerasan Dunia Pendidikan Merebak Lagi KEKERASAN di dunia pendidikan kembali terkuak. Selama 9 tahun terakhir para siswa Sekolah Menengah Atas 34 yang termasuk favorit di Jakarta, tanpa sepengetahuan kepala sekolah dan guru-guru, telah melakukan kekerasan secara tersistem dan struktural dari para senior kepada yunior. Model kekerasan fisik ini, sama persis dengan apa yang telah terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang juga mengakibatkan korban nyawa. Kondisi ini sangat memperihatinkan karena kekerasan sistemik tersebut sudah muncul di kalangan pelajar SMA yang notabene usia teenager. Meskipun peristiwa tersebut di kota besar Jakarta, namun kalangan pendidik dan masyarakat pendidikan di daerah (Yogyakarta dan propinsi lain biasa disebut daerah) hendaknya melihat hal itu sebagai fenomena pendidikan yang harus segera disikapi serius. Baik dengan itikat maupun dengan sistem yang benar. Mengantisipasi agar kasus tersebut tidak terjadi. Mencermati kasus yang terjadi SMA 34 Jakarta yang cukup kuat untuk menjadi model kebanyakan sekolah menengah atas lain rentetan peristiwa tersebut muncul dengan fondasi wadah geng (gank) yakni organisasi di bawah tanah dengan anggota siswa laki-laki sekolah tersebut. Di dalam geng inilah perkembangan jiwa remaja bertumbuh bersama teman-teman peer group-nya. Dalam pelbagai kajian psikologi perkembangan remaja, pencarian jati diri bersama peer group adalah hal yang sangat natural. Oleh sebab itu, terbentuknya geng di kalangan remaja merupakan hal yang lumrah. Ketika individu-individu remaja yang sebenarnya masih gagap melihat diri dan dunia ini bersatu dalam komunitas, muncul rasa percaya diri bersama yang membuat mereka merasa superior dan powerful. Afeksi inilah yang mendorong dan memotivasi mereka melakukan pressure (tekanan) kepada yunior (adik kelas). Muncullah kekerasan demi kekerasan, baik fisik maupun psikis. Kondisi ini menjadi sesuatu yang latent berkat solidaritas anggota geng yang cukup fanatis. Sehingga kekerasan demi kekerasan terus berlangsung. Satu hal yang menambah prihatin adalah ketidakmampuan pihak sekolah untuk monitoring apa yang terjadi di dalam lingkup sekolahnya. Termasuk pengakuan salah satu guru SMA 34 Jakarta yang justru diancam tidak perlu campur dalam urusan geng sekolah tersebut. Sudah sedemikian parahkah degradasi kewibawaan guru di mata murid? Dalam lingkup sekolah, bahkan sepanjang kemampuan pantau guru, semestinya memiliki tanggung jawab dan hak secara moral untuk tetap memonitor dan mengevaluasi murid. Tidak hanya terkait dengan hasil belajar kognitif berupa nilai-nilai hasil evaluasi belajar. Tetapi juga memberi pendidikan afeksi (perasaan) yang memberi tambahan bekal kepribadian bagi tumbuh-kembang anak. Kembali mengingatkan bahwa pendidikan yang indonesia adalah pendidikan yang memiliki keselarasan antara cipta, rasa dan karsa. Kondisi yang membuat ketidakimbangan antara ketiga hal tersebut, pasti akan menimbulkan kepincangan dalam pendidikan maupun output pendidikan. Kita tahu tugas mendidik adalah tanggung jawab the gold triangle yakni orangtua (keluarga, kerabat), masyarakat (lingkungan sosial, publik, media massa) dan pendidikan (guru, aktivis/pemerhati pendidikan). Peristiwa kekerasan fisik dan psikis di kalangan pelajar SMA tersebut, boleh jadi akibat komponen triangle tersebut memiliki andil kekeliruan. Kini saatnya saling berbenah dan introspeksi. Baik keluarga, pendidik maupun masyarakat untuk bersama menjadi 'pendidik' generasi muda sebagai aset bangsa. Sebab menurut Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai negarawan: tak ada cara yang bisa kita lakukan untuk menjadi bangsa besar kecuali mengurus dan mendidik generasi muda dengan benar. q - c http://groups.yahoo.com/group/santrikiri http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=141846&actmenu=39
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

