Catatan Laluta:

Kyai Haji Abdul Moestahal, yang panggilan akrabnya Pak Haji Moestahal telah 
menulis pengalaman hidupnya, dalam buku yang berjudul "Dari Gontor ke Pulau 
Buru". Pada tahun 2002 buku tersebut diterbitkan oleh Syarikat. Namun 
penerbitan buku memoar, yang mengisahkan perjalanan hidupnya Pak Haji Moestahal 
mustahil beredar ....lalu kenapa dan apa alasannya? Apakah 4 tahun setelah 
Soeharto lengser, masyarakat kehidupan bernegara kita ini masih mengalami 
"Trauma Kolektip" dari 32 tahun dibawah sistim pemerintahan rejim Soeharto ? 

Untuk itu silahkan baca reportase wawancara sang Penulis Memoar dari Pantau 
berjudul "Karena bau komuniskan buku itu ditarik?", ditulis oleh Indarwati 
Aminuddin

Salam,

MiRa

***

From: "B.DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]>
To: "!B.DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re.: Dari Gontor ke Pulau Buru
Date: Thu, 6 Dec 2007 08:02:24  +0700

http://www.pantau.or.id/news.detail.php?id=190
 
05 Aug 2002
 
Dari Gontor ke Pulau Buru

Karena bau komuniskan buku itu ditarik?

Oleh Indarwati Aminuddin

"BUKU itu salah, baik secara tehnis ataupun isinya. Jadi anggap saja tak pernah 
ada",suara H Muchadi Moestahal bergetar dari balik telepon. Penulis memoar 
"Dari Gontor ke Pulau Buru" itu buru-buru melanjutkan komentarnya. "Dan saya 
tak bisa terima wartawan, lagi sakit."

Haji Moestahal, panggilan akrabnya jadi sulit ditemui. Rumahnya di Ciasem I 
kosong. Telepon berdering tak lagi diangkat. Memoar yang cetak perdana April 
2002, lalu ditarik mendadak dari pasaran rupanya membuat pria tua itu shock. 
Tak ada yang tahu persis penyebabnya.

Padahal, tak ada yang mengejutkan dari buku itu. Halaman awal buku bersampul 
hijau tua dengan cover H Moestahal mengutip komentar Pramoedya Ananta Toer. 
"Perjalanan adalah hak bagi orang yang mengalami untuk diapakan saja  olehnya 
sendiri, dan tak ada kekuatan yang bisa merampasnya (1988).". Isinya bercerita 
banyak perjalanan seorang santri muda yang belajar formal di pesantren Gontor 
Ponorogo dan Pesantren Tebuireng, Jombang. Ada satu nama kyai yang ikut 
membentuk kepribadian Moestahal muda ketika itu, yakni Kyai Haji Abdul 
Mustahal. Lalu Joko Suyono, yang dianggap guru politiknya. Seorang pemimpin 
tentara progresif-revolusioner ketika itu.

Lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 April 1928, Moestahal kental dengan suasana 
keagamaan. Dan berlanjut hingga aktif di Tentara Keamanan Rakyat, embrio TNI. 
Dalam satu peristiwa, ia lalu banting haluan perjuangan, ke kiri. Sebuah 
gerakan yang menurutnya mempertemukan antara ideologi dan agama. Ia merasakan 
getaran dan bisa menghayatinya di suasana serba panas ketika itu. Setelah 
pecahnya Gerakan 30 September atau G30 S/ PKI, Moestahal menjadi buron, lalu 
akhirnya menjadi tahanan politik 1965-1966. Tapi itu tidak mengurangi minatnya 
pada gerakan kiri  ini. Karena baginya, semua opini tentang haluan kiri dan 
penindasan, kezaliman yang dialaminya adalah sesuatu yang akan terlindas 
sejarah.

"Saya menunjukkan simpati saya terhadap gerakan kiri karena menurut saya, 
memang ada persamaan-persamaan antara ajaran islam dengan pandangan orang 
sosialis komunis waktu itu," katanya. Ia berkata lagi. "Yang dimusuhi ideologi 
kelompok ini sama dengan ajaran Islam, yakni kemiskinan, keterbelakangan, 
praktek diskriminasi. Jadi...semboyan-semboyan revolusi Perancis tentang 
perjuangan kebebasan, persamaan dan kemerdekaan ini, juga sama sebetulnya, bisa 
didapat dalam sikap ajaran Islam."

Pandangan itu makin mengental seiring kekagumannya pada Presiden RI pertama, 
Soekarno. Di mata Moestahal, Soekarno adalah pemimpin yang tidak sekadar 
pemimpin. Ia mendudukkan hubungan nasional, hubungan Islam serta pergerakan 
dalam satu arah bagi landasan persatuan Indonesia. "Ini terlihat jelas saat 
Soekarno menjawab surat dari Ketua Umum PB  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), A 
Dahlan Ranuwijaya, yang minta penjelasan tentang negara nasionalis, Islam, 
ideologi Pancasila dan ideologi Islam," tulis Moestahal. Jawaban Soekarno?

"Bagaimanapun juga, aku minta kepada segenap bangsa Indonesia, baik yang 
nasionalis, maupun Islam, maupun Kristen, maupun Budha, maupun yang tidak 
beragama supaya menginsyafi benar-benar periode dimana kita hidup sekarang 
(1953), dengan tidak mengurangi HAM, mempropagandakan ideologi masing-masing, 
dengan tidak melarang umat Islam mempropagandakan islamnya, kaum komunis 
mempropagandakan komunisnya."

Karena bau komuniskan buku itu ditarik? Penerbitnya, Syarikat tidak memberikan 
komentar apapun. Tekanan pemerintah? Sepertinya bukan. Penyunting buku itu, 
Ahmad Subhan Burhan, biasa disingkat A.S Burhan bercerita, buku tersebut 
ditarik dengan alasan "sangat pribadiï"."Tekanan keluarga. Itu yang pasti. 
Mereka trauma dan saya juga ikut sadar, kalau sebenarnya buku itu terbit disaat 
 yang tidak tepat," katanya. "Ehm..tapi saya tidak tahu kalau ada kesalahan 
tehnis ataupun isi seperti kata Pak H Moestahal," sambungnya.

Burhan mengenal H Moestahal Desember 2000 di gedung LIPI Jakarta dalam seminar 
"Masa lalu dan kemanusiaan". Tahu-tahu ia cocok dengan mantan tahanan politik 
1965-1966. Begitu sebaliknya. Burhan tertarik perjalanan hidup H Moestahal dan 
pria tua itu, sejak ditahan di Rutan Salemba, telah berniat mengalirkan cerita 
hidupnya, agar tidak sekadar menjadi cerita dalam tembok penjara. Setali tiga 
uang. Kisah itupun mengalir. Burhan jadi penyunting. Setahun, dan harus 
hati-hati, menorehkan bahasa lisan H Moestahal jadi tulisan. Juga ada sebersiit 
ketakutan, tekanan keluarga terulang, misalnya.

"Saya lalu bertanya, sudah beritahu keluarga, Pak Haji?"

Pria tua yang ingatannya cukup kuat dan sangat serius mengikuti perkembangan 
politik di Indonesia berucap." Nanti..nanti saya sampaikan pelan-pelan." Dan 
penulisan memoar itupun  jalan terus.

Keduanya makin lengket. Tidak hanya soal memoar dan sejarah politik H Moestahal 
yang dialirkan dalam persahabatan itu. Masalah pribadi sering nyerempet tanpa 
sadar dari lubuk hati pria tua itu. "Disebut apa ya? Teman curhat?"

Buku itupun terbit. Bercover H Moestahal dengan senyum cerah. Yang laku belum 
seberapa, saat buku ditarik. Burhan masgul. Dan baru tahu, H Moestahal tidak 
memberitahu keluarganya. H Moestahal tersudutkan oleh keluarganya."Mulanya saya 
tidak bisa menerima penarikan itu, tapi lalu tersadar, opini publik dan 
pemerintah kan memandang kelompok ini seperti apa ya?". Ia akhirnya setujuï 
dengan penyesalan ikut membuat hati tua itu terluka di usia lanjutnya. "Kasihan 
orangtua itu," katanya.
 
*
&nbs

Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke