*Pendidikan Dalam Konteks Migrasi*

Oleh: Christoph Heinzle dari *Bonn*

Tiap orang berhak memperoleh pendidikan darimana pun dia berasal dan berapa
pun usianya. Termasuk orang yang meninggalkan tanah air mereka.


Tetapi dalam hal ini terdapat ketegangan antara keinginan pendatang untuk
memperoleh standar hidup yang lebih baik dengan politik migrasi yang ketat
di negara yang bersangkutan.


Untuk membahas masalah tsb, Institut Kerjasama Internasional dari
Perhimpunan Balai Pendidikan Rakyat Jerman (DVV-International)
menyelenggarakan konferensi selama dua hari di Bonn. Topiknya: "HAM untuk
memperoleh pendidikan dalam konteks migrasi dan integrasi". Pertemuan itu
diikuti oleh sekitar 200 pakar dari lebih 60 negara.

Bila sekarang orang membicarakan pendidikan, yang dimaksudkan bukanlah hanya
untuk memperoleh ilmu di sekolah atau universitas, melainkan juga pengenalan
antarbudaya, informasi mengenai kebiasaan hidup sehari-hari, pentingnya
bahasa dan bagaimana mempelajari bahasa itu. Demikian dikemukakan Rita
Süßmuth, mantan ketua parlemen Jerman dan ketua Perhimpunan Balai Pendidikan
Rakyat Jerman Deutsche Volkshochschule Verband – disingkat DVV. Dalam hal
ini pendidikan bagi orang dewasa sangat penting:

"Pendidikan di usia dewasa, walaupun sejarahnya di Jerman kini sudah 100
tahun, selalu hanya merupakan pendidikan tambahan. Pendidikan itu dapat
diikuti tetapi tidak dianggap sebagai hal yang diperlukan. Keistimewaan dari
pendidikan bagi orang dewasa adalah karena mencakup hal-hal yang kurang
diperhatikan dalam masyarakat. Yakni segi kebudayaan."

Aspek hubungan antarbudaya dalam pendidikan orang dewasa terutama penting di
negara-negara yang banyak menerima pendatang. Saat ini di seluruh dunia
terdapat sekitar 200 juta warga yang tidak hidup di tanah airnya. Kehidupan
bersama antara pendatang dan masyarakat setempat dapat dipermudah lewat
pendidikan. Demikian pendapat Wade Pendelton, gurubesar anthropologi yang
sejak 15 tahun meneliti proses migrasi di selatan Afrika: "Ada dua hal yang
penting. Pendidikan orang dewasa dapat mengurangi tingkat buta aksara di
kalangan pendatang dan memacu pendidikan profesi mereka. Sedangkan bagi
masyarakat setempat, itu dapat memberikan informasi mengenai kontribusi apa
saja yang diperoleh dari pendatang. Ini dapat menghilangkan perasaan takut
dan sikap memusuhi para migran itu."

Kaitan antara pendidikan bagi orang dewasa, migrasi dan integrasi merupakan
bahasan selama dua hari dalam konferensi di Bonn itu. Ada tiga forum untuk
saling bertukar pengalaman, yakni bahasa sebagai kunci integrasi,
partisipasi warga migran dalam politik di negara yang didatanginya dan
situasi para pendatang di tanah air mereka.

Institut Kerjasama Internasional dari Perhimpunan Balai Pendidikan Rakyat
Jerman disingkat DVV International, bekerja di bidang pendidikan
internasional di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin.
Beate Schmidt-Behlau pembicara untuk soal-soal antarbudaya dan antaragama
dari DVV Internasional mengemukakan: "Keistimewaan konferensi ini adalah
dihadapkannya sisi yang berbeda. Perspektif di negara asal dan di negara
yang didatangi. Karena biasanya hanya satu sisi yang dilihat. Yang kami
inginkan adalah melihat semuanya lewat ketiga tonggak yang penting, yaitu
dari sudut nasional, Eropa dan internasional. Karena sebenarnya itu hanyalah
sisi yang berbeda dari satu medali."

Dalam mengemban tugasnya DVV Internasional menghadapi dilema. Sebab,
walaupun diberikan pendidikan dan upaya pengentasan kemiskinan, tetapi masih
tetap saja banyak warga meninggalkan tanah airnya. Oleh sebab itu timbul
pertanyaan, apakah pendidikan diberikan agar kehidupan mereka di tanah air
lebih baik, atau agar mereka mudah menyesuaikan diri bila beremigrasi?
DVV Internasional berharap, agar dalam konferensi di Bonn ini mereka
memperoleh kemungkinan untuk menyelesaikan dilema yang dihadapi. Karena
dengan demikian lembaga itu akan dapat menyusun dengan lebih baik lagi
program kerja mereka di negara-negara berkembang.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke