Oleh Ekki Kurniawan

Kompas Cyber Media menurunkan berita soal aksi demonstrasi ratusan mahasiswa 
Universitas Teheran terhadap presiden Mahmoud Ahmadinejad, kemarin. Mereka 
sempat merusak gerbang utama agar orang luar bisa ikut bergabung. Kantor berita 
IRNA dan Fars melaporkan, para demonstran meneriakkan celaan terhadap 
Ahmadinejad dan menuntut pembebasan tiga rekan mereka yang ditangkap sejak Mei 
2007. Gambar-gambar yang dipublikasikan mahasiswa menunjukkan mereka berkerumun 
di gerbang utama, lalu membengkokkan rel besinya sehingga terbuka dan 
orang-orang non-kampus itu bisa masuk. 

Para mahasiswa menyamakan Ahmadinejad dengan diktator Chili Augusto Pinochet. 
"Ahmadi-Pinochet, Iran tidak akan jadi Chile" atau Hidup Merdeka atau Mati." 
Para demonstran juga membakar koran Kayhan yang selama ini menjadi corong para 
ulama dan menjadi musuh utama gerakan kaum reformis, tulis Fars. 

Mehdi Arabshahi, salah satu pentolan demonstran, mengungkapkan bahwa aksi itu 
diikuti lebih dari 1.500 mahasiswa. "Mereka memprotes penahanan mahasiswa, 
kebijakan pemerintah yang menindas dan menyerukan penghormatan hak asasi bagi 
seluruh rakyat Iran," 

Aksi itu merespons pernyataan kementerian intelijen yang mengaku telah 
menangkap sejumlah orang yang menggunakan kartu mahasiswa palsu untuk menggelar 
demonstrasi di Universitas Teheran. Tidak disebutkan kapan penangkapan itu 
berlangsung. Namun ada dugaan itu terjadi sebelum Jumat yang ditetapkan sebagai 
hari mahasiswa. Kasus penahanan tiga mahasiswa Universitas Amir Kabir menjadi 
isu sentral dalam gerakan mahasiswa sejak Mei 2007. Oktober lalu, ketiga 
mahasiswa itu divonis lebih dari tiga tahun dengan tuduhan menerbitkan tulisan 
anti-Islam. Tuduhan itu ditolak oleh ketiga mahasiswa. 

Kini kami ajak Anda untuk menelusuri lebih dalam tentang peristiwa ini dari 
sudut lain. Koran Kayhan terbitan Teheran edisi hari ini menurunkan laporan 
terkait masalah ini secara mendetail. Jumlah para demonstran itu tercatat 
sekitar 200 orang. Mereka adalah anggota kelompok-kelompok ilegal separatis dan 
marksisme. Sebagian besar mereka berasal dari wilayah Kurdi dan datang ke 
Universitas Tehran. Mereka meneriakkan yel-yel anti-Revolusi Islam dengan 
membawa foto sejumlah tokoh separatis yang sebagiannya terbukti bekerjasama 
dengan badan intelejensi Barat. 

Poin menarik namun tidak disebutkan oleh Kompas adalah bahwa aksi tersebut 
direaksi negatif oleh para mahasiswa. Aksi demonstrasi itu dinilai sangat 
urakan mengingat slogan yang dilontarkan tak lain adalah penghinaan terhadap 
Revolusi Islam Iran dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Bahkan salah seorang di 
antara mereka bernama Saba Rasima menilai program nuklir merupakan keserakahan 
dan mengharapkan serangan segera AS terhadap Iran agar terwujud demokrasi. 
Sayang sekali, tampaknya Rasima tidak banyak mengikuti transformasi global 
tentang demokrasi yang ditawarkan oleh AS. 

Sementara itu, Humas Kementerian Intelejen Iran menyatakan, pihaknya telah 
menangkap sejumlah oknum yang berniat menyulut keonaran pada demonstrasi di 
depan Fakultas Teknis di Universitas Tehran. Disebutkan pula bahwa berdasarkan 
rencana yang telah disusun sebelumnya, mereka didatangkan dari berbagai kota 
untuk menyulut kerusuhan. Dari para oknum tersebut disita berbagai buku sesat, 
selebaran yang berisi penghinaan terhadap nilai-nilai agama, dan minuman keras. 
Lalu muncul pertanyaan, mungkinkah benarkah mereka adalah mahasiswa atau paling 
tidak orang akademis. 

http://indonesian.irib.ir

mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke