Belum sempet nonton filmnya. Tapi novelnya bagus.

Habiburrahman menyajikan suguhan apik bagi sastra Indonesia. Kisah  
anak muda yang warna-warni lengkap dengan perjuangan, komitmen, 
integritas, dan romantika cinta yang misterius. Disampaikan dengan , 
tutur yang lugas tapi santun, dan juga realistis.

Ayat-ayat Cinta mampu hadir dengan 'smooth' di tengah-tengah anak 
muda sekarang yang cenderung kehilangan prinsip dan nilai-nilai. 
Herannya, genre seperti ini biasanya ditolak oleh mereka. Mereka 
cenderung resisten. Mungkin awalnya itulah yang terjadi ketika 
membaca judulnya yang terkesan "agama banget". Tapi ternyata tidak. 
Malah disukai dan direfrensikan pada teman-teman yang lain. Menular!

Kisahnya sanggup menyadarkan kembali akan arti penting menjaga 
komitmen pada diri sendiri dan pada Tuhan. Akhir ceritanya pun bagus 
dan tidak terkesan dipaksakan. Yang pasti,alurnya menghanyutkan. 
Lumer..

Kritik dari saya, ditengah cerita saya sudah dapat menebak bahwa 
Fahri akan bersanding dengan Aisha. Meski saya tidak menyangka 
dengan 'jalan' seperti itu. Sialan! Sialan, ternyata saya tidak bisa 
menebak sejauh itu. Hehe..

Habiburrahman... Menambah kekayaan sastra kita diantara perdebatan 
Sastra Kelamin, Sastra Religi, Sastra Hegemoni, Sastra Ibukota, 
Sastra Daerah, Kanon Sastra, dsb. Saya kira tak adalah dikotomi itu 
dalam sastra. Bikin saja karya terbaik, buktikan. 

Jadi mas Hanung, filmnya nggak jauh kan dari novelnya? Awas kalau 
jauh.. Hehe..


Salam.






--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> KISAH DI BALIK LAYAR AYAT AYAT CINTA I
> Nov 29, '07 2:39 PM
> 
> Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa 
ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film 
tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-
kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku 
film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. 
Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, 
mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat 
dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak 
terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas 
menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. 
Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai 
film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, 
Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno 
(kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat 
tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama
> adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali 
dirinya: Kotor atau bersih?
> 
> Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP 
Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku 
cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. 
Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ 
semester Akhir.
> Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat 
film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... 
Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat 
film tentang agama.
> 
> Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-
Ayat Cinta (AAC).
> 
> 'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku
> 
> 'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, 
penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film 
tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak 
bisa.'
> 
> 1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta 
penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 
milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 
milyar.
> 
> Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? 
Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak 
sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? 
Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas 
seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu 
dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali.
> 
> Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
> 
> Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di 
Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai 
Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa 
Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat 
keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka 
pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik 
bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ...
> 
> Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-
muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang 
melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran 
jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu 
Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
> 
> Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. 
Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti 
semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke 
eropa daripada ke Kairo.
> 
> 'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke 
producer.
> 
> Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca 
buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar 
untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar 
apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat 
gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di 
depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
> 
> Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
> 
> Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan 
pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, 
mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang 
bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi 
ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel 
yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.'
> 
> Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka 
bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang 
lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ...
> 
> 'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk 
ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
> 
> 'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern 
terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta 
melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan 
Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'
> 
> Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali.
> 
> Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat 
dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain 
hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng 
ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
> 
> Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang 
Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut 
serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-
pesantren . Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada 
yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka 
sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak 
diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu 
hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya 
Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita 
hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita 
dengan cambuk api.
> 
> Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting 
adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak 
pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka 
beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma 
Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah 
aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. 
Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu 
ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi 
tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di 
Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. 
Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. 
Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih 
seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari 
sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung 
semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku
> berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan 
panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai 
Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang 
membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak 
sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak 
kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. 
Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan 
perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku 
terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan 
Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi 
rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari 
segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah 
memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang 
begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. 
terima kasih Ibu.
> 
> Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami 
bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan 
riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua 
dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda 
untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar 
biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda 
lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya 
lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan 
umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat 
pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa 
dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami 
bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
> 
> Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus 
solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha 
kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang 
Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan 
cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang 
bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. 
Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan 
dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau 
bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang 
dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ...
> 
> 'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan 
oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan 
seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan 
demokratisasi dalam Islam seperti di India.'
> Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan 
bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia 
berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem 
sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di 
Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa 
Putri sebagai Maria.
> 
> Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk 
mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun 
antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga 
punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain 
sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai 
Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti 
sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali 
benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku 
frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku 
benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam 
terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan 
Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat 
kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda 
yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia 
lantas ingin mengubah karakterr film AAC
> menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! 
selamatkan film ini ...
> 
> Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta 
adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. 
Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat 
Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari 
seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai 
seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya 
adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi 
memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan 
kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan 
lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch 
Hotahai ...
> 
> Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
> 
> begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu 
merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah 
pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, 
dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada 
Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-
kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak 
langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku 
kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh 
dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur 
kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. 
Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain 
hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ...
> 
> La haula wa kuwwata illa billahi ...
> 
> # SUMBER : Blog Hanung
> mediacare
> http://www.mediacare.biz
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke