Surat Dari Montmartre:



"LE BANIAN" PASAR MALAM PARIS



"Le Banian" [Pohon Beringin] adalah nama dari penerbitan yang dikelola oleh 
Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia di Paris, dipimpin oleh seorang 
perempuan enerjik dan penuh prakarsa: Johanna Lederer, mantan balerina, sarjana 
sastra Amerika Serikat, lulusan Universitas Sorbonne Paris, kelahiran Malang, 
puteri pemilik sebuah kebun tebu di Jawa Timur. "Pasar Malam" di Paris dan yang 
di Belanda adalah dua hal yang jauh berbeda. Yang di Belanda adalah kegiatan 
para warga Indo Indonesia-Belanda bermotifkan nostalgia pada Indonesia , entah 
sebagai negeri kelahiran atau pun sebagai tautan asal darah. Yang terakhir ini 
sering dan banyak terjadi sebagaimana diungkapkan oleh kaum republiken Spanyol 
anti diktatur Jendral Franco, dalam sebuah lagu yang mengatakan antara lain: 
"Madrid, Madrid, mataharimu tak tergantikan". Bagi para Indo, yang di Amerika 
Latin disebut sebagai "mestizo", adalah suatu kegiatan kerinduan pada "matahari 
yang tak tergantikan" sebagaimana E. du Perron, pengarang tiga negeri 
[Perancis-Belanda-Indonesia] kelahiran Jawa Barat, sahabat André Malraux, 
novelis terkemuka Perancis, menteri kebudayaan Charles de Gaulle,   menyebut 
Indonesia sebagai "tanah asal"[pays d'origine] nya. Kecintaan  dan sikap E. du 
Perron pada  "son pays d'origine" sejajar dengan kecintaan pengarang Amerika 
Serikat keturunan Irlandia, Ktut Tantri yang pernah berjuang bahu-membahu 
dengan rakyat Indonesia melawan pendudukan fasis Jepang, pernah disiksa Jepang, 
kemudian ingin dikubur di Indonesia [lihat bukunya:"Rebel in Paradise" 
[Pemberontakan Di Nusa Damai], terbitan Penguin Books dan telah diterjemahkan 
ke dalam puluhan bahasa di dunia, termasuk edisi bahasa Indonesia]. "Pasar 
Malam" yang di Belanda lebih bersifat berjualan dan nostalgis dari para 
"mestizo" Indonesia-Belanda.


Sedangkan "Pasar Malam" yang di Paris, adalah nama sejenis Lembaga Swadaya 
Masyarakat [LSM] Perancis, berangggotakan para Indonesianis Perancis dan 
orang-orang yang mencintai serta tertarik pada Indonesia. "Pasar Malam" Paris 
bertujuan mendorong pengembangan persahabatan antara rakyat Perancis dan 
Indonesia dengan menggunakan pendekatan kebudayaan. Karena itu "Pasar Malam" 
Paris, sering melakukan acara-acara berupa seminar sastra dan kegiatan 
kebudayaan lainnya bekerjasama dengan lembaga-lembaga resmi seperti CNRS 
[semacam LIPI di Indonesia].  Barangkali para pendirinya memang dipengaruhi 
oleh nostalgia Indonesia sebagai "negeri asal" mereka, tapi mereka keluar dari 
cakupan sempit emosional begini dan memasuki lingkup lebih luas yaitu 
persahabatan Perancis-Indonesia. Menggunakan pendekatan kebudayaan begini, 
"Pasar Malam" Paris melakukan lobbie  kalangan resmi, berbagai kalangan  dan 
swasta Perancis serta berbagai negeri secara berhasil.   Artinya "Pasar Malam" 
melebarkan dan mengangkat masalah emosi ke tingkat yang lebih tinggi dari 
emosional belaka. Emosi dijadikan pendorong guna mencapai tujuan yang lebih 
besar dan manusiawi. Jika "emosi" bisa dipandang sebagai hal instingtif, maka 
"Pasar Malam" Paris mengembangkan hal yang instingtif ini ke tingkat kesadaran 
manusia yang berpikir dan berwawasan manusiawi. Dengan wawasan demikian "Pasar 
Malam" Paris telah mengundang Joesoef Isak, Goenawan Mohamad, Seno Gumira, Ayu 
Utami dan lain-lain ke Paris, menyelenggarakan pameran semiunggu lukisan Salim 
-- pelukis Indonesia yang sekarang berusia 100 tahun dan lama tinggal di Paris 
[lihat: JJ.Kusni dalam majalah Visual Arts, Jakarta].


Dengan keterangan ini, saya ingin sekaligus menjawab pertanyaan Mujie; anak 
muda Dayak dari Kalimantan Tengah yang rancu tentang adanya dua "Pasar Malam" 
di Eropa Barat, cq di Belanda dan di Paris.  Dan dengan keterangan ini juga, 
saya mempertanyakan sebagaimana sejak berdasawarsa saya usulkan ke 
penyelenggara negara, terutama yang menyangkut soal politik luar negeri, apakah 
Indonesia tidak perlu membentuk badan khusus tentang negeri-negeri utama dalam 
urusan luar negeri, agar  politik yang diambil tentang negeri-negeri tersebut 
tidak instingtif dan asal-asalan.  Sekaligus dengan usul ini, kita bisa 
mengembangkan diplomasi pluralis, dan meninggalkan berfokus serta 
ketergantungan pada Amerika Serikat. Dengan adanya lembaga studi pembantu 
begini, barangkali Indonesia bisa melakukan politik diplomasi merakyat dan 
independen. Ide begini pernah saya ajukan kepada Adian Silalahi ketika beliau 
menjadi Dubes RI di Paris dan sering saya kemukakan di media massa Indonesia.


Dengan konsep sadar, bukan instingtif, begini maka "Pasar Malam" Paris,  
disamping melakukan berbagai kegiatan kebudayaan dan ilmiah [terakhir pada 14 
Desember 2007, tentang sastrawan Indonesia Kekinian], maka sejak beberapa tahun 
ini telah menerbitkan sebuah majalah bernama "Le Banian".  Majalah semesterial 
dicetak dengan kertas mewah dan foto-foto berwarna ini berkembang dari bentuk 
sederhana dan makin sempurna. Para Indonesianis dan penulis-penulis Indonesia, 
baik yang di luar negeri mau pun di Indonesia, sendiri turut menyemaraki 
majalah "Le Banian".  Untuk Nomor 3, Juni 2007, di antara para indonesianis, 
terdapat nama-nama dari Indonesia atau orang Indonesia yang turut menyumbangkan 
tulisan: Laksmi Pamuncak, Ibrahim Isa, Kunang Helmi Picard, Saraswati Gramich, 
Josef Prijotomo. Sedangkan Anda Djoehana Wiradikarta bertindak sebagai 
penterjemah teks dari bahasa Indonesia ke bahasa Perancis. Dilihat dari segi 
tebal , 203 halaman, dan isi tulisan serta para penyumbang,  saya merasa bahwa 
mutu "Le Banian", majalah "Pasar Malam" Paris, tidak kalah dibandingkan dengan 
majalah l'Archipel" terbitan l'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales 
[l'EHESS] Paris, sebuah lembaga pendidikan Perancis yang banyak menelurkan 
peneliti-peneliti Indonesia. Jika "Le Banian" bisa mempertahankan mutu , 
terutama dari segi isi,  sedikit pun saya tidak ragu bahwa majalah ini akan 
menjadi suatu acuan patut diperhatikan oleh orang yang tertarik pada Indonesia, 
mau pun orang Indonesia sendiri. Hadirnya "Le Banian" yang dikelola dengan 
modal sederhana dan cerdik,  bukan merupakan saingan majalah ilmiah Perancis 
"l'Archipel" tentang nusantara, tapi merupakan pengembangan dan pengkhususan, 
karena "Le Banian" khusus mengangkat soal-soal Indonesia dengan pendekatan yang 
ilmiah, dalam artian berusaha obyektif. Saya memandang hadirnya "Le Banian" 
yang makin sempurna dan profesional, merupakan sumbangan nyata dalam usaha 
mendorong pengembangan persahbatan antara dua rakyat, bangsa dan negeri, 
Perancis-Indonesia.


Tingkat isi  "Le Banian",  146 halaman,  nomor 04 Desember 2007 yang akan 
datang pun bisa kita takar dari isi berikut:


* Balinese Girls, Procession, photo Paul Beiboer 
* Editorial, Johanna Lederer
* Alain Caillé, Donner le rien ? Donner pour rien ?
* Claudia Huisman, Tilly et Sylle 
* Jean-Marc de Grave, L?Essai sur le don vu de Java
* Emmanuelle Halkin, Le wayang kulit à Bali, une offrande de la communauté aux 
divinités ?
* Anne-Marie Vassal-Harrison, « Laisser le sang couler sur la place du village 
», les sacrifices   
   d'animaux à Sumba
* Elise Bas, Rubrique L'indonésien, langue exotique?: Echange et 
reconnaissance, Singkatan, 
   acronymes et abréviations.
* Etienne Naveau, Parcours de la reconnaissance
* Tan Lioe Ie, Les héros
* Nicolas Césard, Les objets en partage des nomades de Bornéo
* Martine Marin, Tanah Beru : voyage en pays Bugis 
* Mohammad Nanda Widyarta, Une Petite Histoire sur Thamrin-Sudirman, Méditation 
à propos 
   d' une photographie
* Josef  Prijotomo, L'architecture javanaise : Un don du Père Ciel à la Terre 
Mère
* Martine Estrade, L'Horizontale du silence et de la couleur
* Ibarruri Sudharsono, Un anniversaire, extrait d'une oeuvre inédite 
* Tan Lioe Ie, Sim Sim Salabim, poème



Berapa lama "Le Banian" dan "Pasar Malam" Paris bertahan? Pertanyaan yang tidak 
bisa dijawab sekarang dengan pasti hanya saja barangkali bisa diketengahkan 
sebagai tantangan untuk dijawab. Betapa pun, dalam usia pendeknya sampai 
sekarang "Pasar Malam"  Paris sudah mencatatkan jasanya dalam hubungan antara 
Perancis-Indonesia.  Dalam catatan ini tercantum profesionalisme dan keluasaan 
pandang serta pendekatan mendasar dari mana dan bagaimana menggalang dan 
mengembangkan persahabatan manusiawi itu. "Daya tahan seekor kuda, memang diuji 
dalam perjalanan jauh", ujar pepatah Tiongkok Kuno. Tapi kapan pun, kukira, 
kedua negeri dan bangsa memerlukan LSM begini, juga dalam hubungan dengan 
negeri-negeri lain. Keberhasilan "Pasar Malam" sampai sekarang , saya kira 
adalah kekuatan dari konsep "mestizo" kebudayaan, yang di Perancis dilambangkan 
dengan memasukkan sastrawan Alexandre Dumas ke Pantheon, makam putera-puteri 
terbaik Perancis, pada masa Jacques Chirac menjadi Presiden Perancis. Bhinneka 
Tunggal Ika, saya kira adalah istilah lain dari budaya yang berhakekatkan 
"mestizo", hakekat dari Indonesia juga adanya.  Kesimpulan pengalaman para 
tetua kita dalam usaha mereka untuk memanusiawikan diri, kehidupan dan 
masyarakat. ****



Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris.




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke