Optimis, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 mencapai 7%

-------------------------------------------------------------
http://www.antara.co.id/arc/2007/12/6/bi-inflasi-2008-cenderung-menurun/

*BI: Inflasi 2008 Cenderung Menurun*

Jakarta (ANTARA News) - *Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda
S Goeltom* mengatakan kajian BI memperlihatkan adanya tren (kecenderungan)
inflasi tahun 2008 menurun dibandingkan tahun ini.

"Inflasi tahun depan lebih rendah dari tahun ini yang mencapai 6,33-6,7
persen," katanya di Jakarta, Kamis.

Ia mengemukakan kajian BI terhadap inflasi tahun depan yang cenderung
menurun tersebut telah menggunakan angka-angka yang pesimistik seperti harga
minyak yang tinggi dan harga komoditas yang tetap tinggi.

Ia menambahkan kajian BI yang menunjukkan adanya tren menurun itu telah
menjadikan salah satu alasan bagi bank sentral itu untuk menurunkan suku
bunga acuan (BI Rate) dari 8,25 persen menjadi 8 persen.

Sementara itu, ia mengatakan, tekanan akibat krisis kredit perumahan di AS
(Subprime mortgage) tidak berimbas banyak terhadap Indonesia. Hal ini tampak
dari kinerja perbankan yang masih bagus.

"Kami tidak melihat itu (subprime mortgage) terjadi di Indonesia. Perbankan
kami lihat datanya masih baik, bahkan membaik, NPL (kredit bermasalah)
turun, CAR (rasio kecukupan modal) tetap baik, rencana bank-bank memenuhi
target API (arsitektur perbankan Indonesia) semua sudah akan tercapai,
kemudian kemampuan manajemen risiko perbankan juga lebih baik," katanya.

Untuk itu, menurut dia, itu justru menjadi alasan bagi BI untuk menurunkan
suku bunga acuannya. "Dengan resiliensi semacam itu penurunan suku bunga
justru merupakan langkah yang tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan
sementara stabilisasi yang merupakan tugas utama kita tetap terjaga dengan
baik," katanya.

Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi 2008, menurut dia, tetap akan tinggi
meski terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi dunia.

"Di tengah-tengah kegalauan perekonomian global yang turun, kami masih
percaya perekonomian tumbuh `handsome` (bagus) dengan level 6,3-6,7 persen
dengan `mid point` (titik tengah) 6,5 persen," katanya.

Hal ini karena perlambatan perekonomian global yang ada di AS dan Eropa
tidak serta merta akan menurunkan ekspor barang Indonesia.

"Barang ekpor Indoensia saat ini selain terdiversifikasi produknya, juga
pasar yang semakin meluas ke berbagai daerah. Sehingga perlambatan di AS dan
Eropa dapat dikompensasi dengan peningkatan ekspor di negara-negara yang
berkembang lainnya seperti China dan India," katanya.

Miranda memperkirakan cadangan Devisa hingga akhir tahun 2007 mencapai 56
miliar dolar AS, berkat adanya dana masuk dari perdagangan karena tingginya
harga minyak serta kepemilikan BI terhadap mata uang asing dan emas.

"Kita memiliki mata uang asing seperti Euro, bila nilai euro menguat
otomatis memperkuat cadangan devisa," katanya.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke