Pentagon Wajibkan Tawanan Irak Ikut Kursus Agama Sebelum Dibebaskan  Jumat, 7 
Des 07 11:04 WIB
    Kirim teman
   
  Pentagon meluncurkan program baru bagi para tawanannya di Irak. Program baru 
itu berupa pemberian kursus intensif tentang agama Islam sebagai persyaratan 
bagi para tawanan warga Irak yang akan dibebaskan.
   
  Militer AS akan mempekerjakan sejumlah da'i untuk memberikan kursus itu bagi 
para tawanan. Pelajaran yang akan diberikan antara lain mengenai "kemuliaan 
hidup" dan "mencintai kemanusiaan." Menurut Pentagon dalam pernyataannya, 
pendidikan agama yang moderat akan menciptakan keseimbangan mental dan bisa 
mencegah para tawanan itu jatuh ke dalam kegiatan ekstrimis setelah dibebaskan 
dari tahanan.
   
  Pasukan AS secara khusus memisahkan ribuan tawanan yang dianggap "fanatik" ke 
dalam unit-unit khusus, tidak dicampur dengan para tawanan yang dianggap 
moderat.
   
  Deputi Pasukan Komando Multinasional yang membidangi urusan tawanan Irak, 
Mayor Jenderal Douglas Stone mengungkapkan, kurikulum pendidikan yang diberikan 
terkait dengan agama para tawanan, oleh sebab itu segala sesuatunya harus 
diletakkan pada konteks agama Islam.
   
  Pasukan AS di Irak juga mengorganisir debat agama antara tawanan yang 
beraliran Syiah dan yang beraliran Sunni, di bawah pengawasan seorang imam yang 
dibayar militer AS. Menurut militer AS, debat itu bertujuan untuk meningkatkan 
dialog yang saling menguntungkan atas dasar apa yang mereka klaim sebagai 
"prinsip-prinsip Islam yang murni" dan "berdasarkan toleransi bukan kebencian. "
   
  Pasukan AS menyatakan, sejauh ini sudah lebih dari 1. 000 tawanan yang ikut 
diskusi Sunni-Syiah itu. "Mereka mulai menyadari perbedaan antara perkataan 
yang dilontarkan para ekstrimis atau apa yang diperintahkan para ekstrimis pada 
mereka, dengan apa sebenarnya yang ada dalam al-Quran, " ujar Stone.
  Ia mengatakan, sejak program baru itu diluncurkan pada bulan Juli 2007, sudah 
ada 3. 305 tawanan yang dibebaskan. "Dan tidak ada satu pun dari mereka yang 
kembali terlibat dengan kegiatan ekstrimis, " klaim Stone.
   
  Sejak invasi ke Irak, militer AS menahan sekitar 20. 500-25. 200 orang warga 
Sunni Irak dan 4. 500 warga Syiah. Menurut Stone, jumlah tawanan dalam lima 
minggu terakhir ini, rata-rata mengalami penurunan antara 61-40 orang setiap 
harinya. (ln/al-arby)


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke