Perempuan Menuntut Keadilan Iklim        PDF

By Wahyu Arifin, on 05-12-2007 12:53  

Published in : COP 13, Artikel

Semangat feminisme begitu tercium dalam forum diskusi rabu (5/12/2007)
pagi di bale Banjar Kangin (timur) di Kampung Civil Society Forum
(CSF), BTDC, Nusa Dua, Bali.

 

Diskusi tentang perspektif gender terhadap kebijakan perubahan iklim
ini menghadirkan Demplon dari CSF dan beberapa aktivis perempuan dari
Solidaritas Perempuan (SP). Selain membicarakan tentang gender,
diskusi ini membicarakan tentang sosialisasi Milennium Development
Goal's (MDG's) atau tujuan pembangunan milennium.

Menurut Demplon pemanasan global terjadi karena bolongnya lapisan ozon
yang melindungi bumi akibat efek Gas Rumah Kaca (GRK) seperti gas Co2,
CH4, NH3 dan gas-gas yang lain yang dihasilkan oleh emisi pembakaran
karbon di pabrik-pabrik juga oleh peralatan rumah tangga seperti
kulkas dan Air Conditioner (AC) yang menggunakan Freon.

Demplon juga menambahkan kalau perubahan iklim memperlambat
program-program MDG's dalam mengurangi angka kemiskinan. Selain
kemiskinan, MDG's mempunyai 8 komitmen dalam pembangunan milennium,
diantaranya lingkungan, kesehatan ibu dan anak serta pendidikan. Dan
ini merupakan alat untuk menagih janji pemerintah Indonesia terhadap
pengentasan kemiskinan.

Oleh karenanya perempuan harus membuat langkah maju dalam menuntut
keadilan iklim, karena perempuanlah yang lebih merasakan dampak
perubahan iklim. Beberapa gerakan feminisme membentuk Kaukus Perempuan
untuk UNFCCC yang akan mendesak delegasi pemerintah Indonesia untuk
melibatkan perempuan dalam kebijakan-kebijakan tentang pengelolaan
sumber daya alam.

Namun, dalam diskusi ini ada beberapa penolakan terhadap keterlibatan
pemerintah Indonesia dalam MDG's. Dewi, aktivis Solidaritas Perempuan
wilayah Aceh mempertanyakan mengapa harus mengikuti MDG's.

" Saya khawatir jika pengentasan kemiskinan dijadikan legitimasi oleh
pemerintah untuk meminta kucuran utang dari lembaga donor dunia
seperti World Bank dan IDB. Karena kita tahu begitu liciknya lembaga
donor dunia seperti mereka (World Bank& IDB-Red)," tegas Dewi.

Selain dewi, Rina yang juga aktivis SP mengatakan jika MDG's dijadikan
alat oleh kita untuk menagih janji kepada pemerintah, berarti gerakan
perempuan hanyalah gerakan pasif yang hanya menunggu.

" Hal ini mengesankan ada yang diberikan oleh pemerintah kepada
perempuan. Kita ini gerakan progresif dan aktif bukanlah gerakan
fasif!. " tandas Rina.

Para aktivis SP merasa jika kerusakan lingkungan dan perubahan iklim
yang terjadi selama ini akibat semangat keserakahan dari laki-laki
atau semangat patriarkal.

 

Kirim email ke