Green Politics dan Gerakan Demokratisasi di Indonesia
Sofian M. Asgart

Gerakan "politik hijau" di Indonesia diawali dengan
adanya kesadaran yang dipacu kondisi nasional kita
dimana terjadi berbagai kerusakan lingkungan hidup
akibat pembangunan yang terlalu berorientasi
pertumbuhan dan strategi pembangunan yang eksploitatif
sehingga mengancam kelestarian lingkungan hidup. Untuk
itu, Emil Salim kerap mengkampanyekan model
pembangunan alternatif. Paradigmanya bukan dengan
membendung dan bersifat anti-pembangunan. Juga tidak
dengan berbalik arah untuk hidup sangat sederhana
secara subsisten, namun dengan melaksanakan pola
pembangunan secara berkelanjutan (sustainable
development).

Menurutnya, hakekat pembangunan ke depan adalah
mengupayakan keberlanjutan (sustainability) kehidupan.
Untuk keberlanjutan kehidupan ini, pembangunan
berkelanjutan memiliki beberapa prasyarat. Pertama,
menjangkau perspektif jangka panjang melebihi satu-dua
generasi sehingga kegiatan pembangunan perlu
mempertimbangkan dampak jangka panjang. Kedua,
menyadari berlakunya hubungan keterkaitan
(interdependency) antar pelaku-pelaku alam, sosial dan
buatan manusia. Pelaku alam terdapat dalam ekosistem,
pelaku sosial terdapat dalam sistem sosial, dan pelaku
buatan manusia dalam sistem ekonomi. Ketiga, memenuhi
kebutuhan manusia dan masyarakat masa kini tanpa
mengurangi kemampuan generasi yang akan datang
memenuhi kebutuhannya. Keempat, pembangunan
dilaksanakan dengan menggunakan sumber daya alam
sehemat mungkin, limbah-polusi serendah mungkin,
ruang-space sesempit mungkin, energi diperbarui
semaksimal mungkin, energi tidak-diperbarui sebersih
mungkin, serta dengan manfaat lingkungan, sosial,
budaya-politik dan ekonomi seoptimal mungkin. Kelima,
pembangunan diarahkan pada pemberantasan kemiskinan,
perimbangan ekuitas sosial yang adil serta kualitas
hidup sosial, lingkungan, dan ekonomi yang tinggi.

Wacana mengenai pembangunan berkelanjutan di Indonesia
timbul-tenggelam sejak tahun 1980-an. Diskursus ini
bergulir sejalan dengan pasang-surutnya gerakan
demokratisasi di tanah air. Tafsir negara mengenai
pembangunan berkelanjutan sangat dominan seiring
sentralisme Orde Baru yang mencapai puncak kejayaannya
pada dekade 1980-1990-an. Transisi demokrasi yang
ditandai lahirnya semangat reformasi tahun 1998 turut
mereposisi peta wacana pembangunan berkelanjutan. Fase
ini memunculkan peran signifikan kalangan organisasi
non-pemerintah (ornop) dan masyarakat sipil lainnya
untuk turut merespon wacana pembangunan berkelanjutan
dengan polemik yang lebih dinamik. Walhi, Kehati, Bina
Desa, HUMA, AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara),
merupakan ornop yang aktif mengkampanyekan green
politics di tanah air dengan turut mewacanakan
pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu
alternatifnya.

Risalah kecil ini ingin memotret perdebatan dan
implementasi pembangunan berkelanjutan yang dilakukan
pemerintah dan ornop dengan mendasarkan pada sebagian
temuan penelitian Demos yang relevan dengan isu
pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu bentuk
gerakan "politik hijau" di Indonesia.

selengkapnya silahkan akses

http://www.demosindonesia.org/pdf/Sasgart_Green%20Politics%20dan%20Gerakan%20Demokrasi.pdf




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke