Yang menarik, akhirnya film AAC tidak jadi dibuat di Mesir, karena alasan 
membengkaknya biaya. Akhirnya lokasi dipindah ke India. Saya sempat lihat 
kemarin cuplikan di MTV saat mewawancari Nuril dan dua pemeran perempuan yang 
mendampinginya.

 

  ----- Original Message ----- 
  From: Refanidea Y. 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, December 21, 2007 1:34 AM
  Subject: [ppiindia] Re: Kisah di balik layar Ayat-Ayat Cinta I


  Belum sempet nonton filmnya. Tapi novelnya bagus.

  Habiburrahman menyajikan suguhan apik bagi sastra Indonesia. Kisah 
  anak muda yang warna-warni lengkap dengan perjuangan, komitmen, 
  integritas, dan romantika cinta yang misterius. Disampaikan dengan , 
  tutur yang lugas tapi santun, dan juga realistis.

  Ayat-ayat Cinta mampu hadir dengan 'smooth' di tengah-tengah anak 
  muda sekarang yang cenderung kehilangan prinsip dan nilai-nilai. 
  Herannya, genre seperti ini biasanya ditolak oleh mereka. Mereka 
  cenderung resisten. Mungkin awalnya itulah yang terjadi ketika 
  membaca judulnya yang terkesan "agama banget". Tapi ternyata tidak. 
  Malah disukai dan direfrensikan pada teman-teman yang lain. Menular!

  Kisahnya sanggup menyadarkan kembali akan arti penting menjaga 
  komitmen pada diri sendiri dan pada Tuhan. Akhir ceritanya pun bagus 
  dan tidak terkesan dipaksakan. Yang pasti,alurnya menghanyutkan. 
  Lumer..

  Kritik dari saya, ditengah cerita saya sudah dapat menebak bahwa 
  Fahri akan bersanding dengan Aisha. Meski saya tidak menyangka 
  dengan 'jalan' seperti itu. Sialan! Sialan, ternyata saya tidak bisa 
  menebak sejauh itu. Hehe..

  Habiburrahman... Menambah kekayaan sastra kita diantara perdebatan 
  Sastra Kelamin, Sastra Religi, Sastra Hegemoni, Sastra Ibukota, 
  Sastra Daerah, Kanon Sastra, dsb. Saya kira tak adalah dikotomi itu 
  dalam sastra. Bikin saja karya terbaik, buktikan. 

  Jadi mas Hanung, filmnya nggak jauh kan dari novelnya? Awas kalau 
  jauh.. Hehe..

  Salam.

  --- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > KISAH DI BALIK LAYAR AYAT AYAT CINTA I
  > Nov 29, '07 2:39 PM
  > 
  > Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa 
  ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film 
  tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-
  kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku 
  film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. 
  Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, 
  mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat 
  dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak 
  terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas 
  menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. 
  Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai 
  film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, 
  Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno 
  (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat 
  tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama
  > adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali 
  dirinya: Kotor atau bersih?
  > 
  > Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP 
  Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku 
  cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. 
  Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ 
  semester Akhir.
  > Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat 
  film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... 
  Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat 
  film tentang agama.
  > 
  > Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-
  Ayat Cinta (AAC).
  > 
  > 'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku
  > 
  > 'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, 
  penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film 
  tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak 
  bisa.'
  > 
  > 1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta 
  penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 
  milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 
  milyar.
  > 
  > Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? 
  Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak 
  sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? 
  Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas 
  seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu 
  dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali.
  > 
  > Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
  > 
  > Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di 
  Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai 
  Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa 
  Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat 
  keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka 
  pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik 
  bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ...
  > 
  > Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-
  muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang 
  melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran 
  jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu 
  Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
  > 
  > Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. 
  Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti 
  semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke 
  eropa daripada ke Kairo.
  > 
  > 'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke 
  producer.
  > 
  > Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca 
  buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar 
  untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar 
  apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat 
  gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di 
  depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
  > 
  > Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
  > 
  > Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan 
  pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, 
  mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang 
  bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi 
  ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel 
  yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.'
  > 
  > Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka 
  bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang 
  lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ...
  > 
  > 'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk 
  ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
  > 
  > 'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern 
  terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta 
  melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan 
  Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'
  > 
  > Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali.
  > 
  > Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat 
  dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain 
  hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng 
  ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
  > 
  > Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang 
  Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut 
  serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-
  pesantren . Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada 
  yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka 
  sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak 
  diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu 
  hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya 
  Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita 
  hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita 
  dengan cambuk api.
  > 
  > Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting 
  adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak 
  pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka 
  beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma 
  Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah 
  aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. 
  Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu 
  ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi 
  tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di 
  Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. 
  Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. 
  Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih 
  seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari 
  sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung 
  semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku
  > berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan 
  panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai 
  Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang 
  membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak 
  sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak 
  kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. 
  Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan 
  perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku 
  terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan 
  Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi 
  rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari 
  segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah 
  memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang 
  begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. 
  terima kasih Ibu.
  > 
  > Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami 
  bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan 
  riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua 
  dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda 
  untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar 
  biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda 
  lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya 
  lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan 
  umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat 
  pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa 
  dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami 
  bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
  > 
  > Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus 
  solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha 
  kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang 
  Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan 
  cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang 
  bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. 
  Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan 
  dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau 
  bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang 
  dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ...
  > 
  > 'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan 
  oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan 
  seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan 
  demokratisasi dalam Islam seperti di India.'
  > Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan 
  bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia 
  berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem 
  sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di 
  Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa 
  Putri sebagai Maria.
  > 
  > Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk 
  mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun 
  antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga 
  punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain 
  sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai 
  Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti 
  sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali 
  benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku 
  frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku 
  benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam 
  terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan 
  Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat 
  kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda 
  yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia 
  lantas ingin mengubah karakterr film AAC
  > menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! 
  selamatkan film ini ...
  > 
  > Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta 
  adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. 
  Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat 
  Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari 
  seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai 
  seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya 
  adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi 
  memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan 
  kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan 
  lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch 
  Hotahai ...
  > 
  > Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
  > 
  > begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu 
  merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah 
  pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, 
  dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada 
  Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-
  kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak 
  langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku 
  kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh 
  dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur 
  kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. 
  Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain 
  hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ...
  > 
  > La haula wa kuwwata illa billahi ...
  > 
  > # SUMBER : Blog Hanung
  > mediacare
  > http://www.mediacare.biz
  > 
  > 
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.5/1190 - Release Date: 19/12/2007 
19:37


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke