Mohon maaf untuk yang satu ini....
Berikut saya postingkan respon untuk tulisan Andreas
Jalan Baru-Jalan Pembebasan (selengkapnya silah baca
di www.berpolitik.com, rubrik Posting Anda 27 Nopember
2007)
1.Perlu Terobosan Substansial
2.Membangun Jalan Perubahan
3.INI MEDANG PERANG BUNG
4.Apa Ada Calon Pemimpin Yang Pantas untuk 2009?
(poling kompas)
5.Kita Turut Berdosa
Mohon juga komentar, kritik, saran kawan-kawan semua.
Terima kasih
Andreas Iswinarto
Perlu Terobosan Substansial
Respon untuk gagasan kawan andreas tentang Jalan Baru
Jalan Pembebasan
(Rubrik Posting Anda Selasa 27 November)
Kesan pertama membaca tulisan bung , seperti membaca
puisi ,"Aku bagai binatang jalang dari kumpulan
terbuang.... Biar peluru menembus kulitku. .." Ini
kesan atas teks. Kesan artinya pengaruh emosional yang
ditimbulkan oeleh teks atas pembaca.
Ada repetisi yang ramai, itu khas puisi/mars
perjuangan.
Kaitannya dengan politik? Politik juga bermain dengan
kesan. Bedanya, kesan dlm politik berimplikasi luas,
dan bermuara pada kekuasaan (setidaknya politik
Indonesia). Pertanyaannya, kesan oleh sebuah teks
bernada puitis, apakah cukup membangkitkan gelora
semangat berjuang/malah membuat orang menjadi perenung
apatis? Bila teks yang dilahirkan adalah repetisi
peristiwa sos-bud sehari-hari tanpa sebuah upaya
terobosan substansial, maka bisa contra produktif.
Teks yang memberi terobosan mengandaikan sebuah subjek
pembaca yang juga memikirkan tentang terobosan.
Namanya juga terobosan, ia bukan repetisi inisiatif
yang sudah berulang2 dan tak efektif.
Bahwa rakyat bersimbah keringat, itu adalah fenomena
umum yang sudah lama diketahui sejak dunia manusia
tercipta. Tapi bahwa ada pembela yang berdiri dipihak
rakyat, itu umumnya retorika. Jarang sebuah teks yang
bersifat retorik dapat melahirkan sebuah kelompok yang
idealis. Karena itu terobosan yang saya maksud
haruslah berupa sebuah gagasan yang baru sama sekali.
Misalnya, agama mengajarkan adanya nabi dan Tuhan,
yang akan menjadi penyelamat eskatologis bagi umat.
Adakah yang berani menuliskan sebuah tulisan yang
radikal bahwa agama sejauh ini menjadi bagian dari
problem rakyat, bahkan bagian dari penindas, bahwa
hukum eskatologis harus ditafsirkan kembali? Dan pula
bahwa manusia berubah dan karena itu idea tentang
keselamatan harus juga ditafsirkan kembali? Dan bahwa
Tuhan pun harus ditafsirkan kembali?
Atau contoh lain, bahwa kader adalah ujung tombak
organisasi, tapi dalam prakteknya, mereka bukan ujung
tombak yang harus dipelihara & dirawat melainkan ujung
yang dapat dikorbankan setiap saat dan bahwa yang
perlu dirawat dan diruwat hanyalah pemimpin partai
atau organisasi?
Hak asasi manusia adalah sebuah ideal tentang
penghargaan terhadap individu manusia karena dia
manusia. Namun, ide selalu lahir di tengah sebuah
budaya masyarakat tertentu dan karena itu harus
mengalami kontekstualisasi dalam masyarakat itu. Dalam
sebuah masyarakat dengan ide individualitas yang tidak
cukup kuat sedangkan kolektifitasnya yang kuat, maka
hak yang harus dipromosikan untuk menimbulkan kesan
bagi masyarakat tersebut adalah persoalan
kolektifitas. Namun yang namanya pembaharusan radikal
harus juga memberi catatan kritis atas kolektifitas
itu, karena toh manusia berubah. Sebuah prediksi dan
asumsi tentang masa depan dapat menjadi landasan atas
kritik terhadap sebuah ide.
Dalam gerakan petani, persoalan individu dan unit
keluarga adalah persoalan inti di Indonesia. Dalam
komunitas masyarakat adat, harmoni adalah sebuah ideal
struktural komunitas. Bagaimana menarik simpati dan
menimbulkan kesan pada dua kelompok dengan trend
sosio-kultural yang berbeda seperti ini?
Judul tulisan Andreas memikat: Rakyat adalah kekuatan
utama. Benarlah itu, karena pada mulanya adalah
rakyat, baru struktur, baru kekuasaan. Sebuah
keterpencaran individu yang kemudian menyatu dalam
sebuah idea kolektif yang menciptakan struktur
relasional dan kekuasaan. Jadi memang benar rakyat
adalah sumber kekuasaan. Dan kekuasaan tertinggi
(daulat). Karena itulah maka pemerintah disebut
eksekutif (pelaksana) dari mandat. Upaya menggapai
kekuasaan dalam politik praktis adalah merebut hati
nurani rakyat (tapi bukan Hanura ya). Upaya itulah
yang dilakukan pergerakan, dengan berbagai metode dan
pendekatan.
MEMBANGUN JALAN PERUBAHAN
Menarik apa yang telah dituliskan oleh kawan Andreas,
beberapa gagasan sebagai solusi problem krisis rakyat
dan negara saat ini. Pun begitu, penegakkan HAM,
penegakkan keadilan sosial dan penegakan keadilan
ekologi bukanlah anugerah yang serta-merta turun dari
langit, tetapi buah dari kerja keras yang
mempertaruhkan keringat, air mata dan darah. Olehnya,
gagasan ini menyisakan pertanyaan, bagaimana
mewujudkannya? Tentunya bukan hal mudah untuk
menemukan jawabannya di tengah carut-marut kondisi
ekonomi, politik, sosial dan budaya saat ini dan di
sisi lainnya ada carut-marut gerakan sosial-politik
kaum pergerakan.
Masalah ini perlu diurai lebih dalam, untuk maksud itu
saya ingin menyumbang dua hal yang tentu saja tidak
bisa menjawab secara keseluruhan.
Pertama, mewujudkan perubahan sejati bagi rakyat dan
tanah air ini membutuhkan penggerak yang secara
kukuh-konsisten menempatkan dirinya sebagai kekuatan
perubahan. Dalam pembicaraan panjang mengenai
perubahan, hampir umumnya berkutat pada gagasan yang
meletup-letup tetapi kemudian melayang entah kemana.
Dalam soal ini, ada banyak kritik terhadap pelaku
gerakan, diantaranya adalah bagaimana fragmentasi dan
polarisasi terjadi secara luas. Selain itu, kaum
pergerakan bekerja mengalienasi dirinya dari rakyat
yang menurut kawan Andreas sebagai kekuatan utama
menuju perubahan. Fragmentasi dan polarisasi dalam
pandangan saya dimulai dari kegamangan kaum pergerakan
menyikapi momentum-momentum perubahan sejak runtuhnya
rezim dikatator Soeharto. Kegamangan ini ditunjukan
dengan munculnya advonturisme dan oportunisme karena
ketidaksabaran dan ketidaktekunan membangun
kecerdikan-kecerdik an menghadapi musuh-musuh
perubahan yang licik. Kerap dalam prakteknya kaum
pergerakan justru menjadi kolaborator musuh-musuh
perubahan.
Biasanya praktek ini diambil berdasar pada
argumentasi, bahwa dalam situasi politik liberal saat
ini sulit untuk melakukan konsolidasi lebih rapih
sehingga sebagian kawan memilih taktik bersandar pada
elit dan alat kekuasaannya. Ada pula yang justru
menyalahkan situasi kesadaran kritis massa rakyat yang
lebih memilih membebek pada kemauan elit
politik-ekonomi yang sedang berkuasa. Argumentasi ini
menurut saya adalah mitos yang tanpa sadar dibangun
sendiri oleh kaum pergerakan. Ketakberdayaan dan
kemudian menjebak diri ke dalam mitos semacam itu,
sudah saatnya untuk diperiksa dengan lebih teliti.
Bukankah juga penting untuk melakukan otokritik
terhadap praktek pergerakan yang dibangun, yang
berimplikasi pada rapuhnya konsolidasi dan lemahnya
pewujudan kesadaran kritis massa rakyat, ketimbang
menyalahkan situasi yang harusnya disikapi secara
cerdas? Fenomena munculnya berbagai aliran dan faksi
dalam tubuh pergerakan memang adalah suatu yang lumrah
dalam sejarah, akan tetapi dalam situasi dimana
musuh-musuh perubahan kembali menguat, sudah
seharusnyalah kaum pergerakan mengupayan kembali
perapatan barisannya. Kebutuhan saat ini adalah
kembali membangun persatuan dengan menetapkan rezim
neoliberalisme ini sebagai musuh bersama. Agak miris
bagi saya ketika gagasan persatuan itu justru tak bisa
diselesaikan di tengah arus neoliberalisme mengalir
deras dan konservatisme serta militerisme semakin hari
kian menguat. Marilah duduk bersama dengan lebih jujur
dan berlapang dada mengelola perbedaan-perbedaan yang
menurut saya lebih banyak disebabkan oleh problm
intersubyektifisme antar kaum pergerakan itu sendiri.
Kedua, mewujudkan gagasan-gagasan perubahan
membutuhkan satu bangunan pekerjaan yang terstruktur
dan kongkrit. Mewujudkan gagasan perubahan berarti
pula menghancurkan sistem lama yang bekerja menghambat
atau bahkan menyerang langkah menuju perubahan. Dalam
pengalaman praktek kaum pergerakan, fragmentasi dan
polarisasi berimplikasi pada tidak terstrukturnya
konstruksi gerakan yang memiliki strategi dan taktik
bersama yang tepat. Dengan kata lain, masing-masing
faksi gerakan mengembangkan strategi dan taktik yang
tidak menemukan titik sinergi. Menurut saya, tugas
mendesak saat ini adalah menghancurkan setiap
penghalang demokrasi, mendidik massa rakyat untuk
berlawan dan merebut ruang-ruang kekuasaan. Dalam
pandangan kawan Andreas, saatnya berpolitik aktif
menjadi penentu arah.
Menurut saya, berpolitik aktif harus diterjemahkan
dalam praktek berpolitik bersama massa rakyat sehingga
kerja-kerja politik penghancuran bangunan dan sistem
yang menghambat dan menyerang perubahan sejati bagi
rakyat dan tanah air, akan dijalankan secara paralel
dengan pendidikan memajukan kesadaran massa rakyat
yang berberlawan. Artinya, praktek politik ini harus
dijalankan bersama massa rakyat di setiap tingkatan
wilayah, mulai dari kampung sampai ke jantung
kekuasaan di Jakarta. Praktek politik ini bisa
dibangun dari berbagai isu dan sektor yang tersedia
saat ini, mulai dari soal pergantian kepala desa,
praktek korupsi, sengketa agraria, konflik perburuhan,
problem ekologis, problem pemiskinan di perkotaan,
praktek diskriminasi perempuan sampai ke isu
masyarakat adat dan seterusnya. Bukankah arus deras
neoliberalisme yang menjadi musuh bersama itu telah
bersemayam di setiap isu dan sektor rakyat? Kebutuhan
konsolidai politiknya adalah bagaimana menyediakan
satu alat politik bersama yang menjadi penuntun
gerakan dari semua tingkatannya. Ini hanya bisa
dibangun jika Jakarta sebagai pusat kekuasaan mau
menyeselesaikan problem faksionalisasi yang kurang
rasional saat ini, karena dalam pengalam praktek
selama ini, faksionalisasi Jakarta menjalar ke
daerah-daerah lalu mencipta friksi subyektif (walaupun
banyak juga yang menyebut friksi itu ideologis
sifatnya).
Itu dulu pendahuluan diskusi saya, maaf jika tak
mengena. Akhirnya, tibalah saatnya untuk menuntaskan
setiap problem gerakan ini. Saya berharap kawan-kawan
akan mulai membahas secara serius dan kongkrit.
Mungkin bisa dimulai dari Pergerakan Kaum Muda
Indonesia.
Demikian kawan dan salam hormatku selalu
Aristan
pijarapi.multiply.com
INI MEDANG PERANG BUNG
Dari Nico
Dalam kondisi perpolitikan yang ada sekarang: jargon
pelanggaranHAM, penindasan rakyat, kemiskinan, dsb.,
dipakai pula oleh lawan-lawan politik kita (baca
berbagai visi dan misi partai-partai baru-lama).
Kata-kata itu menyebabkan rakyat alergi, apatis dan
dianggap lagu 'nina bobok'. Untuk itu, pemilihan
kata-kata untuk 'pemasaran' gerakan perlu membaca
kondisi masyarakat tersebut. Saat ini kondisinya
masyarakat kita sudah muak dengan ulah para politisi
Indonesia yang menguber-uber janji dimasa kampanye dan
dengan gampang mengingkari janji-janjinya untuk
melawan penindasan terhadap rakyat. "Muak" ini bukan
saja terjadi di perkotaan, tetapi juga sudah merasuk
sampai di pedesaaan. Mencermati hal ini, maka saya
mengusulkan kata-kata yang lebih progresif sifatnya
seperti PERANG MELAWAN PENINDASAN, BERSATU
MENGHANCURKAN PENINDAS, PERTEMPURAN DI NEGERI
INDONESIA. Ini sekedar usul saja setelah mengamati
pertempuran kalangan partai-partai politik sekarang.
"Apa Ada Calon Pemimpin Yang Pantas untuk 2009?"
Cerita Kawan Tjong dari Bogor
Dua hari lalu, saya mendapat telepon dari litbang
Kompas. Tujuan penelponan untuk pengisian daftar
pertanyaan polling tentang pendapat LSM atas
Kepemimpinan Indonesia masa datang. Salah satu
cuplikan wawancara seperti berikut:
Penanya: "Apa ada calon pemimpin yang pantas untuk
Indonesia di 2009?"
Saya: "Belum ada."
Penanya: "Sebut tiga hal penting untuk perbaikan
Indonesia dan menjadi syarat kepemimpinan Indonesia ke
depan?"
Saya: "Internasilisasi dan penegakan konstitusi,
penegakan hukum termasuk mereformasi total system
hukum, penghilangan kebiasaan buruk administrator
negara yang sedari kolonial berlangsung hingga kini,
kolusi, korupsi dan nepotisme."
Penanya: "Benar belum ada tokoh yang bisa melaksanakan
yang anda sebutkan tadi?"
Saya: "Lebih banyak keraguan menyelimuti saya, ada
calon pemimpin yang seperti saya mau."
Penanya: "Anda umurnya berapa, ada keinginan untuk
jadi presiden?"
Saya: "34 tahun, tidak!" (Nada suara saya meninggi).
Penanya: "Belum, atau tidak?"
Saya: "TIDAK!" (Nada suara saya lebih meninggi dari
sebelumnya).
Penanya: "Bener nih...belum atau tidak?"
Saya: "TIIIIIIIIIIIDAAAAA AAAK!" (Nada suara saya
meninggi dan alunnya memanjang).
Penanya: "Ada tidak tokoh LSM yang pantas jadi
Presiden Indonesia ke depan?"
Saya: "Belum ada."
Penanya: "Alasannya?"
Saya: "LSM bagian kebangkrutan negara masa sekarang."
Penanya: "Ini pertanyaan terakhir, dibanding partai
apa LSM lebih berhasil melakukan perubahan, dan apa
sebaiknya LSM jadi partai politik?"
Saya: "30% hasil perubahan di Indonesia oleh LSM,
seharusnya LSM masuk parlemen, atau jadi partai
politik, terutama demi perubahan kebijakan."
Semoga cuplikan wawacara polling Kompas ini bermanfaat
bagi dinamika debat di berbagai tempat. Sebagian lagi
isi wawancara terlupakan, dan yang saya tulis ini
adalah yang mampu saya ingat.
Kita Turut Berdosa
Dari Dadang Sudardja
Kita yang memiliki kesadaran kritis turut berdosa
apabila membiarkan republik ini terus begini. maksudku
dalam penguasaan dan cengkraman para kapitalis.
Penguasaan atas hak-hak rakyat harus segera diakhiri.
Apa yang ditawarkan bung Andreas jalan baru menuju
Indonesia lain adalah sesuatu yang rasional untuk kita
perjuangkan bersama. Hari ini kita butuh pemimpin baru
untuk membuka jalan baru menuju indonesia yang
berdaulat. Bersatu, Bersarekat dan Berlawan adalah
semangat yang tidak bleh pudar dalam jatidiri bansga
Indonesia. Tentu saja kita akan senantiasa melakukan
perlawanan terhadap segala bentuk ketidak adilan yang
mengilangkan hak - hak dan nilai kemerdekaan rakyat
yang sesungguhnya
____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
http://overview.mail.yahoo.com/