Dari Koran Jurnal Nasional, 25 November 2007

Persatean, Persotoan, Persatuan 

Bonnie Triyana

Belakangan ini kita dibikin senewen oleh berita klaim sepihak atas kekayaan 
budaya Indonesia oleh negeri tetangga. Lagu rasa sayange sampai dengan congklak 
kini telah diakui sebagai milik negeri jiran, seketika pula kita jadi latah, 
buru-buru mengiventarisir semua aset warisan budaya bangsa. Getir memang, 
terlebih ketika kita baru tersadar belakangan tentang hal yang selama ini tak 
kita anggap sebagai penting.

Tapi bagaimana jadinya kalau bangsa China menuntut atas budaya kuliner mereka 
yang telah jadi bagian kehidupan kita sehari-hari? Alamaak, bisa pusing hidup 
ini tanpa kwetiau, capcay,  soto, sate, bakso di meja makan kita. Kalau Anda 
jalan-jalan ke berbagai belahan dunia, kita dapat dengan mudah menemukan 
makanan China. Soal rasa jangan ditanyakan lagi, pasti cocok dengan lidah 
melayu.

Tapi satu hal yang tak pernah ditanyakan oleh kita sejak kapan gerangan 
berbagai jenis makanan itu masuk dan diterima di kalangan masyarakat kita? 
Sebuah pertanyaan yang tak pernah muncul karena biasanya kita langsung main 
santap zonder pikir panjang lagi. 

Soto, makanan yang sangat populer. Hampir di setiap daerah dapat ditemukan soto 
dengan variasi yang berbeda, disesuaikan dengan selera di tiap-tiap daerah. 
Soto Banjar tentu berbeda dengan Soto Madura atau dengan Soto Kudus. Tapi 
kendati berbeda, judulnya tetap sama: soto. Soto kemungkinan besar dibawa oleh 
masyarakat China yang datang ke Indonesia. Kapan tepatnya, belum ditemukan 
sumber yang mencatat kedatangan soto ke Indonesia. Namun “saudara kandung” 
soto, yakni laksa, diperkirakan telah disantap oleh penduduk Nusantara sejak 
zaman Majapahit. Dalam piagam Biluluk bertahun 1391 disebutkan kata “hanglaksa” 
yang berarti pembuat laksa, yang berarti juga pada tahun itu laksa telah 
dikenal oleh masyarakat. 

Sate juga tak kalah populernya di Indonesia. Bumbu kacang pada sate cukup 
digemari tidak hanya oleh masyarakat Indonesia, tapi juga wisatawan asing yang 
datang ke Indonesia, “saus yang eksotik,” kata mereka. Sate memang bervariasi. 
Di Banten ada sate yang tak dilengkapi dengan dengan bumbu kacang, panggang 
namanya. Di purwakarta juga terkenal dengan sate marangginya. Sate Madura dan 
sate Betawi adalah dua jenis sate yang paling terkenal dari semua sate di 
Indonesia. 

Ngomong-omong soal bumbu kacang, tentu pelengkap hidangan sate itu takkan ada, 
kalau kacang tanah tak tersedia. Nah, bagaimana sejarah kehadiran kacang tanah 
di Indonesia? Menurut Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya kacang tanah 
dikenal di Nusantara sejak abad ke-17, karena ditemukan pemeriannya di dalam 
flora Rumphius. Sementara itu hal yang sama juga diungkapkan oleh Jan Hooyman, 
seorang tuan tanah di Pondok Gede, dalam Verhandeling over de tegenwoordigen 
staat van den landbouw in de ommelanden van Batavia (Pembahasan mengenai status 
pertanian di pinggiran Batavia). Ia mengatakan kalau kacang tanah dibawa masuk 
ke Batavia oleh orang China sekitar 1755 . 

Kalau membicarakan soal persatuan Indonesia agaknya harus juga mengingat soal 
soto yang menyatukan Indonesia. Karena soto bisa ditemukan hampir di setiap 
daerah di Indonesia, sehingga soto turut pula menyumbangkan identitas 
ke-Indonesia-an. Sementara persatuan Indonesia hendaknya tidak perlu dipaksakan 
untuk bersatu seperti pada sate. Karena kalau dipaksakan, terlebih secara 
fasistis, bukan persatuan namanya, tapi persatean. Persatuan harus dibina 
berdasarkan saling pengertian dan keadilan sosial-ekonomi bagi seluruh rakyat 
Indonesia, seperti bunyi Pancasila sila ke-lima. Hidup Soto! Hidup Sate! Hidup 
Indonesia!


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke