Tulisanmu sendiri mana?? Kok saya tidak pernah baca...
----- Original Message ----- From: heri latief To: SP ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; lintaseni ; [EMAIL PROTECTED] ; wartawan indonesia ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; PT ; wahana-news ; ppi india ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Cc: Ribut Wijoto ; BISAI ; [EMAIL PROTECTED] ; Eka Kurniawan ; Binhad Nurrohmat ; idaman andarmosoko ; Datuk Akmal ; larissa reisner ; cent cent ; Sihar Simatupang ; Bedjo ; [EMAIL PROTECTED] ; E. Imanjaya ; fati ; Ibnu Aviciena Sent: Thursday, December 13, 2007 8:55 PM Subject: [ppiindia] Re: CERPEN NIRWAN SALAH FATAL baca aja deh tulisan2 nirwan yg laennya, pasti ketawa ngeliat betapa ngebetnya nirwan mau jadi seorang prosais..., tapi yg ada juga bacot gede doang dari nirwan yg bilang bahwa sastra di internet sebagai "sampah". nirwan itu jadi cantriknya gm lalu ge-er maunya bisa ngejiplak gaya nulis gurunya. tapi kerna bakat nulisnya nirwan itru aslinya cetek, akhirnya nirwan jadi keblinger, kebabalasan buka congornya, sembarangan menghina soal sastra internet. ini info doang: seorang sastrawan senior jakarta pernah bilang langsung ama saya bahwa gm itu dijadikan berhala oleh orang2an sejenis nirwan dewanto bin katro! salut buat ribut wijoto, yg emang beneran jagoan muda sastra dari surabaya. salam, heri latief amsterdam, 13/12/2007 --- In [EMAIL PROTECTED], "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Terlepas dari setuju atau tidak, ulasan Ribut Wijoto ini cukup tajam dan kritis. BISAI --- In [EMAIL PROTECTED], "ribut_wijoto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: CERPEN NIRWAN SALAH FATAL Oleh Ribut Wijoto Rentang sepuluh tahun terakhir, 1998-2007, ada kesalahan pada perkembangan eksplorasi bahasa cerpen. Bahasa diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha dilakukan tidak untuk memperkuat unsur cerpen. Justru sebaliknya, usaha kuat-keras tersebut, sepenuhnya untuk memperlemah potensi unsur cerpen. Ini kesalahan fatal. Soalnya, ini kesalahan dilakukan oleh orang-orang yang justru berkompeten di bidang kesusastraan. Lebih fatal lagi, ini kesalahan diikuti oleh beragam kaum sastrawan. Ia menjadi standar nilai cerpen. Sebuah standar nilai yang membalik arah. Lihatlah kutipan cerpen "Dadu" dari Nirwan Dewanto: (Bertahun-tahun kami bertikai apakah di negeri Matsya Sairindri dan lima pengiringnya itu penyamar atau bukan. Bertikai pangkai bahkan sampai kini, ketika kami harus bahu-membahu di pulau jahanam ini demi mengukai tilas Muka Sepuluh). Nirwan membuka kisah dalam cerpen dengan kata-kata "wah". Kalimat-kalimat imajinatif. Di situ tampak, ada rima (bertikai-pangkai-mengungkai). Ada kalimat imajinatif. (Bertahun-tahun bertikai). Sungguh, jalinan kata-kata yang mirip puisi. Sayangnya, itu kalimat tidak mendukung terbentuknya peristiwa, memperlemah kisah. Nirwan terlalu obsesif pada puitisasi peristiwa, puitisasi kisah. Setiap kalimat dimaksudkan mengemban citraan. Menampilkan lanskap warna, gerak, rasa, ataupun bau-bauan. Menggugah imajinasi pembaca. Membikin pikiran terombang-ambing dalam tamasya bahasa. Dan, pembaca pun melupakan peristiwa. Kalimat pembuka cerpen "Dadu" diikuti oleh kalimat-kalimat lain yang bernasib sama. Puitis, imajinatif, dan berlarat-larat dengan majas. Akibatnya, cerpen rada panjang Nirwan terbata-bata dalam membentuk cerita. Padahal di situ ada cerita. Sebuah interpretasi ulang dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Pasalnya, uraian Nirwan gagal menampilkan kejernihan peristiwa. Ada kabut tebal pada tiap kalimat Nirwan. Kabut yang menutup peristiwa. Oleh sebab gagal membentuk peristiwa, Nirwan pun gagal mencipta penokohan. Tokoh-tokoh pada cerpen "Dadu" bukanlah tokoh yang bisa dibayangkan berbadan, berdaging, atau bernafas selayaknya manusia biasa. Ia tokoh metaforis. Tokoh konsep. Artinya, "tokoh" yang belum sempat menjadi tokoh. Sebatas konsep tentang tokoh. Ini disebabkan melimpahnya kiasan dalam pemaparan tokoh. Cerpen Nirwan menjadi lebih mirip puisi. Mungkin, cerpen Nirwan memang lebih berharga jika dipahami sebagai puisi. Tetapi tetap saja tidak bisa. Keindahan bahasa puisi selalu mengemban makna personal. Pada metafora, ritme, rima, citraan puisi; di situ ada melekat ideologi. Adapun pada Cerpen Nirwan, keindahan bahasa hanya sebatas ornamen. Perlengkapan pengindah kalimat. Snobisme. Kemewahan berbahasa. Metafor, rima, ritme, dan citraan semata-mata digunakan untuk menghasilkan "wah". Di titik simpul ini, bila memaksa dipahami sebagai puisi, ia adalah puisi gagal. Lihatlah kutipan cerpen "Dadu" berikut: (Ketika seluruh jalur urat nadi Dandaka terbuka tampak berderai putihmu -Percayalah, ketka jubahku terkembang berlapis-lapis memerangkap pasukan yang memburumu- aku mengenali perempuan lain yang mengular dalam hutan menguntitmu, mungkin untuk mengambil bakal permaisuri itu darimu. Aku berseru dalam hati, "Kenapa wajah mereka serupa dengan titisan Laksmi?" Pemahaman yang salah atas eksplorasi bahasa cerpen membikin cerpen pada posisi ambang. Sebagai prosa, ia gagal membentuk kejernihan peristiwa dan ketajaman penokohan. Sebagai puisi, ia gagal menciptakan personalitas ideologi. Tragisnya, Nirwan hanyalah satu dari deretan panjang para cerpenis yang suka mengindah-indahkan bahasa. Para cerpenis yang mengutamakan citraan daripada penokohan. Memilih metafor daripada peristiwa. Di gerbong mewah ini ada nama-nama seperti Sitok Srengenge, Nukila Amal, Dewi Sartika, Dewi Lestari, Ayu Utami, dan sebagainya. Mengapa ini kondisi fatal bisa meluas? Mungkin, jaman menghendaki demikian. Mungkin juga, tanpa diduga, ada keseragaman pikiran. Keseragaman konsep tentang cerpen yang gemilang. Mungkin saja, merebaknya pengindahan bahasa cerpen dipacu oleh kemenangan novel Saman dari Ayu Utami pada Sayembara novel DKJ tahun 1998. Pada novel Saman, Ayu Utami menyeruakkan tiga model bahasa. Pertama, model bahasa metaforis. Hampir tiap peristiwa dipaparkan dengan kiasan. Kedua, model bahasa lugas. Peristiwa dipaparkan dengan cara sederhana. Ketiga, model bahasa minimalis. Peristiwa dibahasan dengan kalimat-kalimat pendek, seperti kalimat dalam pesan pendek di telepon genggam. Para cerpenis, mungkin, berusaha mengekor model bahasa Ayu Utami yang pertama. Model bahasa metaforis. Padahal, ini sungguh tragis. Seorang juri dari sayembara novel DKJ mencatatkan, novel Saman berhak menang karena kejernihannya memaparkan peristiwa penindasan yang terjadi di perkebunan karet. Di bagian tersebut, Ayu Utami tidak memakai model bahasa metaforis. Di situ, Ayu Utami menggunakan bahasa lugas, sederhana, dengan seminimal mungkin kiasan. Mungkin juga, Nirwan dan sebagainya tidak sedang mengekor Ayu Utami. Mereka sedang terpesona oleh model bahasa Gabriel Garcia Marquez dalam novel Seratus Tahun Kesunyian. Melalui eksotisme bahasa realisme-magis, Gabriel berhasil mengusung banyak tokoh dalam satu novel. Cerpen "Dadu" dari Nirwan pun dengan bahasa eksotis menampilkan banyak tokoh. Tapi ada perbedaan mendasar. Gabriel menggunakan eksotisme realisme-magis tidak sebatas gagah-gagahan. Itu model bahasa dipakai untuk memberi detail gambaran peristiwa dan memberi detail gambaran karakter tokoh. Selebihnya, detailitas peristiwa menciptakan kompleksitas penokohan. Hasilnya bukan sekadar tamasya bahasa, tetapi lebih penting lagi adalah, tamasya peristiwa. Tamasya kisah dengan beragam penokohan. Adapun Nirwan dan sebagainya malah terjebak pada eksotisme bahasa yang mengaburkan peristiwa, mengaburkan penokohan. Semestinya, bahasa cerpen diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha dilakukan untuk memperkuat unsur cerpen. Eksplorasi yang mengarah pada pembentukan kejernihan peristiwa dan penajaman penokohan. Seperti pada cerpen-cerpen dalam buku Orang-orang Bloomington dari Budi Darma. _______Salam - Surabaya Biodata: Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Esai sastranya pernah dimuat di Surabaya Post, Surabaya News, Jawa Pos, Republika, Riau Pos, Banjarmasin Post, Media Indonesia, Majalah Bende (Taman Budaya), Majalah Kidung DKJT, Koran Tempo, BPK Penabur, Mimbar Pembangunan Agama, Sinar Harapan, Islam Liberal (Kajian Utan Kayu), Suara Anum (Malaysia), Solo Pos, Harian Jurnal Nasional, dan beberapa media kampus. Tahun 2001, esai sastranya dipilih sebagai juara 1 dan juara harapan 1 dalam sayembara esai sastra tingkat nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (Pusat Bahasa). Bukunya yang telah terbit adalah Pengantar Menuju Sastra Bermanfaat (Gapus Press, 2002), stensilan. Alamat: Gubeng Masjid IV No 5, Surabaya. Telepon: 031-72102178 Email: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] milisgrup opini alternatif http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ penerbit buku sejarah alternatif http://progind.net/ kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan http://herilatief.wordpress.com/ --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.1/1182 - Release Date: 12/12/2007 11:29 [Non-text portions of this message have been removed]

