http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0711/23/092431.htm

*Kapak Purba Ditemukan di Kudus*

KUDUS, KOMPAS - Tim Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan tiga batu yang
berfungsi sebagai kapak dan sabit yang digunakan manusia purba (Homo
erectus) di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus,
Jawa Tengah, Kamis (22/11). Penemuan ini menjadi kunci pengungkapan tabir
kehidupan purba di Situs Patiayam.

Dengan penemuan tersebut, terkuak sudah bentuk budaya manusia purba yang
diperkirakan hidup pada bentang waktu 1 juta hingga 500.000 tahun yang lalu.
Selain itu, Tim Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin langsung Kepala
Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto juga menemukan fosil gajah purba
(Stegodon trigonocephalus) dalam kondisi relatif utuh.

Siswanto maupun arkeolog senior Harry Widianto menyatakan, penemuan tersebut
tergolong istimewa, mengingat perburuan tim ahli untuk menguak Situs
Patiayam sudah dimulai sejak 1979 dan baru sekarang bisa menemukan benda
yang menjadi kunci pembuka tabir Situs Patiayam secara lengkap

Artinya, Situs Patiayam yang tercatat sebagai situs hominid bersama Situs
Sangiran, Trinil, Kedungbrubus, Perning, Ngandong, dan Ngawi telah terkuak
jati dirinya. Hal itu termasuk berbagai jenis binatang purba dan jenis
batuannya. "Memang, dibandingkan dengan Sangiran, manusia purba di Situs
Patiayam jauh lebih sedikit, hanya bisa dihitung dengan jari tangan," ujar
Harry.

Temukan tengkorak

Tim Geologi Institut Teknologi Bandung yang dipimpin Yahdi Yaim baru
menemukan sebuah gigi prageraham bawah dan tujuh buah pecahan tengkorak
manusia serta sejumlah besar tulang belulang binatang purba pada tahun 1979.
Namun, Franz Wilhem Junghuhn, warga Jerman, telah menemukan lebih dahulu
fosil vertebrata tahun 1857.

Menurut catatan Kompas, pada akhir November 1981 , warga Desa Terban,
Sukarmin (56), menemukan dua fosil gading gajah purba yang berukuran 3,17
meter dan 1,14 meter. Benda bersejarah ini sampai sekarang masih disimpan di
Museum Ronggowarsito Semarang, Jawa Tengah.

Lokasi penemuan fosil gajah purba yang berada di atas ketinggian 78 meter
dari permukaan laut, Kamis siang, itu untuk sementara ditutup dengan plastik
dan diuruk tanah. Pengamanannya diserahkan kepada Paguyuban Pelestari Situs
Patiayam. Hal itu dilakukan mengingat Tim Balai Arkeologi Yogyakarta harus
kembali ke markasnya di Yogyakarta, Jumat ini.

"Kami akan kembali dengan membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan
untuk mengangkat dan mencetaknya dengan bahan khusus. Ini butuh biaya
tentunya," ujar Siswanto.

Harry sangat menyayangkan, berbagai penemuan tersebut sampai sekarang belum
pernah ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten Kudus maupun jajaran DPRD. (SUP)


Sumber: Kompas


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke