http://www.antara.co.id/arc/2007/11/23/tumpek-landep-jaga-kesucian-teknologi-di-bali/


*Tumpek Landep, Jaga Kesucian Teknologi di Bali*

Oleh I Ketut Sutika

Denpasar (ANTARA News) - Hari keagamaan umat Hindu dalam beberapa pekan
belakangan jatuh secara beruntun.

Dalam bulan ini terdapat dua hari suci, yakni Hari Raya Saraswati, hari
turunnya ilmu pengetahuan yang jatuh pada Sabtu (10/11), menyusul Hari
Pagerwesi (meningkatkan keteguhan iman) yang dirayakan umat Hindu pada hari
Rabu (14/11).

Umat Hindu setelah merayakan kedua hari baik itu, kembali akan merayakan
Hari Tumpek Landep, Sabtu (24/11), yang kali ini bertepatan dengan hari
Purnama, untuk melakukan persembahan suci bagi segala jenis benda tajam
seperti keris dan senjata pusaka.

Demikian pula persembahan terhadap berbagai jenis alat produksi dan aset
antara lain mesin, kendaraan atau benda-benda yang terbuat dari besi,
tembaga, emas, perak dan benda-benda teknologi lainnya.

"Tumpek Landep merupakan hari peringatan untuk memohon keselamatan kehadapan
Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata atau peralatan
dari bahan besi, logam, perak dan emas," tutur Ketua Program Studi Pemandu
wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar, Drs I Ketut Sumadi
M.Par.

Pria kelahiran Gianyar yang juga mahasiswa program doktor (S-3) Kajian
Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, Tumpek Landep juga sebagai
"pujawali" Betara Siwa yang berfungsi melebur dan "memralina" (memusnahkan)
agar kembali ke asalnya.

Melalui perayaan "Tumpek Landep" umat manusia diharapkan dapat lebih
menajamkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) untuk kegiatan
yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

"Tumpek Landep" salah satu hari yang cukup diistimewakan umat Hindu jatuh
setiap 210 hari sekali. Kala itu masyarakat Bali menggelar kegiatan ritual
yang khusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, berkat jasanya
yang telah mampu memberikan kemudahan dalam mencapai tujuan hidup.

Persembahan korban suci, menurut Ketut Sumadi, juga ditujukan untuk
alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit dan alat-alat pertanian lainnya
bagi seseorang yang profesi sebagai petani.

Demikian pula mobil, sepeda motor, sepeda angin, mesin-mesin, komputer,
televisi, radio, pisau, keris, tombak dan berbagai jenis senjata, juga
mendapat persembahan banten, rangkaian khusus kombinasi janur, bunga, buah
dan aneka jajan.

Mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya pada hari Tumpek
Landep juga mendapat perlakuan istimewa, diberi persembahan sesajen dan
hiasan khusus dari janur yang disebut "ceniga", "sampian gangtung", dan
"tamiang".

Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi
canggih, hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah kehidupan
manusia di dunia ini.

Menurut Sumadi, teknologi canggih harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang
bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali, "Tri Hita Karana",
hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan
lingkungan dan manusia dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh sebab itu, seluruh peralatan yang dipakai umat manusia untuk mengolah
isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau
perak, harus tetap dijaga kesuciannya.

Dengan demikian selamanya diharapkan dapat digunakan dengan baik tanpa
merusak alam. Orang yang bekerja sebagai petani misalnya, akan merawat dan
menjaga alat-alat pertaniannya dengan baik, seperti bajak, cangkul, dan
sabit.

Sementara masyarakat yang bekerja sebagai pembuat berbagai peralatan dari
bahan baku besi, baja, emas, perak (perajin) pun akan memelihara dan menjaga
peralatannya.

Vibrasi Kesucian

Wisatawan mancanegara yang menikmati liburan di Pulau Dewata, ada di
antaranya memiliki aura spiritual yang kuat, sehingga mereka bisa merasakan
rangkaian ritual di Pulau Dewata. Termasuk Tumpek Landep menjadikan bumi
Bali penuh memancarkan vibrasi kesucian, kedamaian dan kenyamanan.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Bali Drs I Gde Nurjaya, pelancong pun memuji
tradisi penuh ritual ini sebagai kegiatan yang penuh spirit kemanusiaan
dalam membangun manusia yang arif yang dapat memanfaatkan kemajuan iptek.

Seirama dengan kemajuan itu, orang-orang Bali semakin banyak memiliki sarana
kelengkapan rumah tangga yang terbuat dari besi maupun tembaga.

Sarana perlengkapan itu antara lain mobil, sepeda motor, televisi, radio,
dan jenis peralatan lainnya. Bagi mereka yang terjun dalam bisnis foto copy
dan percetakan yang mengoperasikan berbagai mesin, juga melaksanakan upacara
Tumpek Landep, dengan panjatan doa agar peralatan yang mereka gunakan lebih
awet dan tidak segera rusak.

"Kalau mobil-mobil mewah itu bisa berkomunikasi, tentu berharap dibeli oleh
orang Bali, karena selain dirawat dengan baik, juga mendapat perlakuan
khusus pada hari Tumpek Landep," ujar Nurjaya.

Semua peralatan dari besi, termasuk mesin, harus terpelihara kesuciannya,
dengan harapan tidak menimbulkan masalah bagi kehidupan umat manusia dan
alam semesta.

Perawatan dan pemeliharaan yang dimaksud, baik secara fisik, maupun niskala
(gaib) dengan melaksanakan kegiatan ritual yang disebut upacara Tumpek
Landep.

Upacara tersebut dilaksanakan untuk memohon keselamatan kehadapan "Sang
Hyang Pasupati", manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa pencipta dan
pemilik peralatan yang terbuat dari besi, perak, emas.

Makna dari pelaksanaan upacara Tumpek Landep menurut Sumadi, ayah dari dua
putra itu, adalah mengasah dan meningkatkan ketajaman pikiran, menjaga
kesucian teknologi serta mohon kekuatan lahir batin agar manusia selamat
dalam mengarungi "samudera kehidupan".

Umat manusia hendaknya terus meningkatkan ketajaman dan kecerdasan akal
serta pikiran dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sebab dari semua
makhluk yang dilahirkan ke dunia, hanya manusia yang dibekali kecerdasan
akal dan pikiran.

"Manfaatkanlah itu untuk membebaskan diri dari samsara atau penderitaan dan
kelahiran berulang-ulang," ujar Sumadi seraya menjelaskan, secara teknis
pelaksanaan upacara Tumpek Landep diuraikan dalam lontar Sundarigama, salah
satu kitab ajaran agama Hindu.

Adapun sesajen yang dipersembahkan pada hari Tumpek Landep terdiri atas
tumpeng putih kuning selengkapnya dengan lauk sate, terasi merah, daun dan
buah-buahan 29 tanding (kelompok) dihaturkan di sanggah/merajan (tempat
suci)`.

Persembahan kepada Sanghyang Pasupati berupa sebuah "Sesayut" Pasupati,
sebuah "Sesayut Jayeng Perang", sebuah "Sesayut Kusumayudha", "Banten Suci",
"Daksina, Peras, Ajuman, Canang Wangi, Reresik atau Pabersihan", yang
semuanya terbuat dari rangkaian janur.

Besar kecilnya upacara tersebut dilaksanakan sesuai kemampuan seseorang atau
perusahaan. Biasanya perusahaan besar akan menambah upacara ini dengan
membuat pesta masakan khas Bali.

Oleh sebab itu tidak mengherankan, jika berbagai benda, termasuk mesin-mesin
dan mobil pada hari Tumpek Landep dihias sedemikian rupa dengan berbagai
ornamen "reringgitan" yang terbuat dari janur dan kain warna putih kuning.

Mobil atau sepeda motor yang usai diupacarai biasanya tidak dilepas
perhiasannya, sehingga saat melintas di jalan raya mobil itu tampak berbeda
dengan hari-hari biasa.

Warga masyarakat pun tampak lebih waspada di jalan, karena hari itu adalah
hari istimewa bagi kendaraan kesayangannya. Jika makna universal Tumpek
Landep itu bisa dihayati dan diamalkan oleh seluruh umat manusia di muka
bumi, tentu tidak akan terjadi berbagai kerusakan lingkungan.

Tentu sangat bagus jika spirit perdamaian dari upacara Tumpek Landep yang
dilaksanakan umat Hindu di Bali terus didengungkan ke seluruh penjuru dunia
dalam membangun kehidupan dunia global yang damai sejahtera, ujar Ketut
Sumadi. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke