http://www.antara.co.id/arc/2007/11/17/opec-anggap-pentingnya-kerja-sama-global/

*OPEC Anggap Pentingnya Kerja Sama Global*

Riyadh (ANTARA News) - Pentingnya kerjasama antara negara-negara anggota
Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) dan pihak-pihak lainnya, baik produsen
maupun konsumen minyak bumi, mengemuka dalam simposium tingkat menteri OPEC
yang mengawali KTT III OPEC yang dibuka di Riyadh, Sabtu.

Namun demikian, dari serangkaian diskusi yang berlangsung selama dua hari
tersebut muncul beragam pandangan dan juga pertanyaan misalnya mengenai
bentuk kerjasama yang akan dilakukan atau peran yang dapat dimainkan oleh
OPEC dalam kerjasama yang akan digalang.

Pembicara, Prof Tatsuo Matsuda dari Institut Teknologi Tokyo menyebutkan
bahwa era dewasa ini diwarnai ketegangan antar manusia (human earth tension
- HEAT) yang akan mempengaruhi masa depan bentuk hubungan antara OPEC dan
ekonomi global akibat perubahan klima, geopolitik dan tingginya harga
minyak.

Contoh yang paling jelas, ungkapnya, keruwetan dalam pasar minyak
internasional bergerak menuju situasi yang tidak mampu dikendalikan,
termasuk oleh OPEC sekalipun. Ia menyebutkan bahwa kerjasama antara OPEC
dengan komunitas ekonomi yang lebih luas seperti Badan Energi Internasional
(IEA) dan Forum Energi Internasional (IEF) perlu dikukuhkan.

KTT OPEC berlangsung di tengah rekor tingginya harga minyak internasional
yang sudah mendekati 100 dolar AS dalam waktu empat bulan terakhir ini
akibat sejumlah faktor seperti ancaman embago AS terhadap Iran, kekhawatiran
naiknya konsumsi minyak menjelang musim dingin dan isu geopolitik yakni
sengketa Irak dan Turki terkait suku Kurdi serta anjloknya nilai tukar dolar
AS.

Pada bagian lain, Masuda berpendapat, tingginya harga minyak, jika dikelola
dengan pas, malah bisa memfasilitasi evolusi menuju stabilitas ekonomi
global, namun ini hanya bisa terwujud jika OPEC ikut membantu meredakan
kesulitan negara-negara miskin dan negara-negara berkembang konsumen minyak,
sebaliknya komunitas global harus mengakui upaya OPEC untuk menjaga
kapasitas cadangan yang mahal biayanya.

Sementara Pimpinan International Petroleum Qatar, Nasser Al-Jaidah
mengemukakan bahwa kebutuhan investasi (di sektor pertambangan minyak-red)
terus meningkat untuk mengeksploitasi potensi cadangan minyak yang masih
dimiliki OPEC, sebaliknya cadangan minyak negara-negara non-OPEC makin
menurun.

Hal itu juga pernah disinggung oleh mantan Menteri Pertambangan Dr Subroto
yang menyebutkan bahwa negara-negara non-OPEC sudah tidak menemukan lagi
cadangan minyak seperti yang mereka dapatkan di ladang-ladang seperti Teluk
Meksiko, Laut Utara dan Alaska pada dekade-dekade lalu, sebaliknya
negara-negara non OPEC termasuk Indonesia masih memiliki potensi cadangan
yang melimpah ruah.

Jadi, menurut Al-Jaidah, fokus pengembangan industri perminyakan harus
diarahkan ke lima negara produsen terbesar anggota OPEC yakni Arab Saudi,
Iran, Irak, Kuwait dan UEA.

Teknologi penangkapan dan penyimpanan carbon (Carbon Capture and Storage -
CCS) yang dianggap sebagai solusi teknologi untuk menekan emisi
karbondioksida menjadi fokus bahasan yang juga mencuat dalam simposium
menjelang KTT III OPEC.

Menteri Energi Aljazair Chakib Khelil mengemukakan, pemanfaatan teknologi
CCS untuk menekan dampak industri minyak fosil bagi perubahan klima
(menghasilkan emisi gas buang) diharapkan akan dituangkan dalam draft
deklarasi KTT III OPEC.

Teknologi CCS yang ditemukan oleh salah satu negara produsen minyak non-OPEC
,Norwegia dilakukan dengan merangkap carbon dioksida dengan pembangkit
listrik (power plant) kemudian menyimpannya dalam jangka lama di bawah
tanah. Namun teknologi ini masih dalam tahap awal dan diperlukan investasi
yang besar untuk mengembangkannya.

Dalam pertemuan tingkat menteri untuk mengantar KTT III OPEC yang akan
dibuka, Sabtu ini, tidak disinggung pembahasan terhadap desakan dari
negara-negara konsumen minyak tentang niat OPEC untuk menaikkan produksi
dalam upaya meredam harga yang sudah mencapai rekor pada kisaran mendekati
100 dolar per barel akhir-akhir ini.

OPEC menaikkan pagu produksi sebesar 500.000 barel per hari pada awal
November lalu dalam upaya meredam laju lonjakan harga minyak, namun pasar
nyaris tidak bereaksi, harga minyak tetap bertengger mendekati l00 dolar.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke