baca aja deh tulisan2 nirwan yg laennya, pasti ketawa ngeliat betapa ngebetnya 
nirwan mau jadi seorang prosais..., tapi yg ada juga bacot gede doang dari 
nirwan yg bilang bahwa sastra di internet sebagai "sampah".

nirwan itu jadi cantriknya gm lalu ge-er maunya bisa ngejiplak gaya nulis 
gurunya. tapi kerna bakat nulisnya nirwan itru aslinya cetek, akhirnya nirwan 
jadi keblinger, kebabalasan buka congornya, sembarangan menghina soal sastra 
internet.

ini info doang: seorang sastrawan senior jakarta pernah bilang langsung ama 
saya bahwa gm itu dijadikan berhala oleh orang2an sejenis nirwan dewanto bin 
katro!

salut buat ribut wijoto, yg emang beneran jagoan muda sastra dari surabaya.

salam, heri latief
amsterdam, 13/12/2007

--- In [EMAIL PROTECTED], "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Terlepas dari setuju atau tidak, ulasan Ribut Wijoto ini cukup tajam dan kritis.

BISAI

--- In [EMAIL PROTECTED], "ribut_wijoto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

CERPEN NIRWAN SALAH FATAL

 Oleh Ribut Wijoto

 Rentang sepuluh tahun terakhir, 1998-2007, ada kesalahan pada
 perkembangan eksplorasi bahasa cerpen. Bahasa diolah-maksimalkan, dicari
 pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha
 dilakukan tidak untuk memperkuat unsur cerpen. Justru sebaliknya, usaha
 kuat-keras tersebut, sepenuhnya untuk memperlemah potensi unsur cerpen.
 Ini kesalahan fatal. Soalnya, ini kesalahan dilakukan oleh orang-orang
 yang justru berkompeten di bidang kesusastraan. Lebih fatal lagi, ini
 kesalahan diikuti oleh beragam kaum sastrawan. Ia menjadi standar nilai
 cerpen. Sebuah standar nilai yang membalik arah.

 Lihatlah kutipan cerpen "Dadu" dari Nirwan Dewanto:

 (Bertahun-tahun kami bertikai apakah di negeri Matsya Sairindri dan lima
 pengiringnya itu penyamar atau bukan. Bertikai pangkai bahkan sampai
 kini, ketika kami harus bahu-membahu di pulau jahanam ini demi mengukai
 tilas Muka Sepuluh).

 Nirwan membuka kisah dalam cerpen dengan kata-kata "wah".
 Kalimat-kalimat imajinatif. Di situ tampak, ada rima
 (bertikai-pangkai-mengungkai). Ada kalimat imajinatif. (Bertahun-tahun
 bertikai). Sungguh, jalinan kata-kata yang mirip puisi. Sayangnya, itu
 kalimat tidak mendukung terbentuknya peristiwa, memperlemah kisah.
 Nirwan terlalu obsesif pada puitisasi peristiwa, puitisasi kisah. Setiap
 kalimat dimaksudkan mengemban citraan. Menampilkan lanskap warna, gerak,
 rasa, ataupun bau-bauan. Menggugah imajinasi pembaca. Membikin pikiran
 terombang-ambing dalam tamasya bahasa. Dan, pembaca pun melupakan
 peristiwa.

 Kalimat pembuka cerpen "Dadu" diikuti oleh kalimat-kalimat lain
 yang bernasib sama. Puitis, imajinatif, dan berlarat-larat dengan majas.
 Akibatnya, cerpen rada panjang Nirwan terbata-bata dalam membentuk
 cerita. Padahal di situ ada cerita. Sebuah interpretasi ulang dari kisah
 Mahabarata dan Ramayana. Pasalnya, uraian Nirwan gagal menampilkan
 kejernihan peristiwa. Ada kabut tebal pada tiap kalimat Nirwan. Kabut
 yang menutup peristiwa.

 Oleh sebab gagal membentuk peristiwa, Nirwan pun gagal mencipta
 penokohan. Tokoh-tokoh pada cerpen "Dadu" bukanlah tokoh yang
 bisa dibayangkan berbadan, berdaging, atau bernafas selayaknya manusia
 biasa. Ia tokoh metaforis. Tokoh konsep. Artinya, "tokoh" yang
 belum sempat menjadi tokoh. Sebatas konsep tentang tokoh. Ini disebabkan
 melimpahnya kiasan dalam pemaparan tokoh. Cerpen Nirwan menjadi lebih
 mirip puisi.

 Mungkin, cerpen Nirwan memang lebih berharga jika dipahami sebagai
 puisi. Tetapi tetap saja tidak bisa. Keindahan bahasa puisi selalu
 mengemban makna personal. Pada metafora, ritme, rima, citraan puisi; di
 situ ada melekat ideologi.

 Adapun pada Cerpen Nirwan, keindahan bahasa hanya sebatas ornamen.
 Perlengkapan pengindah kalimat. Snobisme. Kemewahan berbahasa. Metafor,
 rima, ritme, dan citraan semata-mata digunakan untuk menghasilkan
 "wah". Di titik simpul ini, bila memaksa dipahami sebagai puisi,
 ia adalah puisi gagal.

 Lihatlah kutipan cerpen "Dadu" berikut: (Ketika seluruh jalur
 urat nadi Dandaka terbuka tampak berderai putihmu –Percayalah, ketka
 jubahku terkembang berlapis-lapis memerangkap pasukan yang memburumu-
 aku mengenali perempuan lain yang mengular dalam hutan menguntitmu,
 mungkin untuk mengambil bakal permaisuri itu darimu. Aku berseru dalam
 hati, "Kenapa wajah mereka serupa dengan titisan Laksmi?"

 Pemahaman yang salah atas eksplorasi bahasa cerpen membikin cerpen pada
 posisi ambang. Sebagai prosa, ia gagal membentuk kejernihan peristiwa
 dan ketajaman penokohan. Sebagai puisi, ia gagal menciptakan
 personalitas ideologi.

 Tragisnya, Nirwan hanyalah satu dari deretan panjang para cerpenis yang
 suka mengindah-indahkan bahasa. Para cerpenis yang mengutamakan citraan
 daripada penokohan. Memilih metafor daripada peristiwa. Di gerbong mewah
 ini ada nama-nama seperti Sitok Srengenge, Nukila Amal, Dewi Sartika,
 Dewi Lestari, Ayu Utami, dan sebagainya.

 Mengapa ini kondisi fatal bisa meluas? Mungkin, jaman menghendaki
 demikian. Mungkin juga, tanpa diduga, ada keseragaman pikiran.
 Keseragaman konsep tentang cerpen yang gemilang. Mungkin saja,
 merebaknya pengindahan bahasa cerpen dipacu oleh kemenangan novel Saman
 dari Ayu Utami pada Sayembara novel DKJ tahun 1998.

 Pada novel Saman, Ayu Utami menyeruakkan tiga model bahasa. Pertama,
 model bahasa metaforis. Hampir tiap peristiwa dipaparkan dengan kiasan.
 Kedua, model bahasa lugas. Peristiwa dipaparkan dengan cara sederhana.
 Ketiga, model bahasa minimalis. Peristiwa dibahasan dengan
 kalimat-kalimat pendek, seperti kalimat dalam pesan pendek di telepon
 genggam.

 Para cerpenis, mungkin, berusaha mengekor model bahasa Ayu Utami yang
 pertama. Model bahasa metaforis. Padahal, ini sungguh tragis. Seorang
 juri dari sayembara novel DKJ mencatatkan, novel Saman berhak menang
 karena kejernihannya memaparkan peristiwa penindasan yang terjadi di
 perkebunan karet. Di bagian tersebut, Ayu Utami tidak memakai model
 bahasa metaforis. Di situ, Ayu Utami menggunakan bahasa lugas,
 sederhana, dengan seminimal mungkin kiasan.

 Mungkin juga, Nirwan dan sebagainya tidak sedang mengekor Ayu Utami.
 Mereka sedang terpesona oleh model bahasa Gabriel Garcia Marquez dalam
 novel Seratus Tahun Kesunyian.

 Melalui eksotisme bahasa realisme-magis, Gabriel berhasil mengusung
 banyak tokoh dalam satu novel. Cerpen "Dadu" dari Nirwan pun
 dengan bahasa eksotis menampilkan banyak tokoh. Tapi ada perbedaan
 mendasar. Gabriel menggunakan eksotisme realisme-magis tidak sebatas
 gagah-gagahan. Itu model bahasa dipakai untuk memberi detail gambaran
 peristiwa dan memberi detail gambaran karakter tokoh. Selebihnya,
 detailitas peristiwa menciptakan kompleksitas penokohan. Hasilnya bukan
 sekadar tamasya bahasa, tetapi lebih penting lagi adalah, tamasya
 peristiwa. Tamasya kisah dengan beragam penokohan.

 Adapun Nirwan dan sebagainya malah terjebak pada eksotisme bahasa yang
 mengaburkan peristiwa, mengaburkan penokohan. Semestinya, bahasa cerpen
 diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi
 rima-ritme; kesemua usaha dilakukan untuk memperkuat unsur cerpen.

 Eksplorasi yang mengarah pada pembentukan kejernihan peristiwa dan
 penajaman penokohan. Seperti pada cerpen-cerpen dalam buku Orang-orang
 Bloomington dari Budi Darma.

 _______Salam - Surabaya
 
 Biodata:

 Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Esai sastranya pernah
 dimuat di Surabaya Post, Surabaya News, Jawa Pos, Republika, Riau Pos,
 Banjarmasin Post, Media Indonesia, Majalah Bende (Taman Budaya), Majalah
 Kidung DKJT, Koran Tempo, BPK Penabur, Mimbar Pembangunan Agama, Sinar
 Harapan, Islam Liberal (Kajian Utan Kayu), Suara Anum (Malaysia), Solo
 Pos, Harian Jurnal Nasional, dan beberapa media kampus.

 Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1
 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan
 Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit adalah Pengantar
 Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002), stensilan.
 Alamat: Gubeng Masjid IV No 5, Surabaya. Telepon: 031-72102178
 Email: [EMAIL PROTECTED]
   

      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke