Kronik Dokumentasi Wida:  

TENTANG KONGRES  & SEMINAR NASIONAL KOMUNITAS SASTRA INDONESIA
DI KUDUS, JAWA TENGAH [19-21 JANUARI 2008].



Sebuah "Siaran Pers" pada 18 Desember 2007, muncul di layar laptop dengan tajuk 
yang segera memikat perhatianku.  Lengkapnya "Siaran Pers" tersebut adalah 
sebagai berikut [aku kutip]:


Siaran Pers 

  KONGRES & SEMINAR NASIONAL KOMUNITAS SASTRA INDONESIA


  "Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra 
Indonesia", Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008

  Sebuah acara sastra bertajuk Kongres Komunitas Sastra Indonesia dan Seminar 
Nasional Komunitas Sastra akan digelar di Kudus, Jawa Tengah, selama 19-21 
Januari 2008. Acara yang digelar Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan didukung 
penuh PT Djarum ini akan menggelar acara berupa kongres KSI, seminar bertema 
"Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra 
Indonesia", pementasan sastra dan seni, serta wisata budaya.

  Kongres KSI akan memilih kepengurusan baru periode 2008-2010, penyusunan  
program kerja, dan penyampaian rekomendasi yang mencoba merespons kondisi 
mutakhir kesusastraan Indonesia. Sedangkan, seminar nasional komunitas sastra 
akan menampilkan pembicara Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Dendy Sugono, 
Korrie Layun Rampan, Maman S. Mahayana, Eko Budihardjo, Habiburrachman 
El-Shirazy, Shiho Sawai, Ahmadun Y. Herfanda, Micky Hidayat, Mukti Sutarman SP, 
Idris Pasaribu, dan [?-- tanda tanya dari JJK]. 


  Pementasan karya sastra akan diisi, antara lain, Sutardji Calzoum Bachri, 
Jose Rizal Manua, Parni Hadi, Diah Hadaning, Arie MP Tamba, Kurnia Effendi, 
Mustafa Ismail, Chavchay Saefullah, Sihar Ramses Simatupang, Fatin Hamama, dan 
Thomas Budi Santoso. Wayang klithik dan terbang papat, dua bentuk kesenian 
tradisional yang sudah langka dari Kudus, juga akan ditampilkan.


  Menurut Iwan Gunadi, Ketua KSI, pada kesempatan itu juga akan diluncurkan 
buku perjalanan KSI selama hampir 12 tahun. Lebih lanjut, Wowok Hesti Prabowo, 
ketua umum panitia acara tersebut, yang didampingi Mukti Sutarman SP, ketua 
panitia pelaksana, menjelaskan, acara yang akan diikuti sekitar 200 pelaku 
sastra, belasan cabang atau koordinat KSI di pelbagai wilayah di Indonesia, 
serta masyarakat Kudus dan sekitarnya ini juga mengagendakan kunjungan ke 
pabrik rokok, pabrik jenang atau dodol, Museum Kretek, dan Menara Kudus. 

  Kontak Pribadi: Wowok Hesti Prabowo (0817723192), Shobir Poer (0817126993), 
atau Iwan Gunadi (08128502976) 

  -- 
  www.indosinema.com
  jalan h salim III no 54
  phone 0217232059- mobile 08568970995.__


Ketertarikanku akan "komunitas sastra" dan komunitas-komunitas lain yang 
bergerak di berbagai bidang , bukan hanya sastra-seni,  di Indonesia, jika 
boleh terus-terang,  bukanlah bermula di hari ini saja. Dan bukan pula sebatas 
pada lingkup ketertarikan, tapi sedikit banyak mempunyai cotak keterlibatan 
langsung. Lebih-lebih ketika aku memperoleh  syarat bekerja di Indonesia selama 
beberapa tahun. Ketika bekerja di Palangka Raya,  Kalimantan Tengah, aku turut 
mendirikan Dewan Kesenian Kalteng dan didaulat untuk menjadi Ketuanya. Kemudian 
oleh Gubernur Kalteng Warsito dinaikkan dari Ketua menjadi Penasehat, agar 
istri sang gubernur bisa masuk dan berperan. Keputusan ini  diboikot oleh 
mayoritas seniman Palangka Raya yang siang-malam sampai subuh, bekerja 
menyiapkan Dewan Kesenian, sehingga melumpuhkan Dewan Kesenian tersebut. Sampai 
sekarang!  Ketika Dewan Kesenian ini lumpuh, menjelang peresmiannya,  
bersama-sama para seniman Palangka Raya yang memboikotnya, kami mendirikan 
suatu komunitas sastra-seni baru dengan program menyeluruh dan rinci,  yang 
kami namakan Ikatan Sastrawan Indonesia [ISASI] Kalimantan Tengah. Mantan 
Kolonel intel,  Salundik Gohong,  Walikota Palangka Raya waktu itu, dan 
beberapa anggota DPRD dari berbagai asal etnik, termasuk asal Madura,  menjadi 
para penasehat yang bersemangat dan aktif menulis di majalah bulanan "Dermaga", 
penerbitan ISASI. Dari kedudukan Ketua ISASI pun aku kembali digusur oleh 
kekuasaan politik dan sempat dilarang bicara di depan publik. Salundik Gohong, 
dengan dana yang terbatas yang dimilikinya, tidak segan menerbitkan antologi 
tunggal puisi Pak Suleman alm, dan Sundari dari Dinas Pariwisata dengan gairah 
menerbitkan antologi puisi bersama para penyair Kalteng, menyokong pekan 
sastra-seni untuk kalangan pelajar Palangka Raya dalam rangka Hari Bahasa.  
Antologi puisi tunggal yang diterbitkan oleh Salundik, ia jadikan hadiah 
terbaik , menurut nistilahnya, kepada para tamu kopapraja Palangka Raya. 
Sementara Dewan Kesenian hanya tinggal nama dan lenyap dari riuhnya ingatan. 
Kemabukan akan uang dan narsisme,  menghancurkan lembaga yang dapat jatah bujet 
dari Anggaran Belanja Pemerintah Daerah.  Anak manusia jadi budak ciptaannya 
sendiri, yaitu uang. Uang membuat orang serakah dan rebutan, serta 
memperebutkannya. Kemanusiaan adalah kancah pertarungan dan usaha 
memanusiawikan diri, manusia, kehidupan dan masyarakat tidak lain dari proses 
pertarungan tanpa sudah juga  adanya. Barangkali! Mencintai dan beridealisme, 
menjadi pemimpi, agaknya menagih ketegaran berlaga dengan setia. Sepi memang 
jalan mimpi dan cinta. "Isen Mulang" [tak pulang jika tak menang sekali sudah 
berangkat perang], adalah warisan nilai budaya yang ditinggalkan manusia Dayak 
dahoeloe. Atau jika menggunakan kata-kata penyair asal Tapanuli, HR Bandaharo:


"tak seorang berniat pulang
walau mati menanti"


[Banda, demikian sehari-hari ia dipanggil teman-teman dekatnya, sampai ajal 
setia pada kata yang ia tuliskan. Aku merundukkan kepala mengenangnya, mengucap 
terimakasih pada kasih dan perhatiannya padaku, seperti juga pada Bakri 
Siregar. Bagi Banda, agaknya, kata adalah terjemahan dirinya sendiri. Diakui 
atau tidak sebagai penyair oleh orang lain, ia telah bersyair sampai mati di 
jalan hidup pilihannya yang bukan "jalan bertabur bunga"].


Sastrawan, penyair, tidakkah sebenarnya juga seorang pemimpi? Pembaca sadar 
atas kehidupan dan berwawasan walau pun seperti ujar Chairil Anwar belum tentu 
ia akan "sampai ke pantai keempat" tapi untuk kemanusiaan, yaitu "kekasih" 
Chairil, "di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar" [Lihat sanjaknya: 
"Cintaku Jauh Di Pulau"]. Melihat diriku dan keadaanku, keadaan negeriku,  
sering aku bertanya pada diri: Kekasih, kekasih,  apa yang kukalungkan di leher 
sebagai oleh-oleh untukmu, kecuali bencak-bencak darah perjalanan dan sebuah 
hati? Di negeri kita, sering aku berhadapan pada keadaan bahwa mencintai pun 
terlarang dan dipandang subversif, padahal "madrid, madrid, mataharimu tak 
tergantikan"  bagi putera  Spanyol republiken yang kalah dalam pertempuran 
melawan fasis Franco hingga harus mengungsi dari kampung lahir. 


Sadar akan perlunya kerjasama antar komunitas  berbagai pulau,  bersama 
mayoritas seniman Kalteng, terutama yang bermukim di Palangka Raya, kami secara 
berprakarsa melakukan kontak-kontak untuk saling belajar [terutama untk 
belajar!], dengan komunitas di berbagai pulau, terutama yang ada di pulau Jawa, 
termasuk di berbagai propinsi Kalimantan. 


Ketertarikan dan keterlibatan ini, bermula dari penglihatan bahwa komunitas 
sastra-seni merupakan prakarsa dari bawah. Dari dan oleh para sastrawan-seniman 
itu sendiri. Bebas dari pengaruh, apalagi dikte, partai-partai politik mana 
pun. Komunitas sastra-seni yang bertebaran di berbagai daerah dan pulau, sampai 
ke kota-kota kecil seperti Muntilan, Tegal, di Jawa Tengah, Serang di Banten, 
Kupang di Timor Barat, Ende di Flores, [untuk menyebut beberapa nama saja],  
kulihat sebagai bentuk penemuan kreatif sastrawan-seniman angkatan sekarang 
guna menerobos kemandegan dan mengembangkan kreativitas diri. Komunitas 
sastra-seni, kulihat dan kuharapkan bisa memainkan peranan vital dalam 
menggalakkan kegiatan berkesenian dari bawah dan mengapa tidak bisa diharapkan 
menjadi aktor terciptanya gerakan kebudayaan di negeri ini dengan menjaga 
kebhinnekaan.  Lahirnya, komunitas-komunitas yang independen, tapi saling 
bekerjasama, berbeda sifatnya dengan lembaga-lembaga kesenian seperti misalnya 
Lekra, LKN, Lesbumi, Lekrindo, Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia, Lesbi. 
Zaman memang melahirkan anak kandungnya sendiri. Menampilkan tantangan dan 
jawaban khasnya. Komunitas sastra-seni sekarang, kulihat sebagai anak zamannya 
juga.


Sebagai seorang anak bangsa dan pencinta sastra-seni dengan komitmen manusiawi, 
apa yang kuimpikan secara pribadi dari komunitas-komunitas yang menjamur ini? 


Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.


[Berlanjut... ] 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke