Dari rubrik Gelanggang, Jurnal Nasional, 16 Desember 2007

Wawancara dengan Binhad Nurrohmat
SASTRA INDONESIA TIDAK SEHAT


Binhad Nurrohmat, si penyair kuda ranjang ini selalu punya argumen yang memikat 
ketika dia menjelaskan mengapa puisinya selalu berkeliling seputar tema tubuh. 
Baginya, tubuh adalah kultur, adalah konteks yang perlu diterjemahkan ke dalam 
teks. Ia juga memaknai tubuh lebih dari sekadar onggokan daging yang hanya 
mengikuti perintah pikiran dan perasaan. Melalui tubuh ia menemukan kejujuran, 
kebohongan, kemanusiaan, dunia, perempuan, bahkan...Tuhan. Kepada Jurnal 
Nasional ia menuturkan gagasannya tentang mengapa ia menekuni tubuh, pula 
bagaimana tanggapannya terhadap sastra Indonesia yang dikatakannya sedang tidak 
sehat.

Adakah perdebatan sastra Indonesia sekarang ini?
  
 Ada. Tapi saya kira perdebatan akhir-akhir ini walaupun terselengara, gagal 
menukik pada gagasan. Tetapi lebih kepada kepentingan kelompok. Lebih kepada 
interest... 
  
  Menyangkut komunitas sastra?
  
 Saya kira tidak juga. Secara pribadi saya cukup intens bergaul dengan 
komunitas di daerah. Tetapi yang jadi masalah saya kira bukan sastranya, tapi 
sastrawannya. Mental sastrawan itu kadang-kadang terlalu berlebihan memandang 
Jakarta. Padahal, kalau mereka diuntungkan dengan pihak-pihak yang ada di 
Jakarta, baik dengan lembaga maupun media, ya mereka senang aja. Tapi kalau 
sebaliknya akan muncul semacam ketidaksukaan, antipati dan lain sebagainya. 
Jadi problemnya itu sebetulnya mental sastrawan kok, jadi bukan gagasannya. 
  
 Mereka itu tidak pernah membicarakan karya dengan benar. Mereka hanya 
mengklaim bahwa karya ini tidak bagus, karya itu jelek dan sebagainya, tapi 
tidak memberikan sebuah kajian. contoh karya saya (Bau Betina, Red), saya ragu, 
mereka memberikan penilaian aneka macam itu sudah membaca karya saya. Saya 
yakin mereka nggak baca. Saya tidak masalah dikaji dengan hasil apa pun, 
asalkan itu kajian. Tapi kalau klaim, apa pun hasilnya, baik disebut baik atau 
buruk, mencaci atau memuji, saya gak mau terima kalau itu klaim. Omong kosong 
semua itu. Kalau kajian, baik hasilnya bagus maupun buruk, saya terima.
  
 Saya memosisikan diri sebagai penyair yang mencoba menghargai tradisi. Maksud 
saya, puisi Indonesia itu sudah punya jejak yang sangat panjang. Cara saya 
menghargai tradisi adalah dengan cara mencoba meneruskan tradisi ini dengan 
cara mencari kemungkinan-kemungikan. 
  
  Dalam puisi-puisi Anda, tubuh menjadi pokok pembahasan. Kenapa Anda sebegitu 
terobsesinya dengan tubuh?
  
 Kenapa saya memilih subyek tubuh dalam karya-karya saya? Karena saya kira hal 
itu dalam puisi Indonesia belum jadi perhatian yang serius. Kenapa saya pilih 
itu, karena secara personal saya punya problem dengan persoalan tubuh. Secara 
sosial itu juga jadi masalah. Dan ternyata dalam puisi Indonesia itu juga belum 
menjadi perhatian. Selama ini tubuh tak menjadi satu fokus yang digeluti secara 
lebih luas dan mendalam. Sementara tema lain seperti lingkungan, sosial, 
politik itu sudah ada. Tapi tubuh, katakanlah kalau orang bilang seksualitas, 
itu belum. Lagi pula puisi-puisi saya itu tidak hanya mengangkat persoalan 
tubuh dalam pengertian seks semata, bukan hanya biologis, tapi juga sosiologis 
bahkan juga teologis. Saya menggarap tiga hal ini: tubuh sosial, biologis dan 
teologis. Jadi dalam puisi saya, Kuda Ranjang, selalu ada tiga unsur itu, kalau 
saja orang mau jeli membaca. Bahkan ada yang bilang puisi saya itu religius, 
karena ada unsur pertentangan di sana. Khususnya
 ketika menyikapi tubuh itu dengan rasa dosa, semisal ada kata maksiat di sana. 
Nah kata maksiat itu kan merujuk kepada konsep agama, religi. 
  
  
  Sepertinya Anda pembaca Michel Foucault atau jangan-jangan Anda pengikut 
Foucault?
  
 Saya tidak suka mencari-cari konteks pemahaman saya terhadap kenyataan dengan 
basis filosofis, saya lebih cenderung pada empiris, setelah itu baru saya cari 
literatur, saya baca Foucault dan sebagainya. Saya kemudian mencari jawaban 
yang sifatnya personal dan subyektif, setelah itu saya mencari 
referensi-referensi, tapi saya yakin Foucault memang sudah menyelidiki soal 
tubuh, tetapi tubuh yang konteks ruang waktunya berbeda dengan sekarang. Jadi 
saya yakin bahwa seandainya kita serius mendalami persoalan tubuh, kita juga 
akan bisa menemukan soal baru tentang itu. Dan saya berani menempuh itu dengan 
segala konsekuensinya. Bagi saya tubuh adalah semesta. Di dalamnya kita bisa 
menemukan banyak hal. Kalau kita mau membaca jejak-jejak peradaban manusia bisa 
juga dilihat dari bagaimana tubuh itu hadir. Dengan tubuh itu bisa kelihatan 
semua. 
  
  Jadi bagaimana riwayatnya sehingga Anda bisa menekuni persoalan tubuh ini?
  
 Tentu itu ada riwayatnya, kenapa sampai menganggap tubuh itu sebagai basis 
kultural saya. Saya punya sejarah yang sangat individual. Berawal ketika saya 
merasa tak punya kebudayaan kolektif. Tidak sebagaimana Rendra yang punya latar 
belakang kultural Jawa. Saya orang Jawa, tapi besar di Lampung, dan saya 
berasal dari keluarga santri yang tidak kenal kebudayaan dalam arti kesenian 
dan segala macam itu. Saya cemburu karena melihat penyair itu punya latar 
kultural, Sutardji punya Melayu, Rendra punya Jawa, terus saya bertanya 
sebenarnya inti budaya saya itu apa? Ternyata keintiman pada tubuh. Bayangkan, 
Rendra bicara tentang sesuatu hal dengan merujuk kepada mitologi Jawa, dari 
mitologi wayang misalnya. Sementara saya tidak, lantas saya sadar kalau saya 
intim dengan tubuh saya: mandi, makan, tidur juga dibawa. 
  
  Sesederhana itukah?
  
 Ya, setelah sadar itu, saya menjadi peka dengan tubuh saya. Saya seperti orang 
primitif ketika baru sadar meraba, pada masa mengenal fase biologis. Saya juga 
kemudian sadar kalau tubuh juga secara sosial punya masalah, ditindas norma, 
kaidah dan segalanya. Misalnya kita keluar harus pakai baju tapi kalau di kamar 
mandi tidak merasa malu, tapi kenapa di luar rumah kita merasa rikuh. Ooo.. ini 
berarti ada masalah. Ternyata tubuh juga punya dimensi sosiologis, karena 
dengan tubuh ini kita bisa memaknai manusia dan juga Tuhan. Makanya dalam puisi 
saya judulnya Permohonan berbunyi “Tuhan beri saya perempuan, perempuan beri 
saya Tuhan”. Juga tubuh yang profan ini punya peran yang sakral. Jadi makna 
duniawi maupun makna di luar itu melalui tubuh. Karena tubuh itu lebih dulu 
menyerap kenyataan ketimbang pikiran. Kita tidur pun tubuh tidak tidur, tapi 
pikiran saja yang tidur. Tubuh tetap merekam kenyataan. Jadi tubuh itu lebih 
dulu memahami kenyataan tentang dunia daripada pikiran
 manusia itu sendiri. 
  
  Pencarian Anda terhadap dunia ini jadi dimulai dari tubuh juga?
  
 Betul, ini jalan spiritual saya untuk memahami dunia, bukan saja untuk 
memahami diri saya. Saya memahami dunia itu melalui tubuh, sebagaimana saya 
menyadari realitas ketuhanan dengan iman. Tubuh itu menjadi medium saya untuk 
mencapai keimanan. Tanpa tubuh saya takkan pernah jadi manusia, jadi arwah 
saja. Artinya tubuh itu punya peranan luar biasa dalam kehidupan manusia. Tapi 
malangya tubuh itu seringkali digunakan oleh manusia untuk tujuan-tujuannya 
sendiri dengan cara menindas: tidak boleh begini, begitu...tujuannya untuk 
memuliakan, tapi dengan cara yang menindas. Saya pernah menulis sebuah esei 
soal itu di Jawa Pos, judulnya Merengkuh Makna Tubuh. Dalam tulisan itu saya 
memberikan fakta sejarah tentang bagaimana tubuh diperlakukan dan tujuannya 
apa. Bahkan Nietzche juga bilang soal tubuh dalam “Kepada Kaum Pembenci Tubuh”.
  
  Apa yang hendak Anda buktikan dengan proyek tubuh itu?
  
 Tentu saja saya sadar, ketika saya memutuskan untuk mengungkap tentang tubuh, 
ada persoalan yang melingkupinya. Sehingga dengan demikian saya mencoba 
memberikan satu upaya, paling tidak kepada diri saya sendiri, tentang bagaimana 
sih tubuh itu sejauh yang saya bisa pahami? Tentu saja hal ini bisa menimbulkan 
masalah karena disalahpahami. Lantas karena saya menulis, jadi karya saya itu 
dipublikasikan. Saya berharap bisa melakukan semacam korespondensi. Sebenarnya 
tubuh itu bagaimana? Saya mencoba menawarkan bahwa menurut saya itu tubuh 
begini. Ternyata korespondesi itu berjalan walaupun sangat keras karena karya 
saya disalahpahami ketika tubuh diartikan hanya dari sudut pandang seks belaka, 
sudut pandang yang sangat biologis. Dari situ saya punya indikator kenapa puisi 
saya selalu dilekatkan dengan urusan biologis, ternyata itulah cermin 
masyarakat kita dalam memahami tubuh. 
  
 Dari sana pula saya mendapat feedback, oohh ternyata benar dugaan saya. Tubuh 
adalah kultur saya. Tubuh medium saya untuk berbicara. Saya merasa yang intim 
dalam hidup saya itu bukan wayang, bukan serat atau babad tapi tubuh. Apa boleh 
buat, saya menjalani itu. Saya menyadari sesuatu yang sebetulnya sudah lambat 
saya sadari. Seharusnya saya sudah sadari sejak awal. Tubuh itu dahsyat. 
Makanya di dalam filsafat banyak yang menyoal tubuh mulai dari Nietzche sampai 
dengan Foucault. Bahkan Nietzche bilang dalam tubuhmu ada yang sesuatu yang 
lebih arif daripada akal pikiranmu. Tubuh itu tak bisa berbohong, tapi pikiran 
bisa. Apa yang dilakukan tubuh seandainya hanya mengikuti suara hati itu, luar 
biasa dunia ini. Tapi kalau tubuh diperalat oleh pikiran, itu jadi lain lagi. 
  
  Tapi kan itu kenyataan, bahwa masyarakat kita belum bisa menerima soal-soal 
demikian? Jadi apa yang Anda inginkan?
  
 Saya berharap masyarakat punya pemahaman yang lebih kaya. Barangkali puisi 
saya itu hanya kata kunci saja untuk memahami tubuh terserah mereka mau 
bagaimana. Paling tidak secara pribadi saya berusaha memperkaya wacana dalam 
dunia sastra Indonesia. Dalam kesusasteraan, karena produk kreatif, harus ada 
unsur kebaruan. Dalam masyarakat itu yang berlaku adalah kesepakatan. Di dalam 
masyarakat yang tidak ilmiah itu jadi makin sulit karena yang berlaku dogma, 
kaidah dan sebagainya. 
  
  Sastra kan identik dengan bahasa yang berbunga-bunga, kaya dengan metafor dan 
simbol, tidak eksplisit seperti pada puisi-puisi Anda?
  
 Saya bisa menjelaskan soal metafor itu. Kalau dibaca dan ditafsir dengan benar 
apa yang saya tulis itu juga mengandung simbolisasi dan metafor. Namun 
demikian, walaupun saya dituduh menulis puisi yang tidak simbolik dan tidak 
metaforik itu bukan masalah besar bagi saya. 
  
  Sebagian pengamat, semisal Maman S Mahayana mengatakan, sebaiknya karya 
sastra itu tidak eksplisit, dengan kata lain tidak vulgar. Bagaimana menurut 
Anda?
  
 Sekarang pertanyaannya apakah betul kalau sastra itu tidak boleh bicara secara 
langsung, secara eksplisit? Begini, dalam puisi Taufik Ismail itu apa ada yang 
menggunakan metafor? Jadi saya kira pandangan sastra harus metafor, harus 
simbolik, itu bukan satu-satunya kebenaran. Kita baca juga puisi Chairil Anwar, 
puisinya kan bisa kita pahami secara letterlijk maupun secara metafor, “aku 
kalau sampai waktuku” misalnya. Itu bisa dipahami secara letterlijk tapi juga 
bisa dipahami secara metaforik. Jadi kalau ada orang yang mengatakan puisi saya 
tidak metaforik, ah itu bukan masalah. So what gitu loh? Kenapa dengan itu 
semua? Tidak masalah. Apalagi kalau kita baca karya-karya asing, banyak yang 
eksplisit. 
  
  Kumpulan puisi Anda Bau Betina dianugerahi karya sastra terburuk 
“Kakus-Litiwa” oleh Wowok Hesti Prabowo cs. Apakah Anda merasa dihakimi dalam 
urusan ini?
  
 Tidak. Saya kira persoalannya bukan terletak pada sastrawan menghakimi, tetapi 
lebih karena kondisi kesusasteraan Indonesia yang sedang tidak sehat. Karena 
tidak ada lembaga kritik yang berwibawa. Padahal salah satu cara untuk mengukur 
sebuah karya itu bagus atau tidak harus dengan kritik sastra. Tidak dengan 
klaim. Jadi dari sana kita bisa menilai kalau kesusasteraan kita sedang tidak 
sehat. Jadi ada penghakiman, penghujatan, hanyalah sebuah efek dari sebuah 
kondisi yang tidak sehat. Seandainya ada lembaga kritik yang dipercaya, 
berwibawa, maka tidak ada penghakiman. Sekarang tidak ada kritikus demikian. 
Mereka itu (penyelenggara Kakus-Litiwa Award, Red) juga menghubung-hubungkan 
sesuatu yang tak ada kaitannya. Tiba-tiba ngomongin sastra dengan dana asing, 
tidak ada itu! Lantas juga ngomong soal komunitas, apa itu, tak ada 
hubungannya? Lalu mereka juga ngomong soal standar estetika, lha yang bikin 
standar itu siapa? Saya kira itu karena efek karena tidak ada lembaga
 kritik yang berwibawa. Bahkan tidak ada lembaga kritik, jangankan lembaga 
kritik yang berwibawa, lembaga kritiknya saja tidak ada. Itulah yang membuat 
tidak sehat. Munculah kemudian klaim, mengatakan sebuah karya bagus atau jelek 
berdasarkan komentar. Masalah ini sangat rawan, rawan terhadap apresiasi dan 
perkembangan sastra itu sendiri. Ini baru pertama kali terjadi dalam dunia 
kesusasteraan kita ada penghargaan sastra terburuk yang diberikan oleh sesama 
sastrawan. Dulu di Jerman pada zaman NAZI ada pemberian hadiah sastra bobrok, 
tapi itu kan kekuasaan yang memberikan, politik, bukan sesama sastrawan. 
  
  Tapi itu sah-sah saja dalam alam demokrasi, bukan?
  
 Saya memahami demokrasi tidak seperti itu. Ini adalah produk dari dunia 
kesusasteraan yang tidak sehat. Terlalu bagus kalau dikaitkan dengan demokrasi. 
Bahkan untuk disejajarkan dengan dagelan pun terlalu bagus. Ini lebih kepada 
cermin dari sebuah keadaan yang tidak sehat. 
  Lantas Anda memandang ini sebagai gejala apa?
  
 Saya kira ini semacam warning tentang sastra kita yang sakit. Saya lebih 
memahami ke sana. Kalau sudah terjadi seperti ini yang harus dilakukan adalah 
menghidupkan lembaga kritik supaya terhindar dari kondisi semacam sekarang. 
Sekarang ini sastra kita rapuh, ada goncangan sedikit saja sudah geger. Contoh, 
ada jurnal Boemipoetra (dikelola oleh penyair Tangerang Wowok Hesti Prabowo, 
Red) saja sudah bikin orang geger, itu bukti kalau kondisi sastra kita rapuh.
    
  Anda kini dicerca, karya Anda oleh Wowok dibilang terburuk dan mengalahkan 10 
karya terburuk lainnya? Apakah Anda masih melanjutkan proyek tubuh dalam 
puisi-puisi Anda?
  
 Karya sastra tugasnya dituliskan. Mau ada yang menerbitkan atau tidak itu gak 
jadi soal. Pasti nanti akan ada yang baca. Coba saja itu babad tanah jawi, 
tidak diterbitkan, tapi sekarang kan dibaca. Dulu saya punya cita-cita 
seandainya puisi saya tidak dimuat, tidak diterbitkan, saya bisa saja menempel 
puisi-puisi saya di bis kota, di tembok-tembok kota. Karena saya kira yang 
terpenting adalah bagaimana menuliskannya. Beberapa puisi dulu dianggap jelek, 
kurang baik. Semisal milik Chairil Anwar yang dulu tak dipandang sama sekali. 
Tapi ada HB Jassin yang punya penilaian lain terhadap karya Chairil, tokh 
sekarang dibaca juga. Mungkin nanti, beberapa generasi yang akan datang, puisi 
saya juga akan dibaca. Saya menulis bukan untuk hari ini saja, tapi pada sebuah 
masa kemudian, untuk generasi mendatang. 
  
  Tapi kan sebagai sastrawan yang juga produk dari sebuah kebudayaan massal, 
Anda juga harus memahami pada masyarakat mana Anda berada?
  
 Oh ini imajinasi. Kalau karya seni ditaruh ukurannya pada masyarakat semua itu 
tidak akan bunyi. Coba saja ambil lukisan Picasso ke tengah masyarakat, pasti 
muncul komentar lukisan apa ini? Lukisan sampah. 
  
  Jadi Anda memisahkan kesusastraan atau kesenian itu dari masyarakat?
  
 Saya tidak terbelenggu pada pengertian seni untuk rakyat atau seni untuk seni. 
Ada seni yang bisa untuk seni sekaligus juga untuk masyarakat. Saya cair aja 
soal begitu. Ketika seseorang mengatakan seni untuk seni, itu berarti memagari 
dirinya sendiri. Atau seni untuk rakyat, itu juga memagari. Lantas apa 
ukurannya? Dulu ada pendapat seni tinggi, misalnya lagu Bethoven, tapi sekarang 
semua orang bisa menikmati Bethoven. Misalnya lagi dalam pengertian Pramoedya 
Ananta Toer seni untuk rakyat adalah seni yang menyuarakan penderitaan 
masyarakat. Lho, memangnya hanya rakyat kecil saja yang bisa menderita? 
Raja-raja juga bisa kan menderita? Bagi saya itu relatif. Bagi saya seni bisa 
menjadi untuk seni sendiri atau untuk rakyat. Yang menentukan itu mutu. Lantas 
siapa yang mengukur mutu, ya itu kritikus. 
  
  Sebagai penutup, kembali kepada soal eksplisitas dalam karya Anda. Bagaimana 
dengan puisi berjudul “Berak” pada kumpulan puisi Kuda Ranjang? Apakah itu 
tidak metaforis?
  
 Ooo itu, “Anusmu yang bagus// saban pagi mengangkangi kakus// yang tak bosan 
menunggu tahimu//”. Itu orang kalo berpikir tekstual pasti bertanya apa artinya 
ini? Padahal itu metafor juga, tentang kesetiaan bagaimana kakus setia kepada 
anus. Jadi saya memetaforkan hal-hal yang dianggap sepele bahkan dianggap 
najis. Orang tidak menafsir, jadi yang timbul salah paham. Kalau menafsir pasti 
tidak akan berpikir macam-macam. Makanya saya cuma tertawa ketika orang ribut 
membaca puisi saya, karena saya sudah tahu mereka tidak melakukan penafsiran. 
Puisi saya itu soal kesetiaan, bayangkan kakus bekerja itu tanpa pamrih, selalu 
menunggu setiap pagi..ha...ha...ha...ha..
  
  Bonnie Triyana


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke