Banjarmasin Post.
Tokoh agama dan ulama sepertinya belum menjadikan isu krisis
lingkungan sebagai sesuatu yang urgen.
Agama dan Krisis Lingkungan
Jumat, 07-12-2007 | 00:41:12
Dalam Islam, manusia memiliki keadaan yang abadi yakni
kesatuan karena semuanya berasal dari Yang Maha Satu.
Banjarmasin atau Kalsel umumnya dikenal sebagai daerah seribu
langgar. Sebuah sebutan yang semestinya menjadikan kita sadar pada
pentingnya nilai religius dalam segala tindakan, termasuk terhadap
lingkungan. Namun, kenyataan akhir-akhir ini justru memperlihatkan
tindakan yang tidak religius terhadap alam terjadi begitu masif.
Lingkungan Banua yang kita tempati rusak parah, karena
dieksploitasi dan diracuni habis-habisan oleh kekufuran manusia
(BPost, 1 Desember 2007). Hutan digunduli. Kekayaan perut bumi
seperti batu bara dikerok habis. Tanah resapan air hujan dibanguni
gedung dan hotel. Rawa ditimbun demi pembangunan mal dan pasar.
Tanah, air dan udara dicemari oleh racun keserakahan manusia. Serta
sederet lagi tindakan semena-mena manusia terhadap alam.
Lebih ironi lagi, tokoh agama dan ulama sepertinya belum
menjadikan isu krisis lingkungan sebagai sesuatu yang urgen. Itu
dapat dilihat dari pembicaraan dan khutbah yang minim mengangkat
tema lingkungan, apabila dibandingkan dengan pembahasan masalah
ritual keagamaan. Mengapa itu terjadi?
Masalah itu muncul tentu saja tidak terlepas dari paradigma
keberagamaan yang masih parsial. Itu dapat kita lihat dari lima
pilar utama religiusitas yang kita kenal: hifzh al-dîn (memelihara
agama/keyakinan), hifzh al-nafs (memelihara jiwa/nyawa), hifzh al-
'aql (memelihara akal), hifzh al-mâl (memelihara harta-benda) dan
hifzh al-'ardh (menjaga kehormatan). Lima pilar itu belum secara
tegas menampung masalah lingkungan. Secara logis, lima pilar itu
juga belum memberikan gambaran koherensi yang jelas dengan prinsip
tauhid sebagai aksioma utama dalam ajaran Islam.
Ekologi Islam
Pada masa pramodern, hubungan antara alam dan manusia
terbangun demikian sinergis. Bahkan dalam beberapa peradaban, alam
lebih superior daripada manusia. Alam dianggap sebagai pusat
kehidupan, sehingga terbangun sebuah hubungan yang mutualitatif
antara manusia dan alam. Keadaan itu berubah drastis di masa modern.
Dengan antroposentrismenya, peradaban modern telah menciptakan
paradigma dualistik hirarkis antara manusia dan alam dengan
menempatkan manusia sebagai pemilik dan pemegang kekuasaan atas alam
sehingga memprovokasi perilaku eksploitatif.
Berbeda dengan filsafat eksistensialisme yang memandang,
manusia tidak memiliki keadaan abadi. Keadaan manusia tergantung
bagaimana dia menciptakannya sendiri. Dalam Islam, manusia memiliki
keadaan yang abadi yakni kesatuan karena semuanya berasal dari Yang
Maha Satu. Semua realitas yang terbentang di langit dan bumi
adalah `wajah' Allah sebagaimana difirmankan: "Maka kemana pun
engkau menghadap di situlah Wajah Allah." (QS 2: 115).
`Wajah' artinya tanda. Jadi, seluruh mahluk apakah manusia,
tanah, air, udara, pohon dan lainnya adalah tanda bagi Tuhan dengan
berbagai Sifat Nya. Peradaban modern dengan paradigma dualistik
hirarkisnya, sudah sepantasnya diubah dengan paradigma baru yaitu
paradigma pemeliharaan dan kesalingterkaitan yang berbasiskan pada
kesadaran atas kesatuan primordial.
Kalau alam rusak, bukankah semua manusia juga akan menderita?
Sebaliknya, kalau alam lestari dan terjaga, bukankah manusia akan
lebih sejahtera? Dengan demikian, Islam sesungguhnya menawarkan cara
pandang, basis dan program aksi yang tidak sekadar melihat manusia
dan alam sebagai oposisi dualistik yang saling terpisah berhadap-
hadapan. Tapi sebagai saudara yang diikat oleh kesatuan eksistensi,
sehingga hubungan yang terjalin haruslah yang bersifat saling
menguntungkan (hubungan mutualitatif) bukan yang eksploitatif atau
dominatif (merugikan yang lain).
Oleh karenanya, dalam pandangan ekologi Islam segala tindakan
yang merusak lingkungan seperti membabat hutan, membuang sampah
(limbah) ke sungai, eksploitasi alam tanpa perhitungan, pembangunan
tidak berwawasan lingkungan dan segala tindakan semena-mena lainnya
terhadap alam, merupakan bentuk kemungkaran yang harus diperangi.
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa melihat kemungkaran maka
hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau tidak bisa maka
dengan kata-kata. Kalau tidak bisa juga, maka melawan dengan hatinya
(membencinya). Dan, itu adalah selemah-lemahnya iman." Wallâhu a'lam
bishshawâb.
Oleh:
Muhammad Iqbal Nur
Alumi Ponpes Darul Hijrah Martapura
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]