http://www.korantempo.com/korantempo/2007/12/06/Ilmu_dan_Teknologi/krn,20071206,65.id.html



*Yang Diam dalam Gelap*


(Sangat mungkin bintang gelap itu masih ada sampai sekarang).


UTAH -- Malam tanpa Bintang, Bintang-bintang, Bersama Bintang, Jadilah
Bintang, Bintang Kecil. Itu adalah sebagian kecil lagu yang mengambil judul
atau tema bintang. Sinar bintang di langit malam memang menjadi sumber
inspirasi karya seni yang tidak ada habisnya.


Tapi tahukah anda, bintang pertama yang lahir di alam semesta ketika masih
baru terbentuk, tidaklah bersinar terang, tapi merupakan bintang kasat mata
atau "bintang gelap" dengan ukuran 400 sampai 200 ribu kali lebih besar dari
matahari dengan tenaga berasal dari kehancuran materi gelap misterius?
Demikian kesimpulan kajian Universitas Utah, Amerika Serikat.


Studi tersebut memperkirakan bagaimana proses kelahiran bintang pertama 13
miliar tahun silam mungkin dipengaruhi oleh kehadiran materi gelap-- materi
tidak terlihat, tidak teridentifikasi yang diyakini membentuk mayoritas
materi alam semesta.


Ini bukan studi sembarangan. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para
peneliti di Universitas Utah itu telah melakukan pengkajian terhadap
penemuan astronomi di seluruh dunia dan lewat perhitungan fisika yang rumit.
"Penemuan ini secara drastis mengubah bingkai kerja teori saat ini tentang
formasi pembentukan bintang pertama," ujar Kepala Tim Peneliti Paolo
Gondolo.


Bahkan, bintang hitam itu mungkin masih ada sampai sekarang. Meski tidak
memancarkan cahaya, mereka dapat dideteksi karena memancarkan sinar gamma,
neutrinos, dan antimateri. Bintang gelap ini juga berhubungan erat dengan
awan gas hidrogen dingin, yang biasanya tidak mengandung partikel energi
semacam itu.


"Tanpa simulasi yang detail, kami tidak dapat menunjukkan evolusi lebih
lanjut bintang gelap," kata Gondolo. "Mereka bisa hidup dalam hitungan
bulan, lebih dari 600 juta tahun, atau miliaran tahun dan masih ada sampai
sekarang. Tugas kita adalah mencarinya".


Sebelum Gondolo melakukan risetnya bersama pakar astrofisika Katherine
Freese dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, Ann Arbor, dan Douglas
Spolyar dari Universitas California, Santa Cruz, beberapa studi sudah
mempertimbangkan peranan materi gelap dalam evolusi awal jagat raya. Tapi
studi terdahulu itu belum memasukkannya sebagai variabel penting dalam
pembentukan sebuah bintang.


Para ilmuwan astrofisika percaya adanya materi gelap karena galaksi berotasi
lebih cepat daripada apa yang bisa dijelaskan lewat materi yang bisa
terlihat di dalamnya. Selain itu, observasi dengan satelit, balon, dan
teleskop telah membawa para ilmuwan kepada kesimpulan bahwa materi yang bisa
dilihat hanya membentuk empat persen dari seluruh alam semesta. Sekitar 23
persen jagat raya mungkin sekali terdiri atas materi gelap. Adapun sisanya,
73 persen adalah "energi gelap"--kekuatan tidak terlihat dan tidak diketahui
yang membuat jagat raya terus mengembang.


Partikel masif yang berinteraksi lemah atau WIMP adalah sebagian kandidat
kuat untuk materi gelap. Gondolo menyatakan neutralinos adalah jenis WIMP
yang harus ada dalam teori fisika partikel yang menjelaskan asal-usul massa
dalam alam semesta.


Untuk studi ini, para ilmuwan astrofisika mencari tahu bagaimana materi
gelap memengaruhi temperatur dan kepadatan gas yang menggumpal bersama itu
untuk membentuk sebuah bintang. Begini cerita lengkapnya.


Pertama, jagat raya tercipta 13 miliar tahun yang lalu dalam sebuah ekspansi
mendadak yang menyebabkan inflasi ruang dan waktu. Teori ini disebut
"ledakan besar" (the big bang).


Ledakan besar itu menghasilkan radiasi gelombang mikro kosmik dan
mengakibatkan fluktuasi ringan dalam temperatur. Beberapa materi awal itu
akhirnya mulai menggumpal satu sama lain, sebuah proses yang diakselerasi
oleh gaya gravitasi, yang lantas memproduksi bintang dan galaksi. Materi
tersebut kebanyakan adalah materi gelap tapi termasuk materi normal, seperti
hidrogen dan gas helium.


Teori konvensional tentang bagaimana sebuah bintang terbentuk menyatakan
bahwa hidrogen dan atom helium menggumpal dan menggulung bersama dalam awan
proto-stellar. Mereka lantas mendingin, membuat awan tersebut mengerut, dan
menjadi lebih padat. Proses pendinginan dan pengerutan dari embrio bintang
itu terus berlangsung sampai fusi hidrogen menjadi helium dimulai, memicu
proses fusi yang membakar dalam matahari dan bintang lainnya.


Tapi prosesnya tidak berhenti sampai di sini. Studi Gondolo dan timnya juga
menemukan bahwa neutralinos dari materi gelap berinteraksi sedemikian rupa
sehingga mereka "saling membunuh", memproduksi partikel subatomik yang
disebut quark dan anti-quark yang menghasilkan panas. Ketika awan
proto-stellar hidrogen dan helium itu mencoba mendingin dan mengecil, materi
gelap mempertahankannya tetap panas dan besar, mencegah terpicunya fusi
nuklir dalam bintang.


"Proses pemanasan berkontra-interaksi dengan proses pendinginan, sehingga
sang bintang berhenti berkontraksi untuk sementara, membentuk bintang gelap,
80-100 juta tahun setelah ledakan besar," katanya. "Inilah hasil utama
kajian kami."


Walaupun namanya bintang gelap, ia tetap terdiri atas materi normal, seperti
molekul hidrogen dan atom helium. Perbedaannya, ia sangat besar dan lebih
"gendut" bila disejajarkan dengan matahari dan bintang lainnya. Mereka juga
memancarkan panas dalam bentuk gelombang inframerah.


"Bintang itu jauh lebih besar dari matahari," kata Gondolo. Diameternya bisa
mencapai 4 unit astronomi (372 juta mil atau 4 kali jarak rata-rata matahari
dan bumi) sampai 2 ribu unit astronomi--cukup besar untuk menelan 15 ribu
sistem tata surya!


Quark dan anti-quark yang diproduksi oleh bintang hitam pada gilirannya akan
menghasilkan partikel turunan berupa sinar gamma, neutrinos, dan antimateri.
"Dengan mata telanjang, kita tidak bisa melihatnya. Tapi radiasinya akan
menghanguskan semua yang ada di dekatnya," katanya.


Ada kemungkinan lain, yakni walaupun bintang gelap berumur cukup lama, pada
akhirnya akan berubah menjadi bintang normal. Tapi Gondolo dan rekannya
percaya proses pendinginan gas dan pemanasan oleh materi gelap di dalam
bintang terus berada dalam kondisi yang seimbang, sehingga bintang gelap
berusia cukup panjang.AMAL IHSAN | SCIENCEDAILY


Dari Judul Lagu Rock


Bintang sering mengilhami seniman. Tapi karya sang seniman juga kerap
menjadi inspirasi bagi para ilmuwan. Begitulah apa yang terjadi dalam riset
Gondolo dan timnya.


Semula Gondolo ingin memberi nama bintang baru yang ditemukannya sebagai
"raksasa cokelat". Nama itu merujuk nama bintang kecil seukuran Jupiter yang
bersinar redup yang disebut "si kecil cokelat" oleh para astronom.


Tapi rekan-rekannya berkeras menyebutnya "bintang gelap" atau "bintang
hitam", mengambil nama judul lagu yang dipopulerkan grup band rock The
Grateful Dead pada 1967. Jadilah bintang itu disebut bintang gelap. Namun,
apa pun namanya, bintang gelap memiliki beberapa implikasi penting bagi
bidang ilmu astrofisika.


1. Bintang gelap merepresentasikan fase baru dalam evolusi sebuah bintang.


2. Keberadaannya membantu pencarian dan pengidentifikasian materi gelap.
Sinar gamma, neutrinos, dan antimateri memiliki karakteristik energi yang
berbeda bila datang dari materi gelap.


3. Keberadaannya dapat memperbaiki pemahaman bagaimana elemen berat
terbentuk. Bintang pertama seharusnya merupakan tempat lahirnya elemen yang
sama berat atau lebih berat dari karbon, yang diproduksi lewat fusi nuklir
di intinya. Tapi jika bintang gelap ada dan tidak berevolusi menjadi bintang
normal, mereka tidak membuat karbon.


4. Bintang gelap bisa membantu menjelaskan mengapa lubang hitam--bintang
yang hancur begitu padatnya sehingga cahaya tidak akan lolos--terbentuk
lebih cepat dari yang diperkirakan. Lubang hitam dipercaya baru terbentuk
beberapa ratus juta tahun setelah ledakan besar. Tapi teori yang belakangan
mengemuka menyatakan kemungkinan umur lubang hitam lebih tua dari itu. Dalam
skenario yang lain, bisa saja lubang hitam terbentuk dari bintang gelap yang
runtuh ketika jagat raya masih baru terbentuk.AMAL IHSAN | SCIENCEDAILY


Alam Semesta yang Misterius


Para ilmuwan mengatakan baru sebagian kecil dari materi pembentuk alam
semesta yang telah diketahui.


Komposisi Kosmos


Materi Biasa : Bintang, elemen berat, helium, hidrogen bebas


Materi Gelap :Diyakini berupa sejumlah besar partikel kecil yang belum
teridentifikasi.


Energi Gelap
"Kekuatan besar" yang belum dapat dijelaskan, yang mendorong galaksi
terpisah-pisah pada kecepatan yang makin meningkat.MCT


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke