http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0712/14/131156.htm
*Aliansi Strategis Atasi Penyakit Pneumokokus* SEOUL, KOMPAS - Upaya mengatasi penyakit infeksi pneumokokus mendesak dilakukan mengingat tingginya angka kasus kematian pada anak akibat penyakit itu. Oleh karena itu, kalangan profesional di bidang pemeliharaan kesehatan di sejumlah negara di Asia, Jumat (14/12), di Hotel Lotte, Seoul, Korea, resmi mendirikan aliansi strategis Asia untuk upaya pencegahan penyakit pneumokokus (ASAP). "Istilah ASAP populer diartikan sebagai As Soon As Possible. Kelompok ini ingin melakukan sosialisasi bahwa aksi perlu dilakukan secepat mungkin untuk mencegah penyakit pneumokokus dan menyelamatkan jiwa," kata Ketua ASAP Prof Lulu Bravo, saat peresmian pendirian aliansi itu dilakukan pada Simposium Pertama Vaksinasi Pneumokokus Tingkat Asia Pasifik. ASAP berafiliasi dengan Pneumoccal Awareness Council of Experts (PACE) global dan Perhimpunan Dokter Anak Bidang Penyakit Infeksi Asia (ASPID). Aliansi ini juga berkolaborasi dengan kelompok kesehatan masyarakat dan kalangan dokter anak lainnya untuk mengendalikan penyakit pneumokokus di Kawasan Asia Pasifik, termasuk meningkatkan kesadaran, surveilans, advokasi dan pencegahan. Sejauh ini penyakit pneumokokus merupakan salah satu penyakit infeksi dengan tingkat kematian tertinggi. Ironisnya, antara 700.000 hingga satu juta anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia akibat penyakit ini setiap tahun. Setiap jam, antara 80 hingga 112 anak meninggal dunia karena penyakit mematikan ini, atau berkisar 1.900 dan 2.700 anak meninggal per hari di seluruh dunia. Di berbagai negara berkembang di dunia, pneumokokus merupakan penyebab kematian utama pada anak. "Sebagai dokter dan orang tua, kita tahu bahwa dampak kematian anak pada setiap orang, Tetapi, Anda mungkin tidak dapat merasakan kesakitan dan kehilangan, sampai hal itu terjadi pada anak Anda. Kami ingin menyampaikan pada tiap orang bahwa situasi ini bisa dicegah dengan vaksinasi pneumokokus," ujarnya. "ASAP ingin menjadi suara anak-anak kita, bersuara bahwa mereka dapat hidup lebih panjang dan lebih sehat. Kami terpanggil untuk melakukan aksi guna meningkatkan tingkat kesadaran terhadap bahaya penyakit pneumokokus, memfasilitasi pertukaran informasi dan pandangan mengenai penyakit ini, mencari solusi dan mendorong agar upaya pencegahan dilakukan. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mendukung upaya menyelamatkan jiwa. Anak-anak adalah masa depan kita," kata Bravo. Saat ini, vaksin konjugasi saccharide atau PCV-7 merupakan vaksin satu-satunya untuk mencegah penyakit pneumokokus invasif pada bayi dan anak-anak di bawah usia dua tahun. Ini juga membantu melindungi anak-anak di atas dua tahun hingga berusia sembilan tahun. PCV-7 digunakan untuk imunisasi aktif dan membantu untuk melindungi dari serangan penyakit yang disebabkan tujuh serotipe (strains) bakteri streptoccoccus pneumoniae yang juga dikenal seagai pneumokokus. Badan Kesehatan Dunia telah mengidentifikasi bahwa pemberian PCV-7 perlu diprioritaskan dalam program imunisasi nasional, di berbagai negara dengan tingkat kematian pada anak balita lebih tinggi dari 50 per seribu kelahiran hidup, atau lebih dari 50.000 kematian per tahun. Banyak otoritas kesehatan telah merekomendasikan untuk melindungi bayi dan balita dari ancaman pneumokokus. Hingga Januari 2007 lalu, PCV-7 telah digunakan di 76 negara dan telah jadi bagian dari program imunisasi nasional pada anak di 17 negara di seluruh dunia. Sayangnya, di Asia Pasifik, hanya Australia dan New Zealand yang telah memasukkan vaksin itu sebagai bagian dari program imunisasi nasional. ASAP telah mengidentifikasi sejumlah strategi untuk mencegah serangan penyakit itu. Salah satunya adalah koalisi sistemik di tingkat regional dengan penyakit yang bervariasi. ASAP tidak hanya akan berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pencegahan dan manajemen penyakit pneumokokus, tetapi juga secara aktif untuk mendorong para pengambil kebijakan di negara masing-masing dalam proses ini. Para anggota ASAP juga akan melibatkan para pakar di tingkat regional untuk mengembangkan materi edukasi bagi para dokter, termasuk mengorganisasi para ilmuwan untuk konferensi penyakit pneumokokus tingkat regional. Kelompok ini memiliki anggota dari Brunei, Hongkong, India, *Indonesia*, Korea, Malaysia, Pakistan, Pilipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan dan Thailand. Dr Bravo yang telah menjadi Konsultan tidak tetap WHO untuk berbagai penyakit pada anak dan kini jadi anggota komite pengarah teknis WHO untuk anak-anak dan orang dewasa berharap bahwa upaya ini tidak hanya berhenti pada tingkat konsultasi, tetapi nantinya juga melibatkan semua pihak untuk bekerja sama dalam memerangi penyakit yang jadi penyebab utama kematian anak-anak. (EVY) [Non-text portions of this message have been removed]

