Kronik Dokumentasi Wida:  


TENTANG KONGRES  & SEMINAR NASIONAL 
KOMUNITAS SASTRA INDONESIA
DI KUDUS, JAWA TENGAH [19-21 JANUARI 2008].




Tumbuhnya komunitas-komunitas sastra-seni di berbagai daerah dan pulau 
tanahair, memperlihatkan bahwa dikte dan penindasan tidak pernah berhasil 
mencegah kreativitas seniman dan masyarakat. Ia seperti air sumber yang mencari 
jalannya sendiri menuju muara karena mengungkapkan diri adalah suatu keperluan 
niscaya anak manusia.  Bahasa plesetan yang berkembang di Jawa Tengah, 
khususnya Yogyakarta, misalnya, kukira tidak lain dari salah bentuk ungkapan 
perlawanan masyarakat terhadap penindasan rezim otoriter pada zaman Orba.  


Seperti kukatakan di atas, lahirnya komunitas-komunitas sastra-seni pun tidak 
lain dari bentuk kreatifitas pula. Kecuali itu, kelahiran komunitas-komunitas 
mengatakan , entah disadari atau tidak disadari, bahwa dalam berkreasi dan 
mengembangkan sastra-seni diperlukan kebersamaan.  Apabila komunitas-komunitas 
ini berhimpun dan bekerjasama, bukan tidak mungkin dari sini akan lahir sebuah 
gerakan kebudayaan di negeri ini. Gerakan kebudayaan yang bertujuan tunggal dan 
sekaligus merupakan unsur perekat antar komunitas-komunitas itu,   yaitu 
pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat dengan bentuk yang beragam. 
Pemanusiwiaan diri sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat memberi dasar 
universalitas nilai  bagi gerakan kebudayaan ini, yang kunamakan sebagai nilai 
republiken, sedangkan keragaman bentuk penungkapannya  sebagai hakekat 
keragaman anak bangsa dan negeri, kusebut sebagai isi dari berkindonesiaan. 
Keragaman meniscayakan penghuni negeri ini untuk saling menghormati dan 
toleran. Tidak merasa diri lebih unggul dari yang lain, tapi memperlakukan 
keragaman tersebut sebagai suatu rakhmat dan keberuntungan bagi kreativitas.  
Adanya gerakan kebudayaan begini hanya akan memperkuat dasar secara alami,  
kesadaran berbangsa dan bernegeri, mengokohkan nilai-nilai republiken dan 
berkeindonesiaan. Menyemarakkan kreativitas. Adanya gerakan kebudayaan 
republiken dan berkindonesiaan, memungkinkan kita bisa berdialog, tanpa lepas 
akar, dengan budaya dunia dan menjadikan diri  bagian alami dari budaya dunia. 
Budaya "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri naga], jika 
menggunakan istilah Dayak atau "kemanusiaan itu tunggal, kebudayaan itu 
majemuk" jika meminjam istilah filosof Perancis Paul Ricoeur alm. Adakah 
gerakan kebudayaan begini sekarang? Gerakan kebudayaan!? Pesantren-pesantren NU 
yang membawah dan bergerak di bawah,  di pedesaan yang luas,  sebenarnya bisa 
merupakan basis awal yang solid dalam membangun gerakan kebudayaan begini, 
seandainya ia meluaskan cakrawala terlayar oleh label Islam.  Indonesia bukan 
hanya Islam. Label hanya akan menjadi penyekat. Menempatkan Republik dan 
Indonesia di bagian lain dari sekat itu. Barangkali jika kita menangkap dan 
mengutamakan roh semua agama, boleh jadi antara roh agama-agama, republik dan 
keindonesiaan tidak ada pertentangan. Tidak dilihat sebagai sesuatu yang 
bertentangan. Tidak seniscayanya dipertentangkan. Republik dan Indonesia tidak 
lain dari "betang", rumah panjang bersama jika menggunakan konsep manusia Dayak 
yang ditangani bersama sebagai "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang 
putera-puteri naga].  Aku memandang pertanyaan ini sebagai masalah kebudayaan, 
dasar yang menyentuh kehidupan berbangsa dan bernegeri. Memahami, dan bukan 
seperti anak-anak TK dan  SD, menghapal luar kepala arti republik, 
berkindonesiaan dan roh agama, kukira akan sangat berdampak jauh dan dalam. 
Soal ini pun sebenarnya, dari sudut pandanganku merupakan soal sastra-seni juga 
yang lebih hakiki dari soal jamak manusiawi yaitu masalah ranjang dan 
membanggakan diri tampil sebagai "kuda ranjang" yang habis-habisan 
dieksploitasi atas nama keunikan diri. Padahal tidak unik.


Dari apa yang kubaca di dalam Siaran Pers di atas, agaknya sandaran Kongres & 
Seminar Nasional Komunitas Sastra Indonesia di Kudus nanti lebih bersandar dan 
menjual nama-nama besar. Sementara para aktor lapangan komunitas yang "belum 
bernama" atau "bernama kecil" seperti kurang ditampilkan dan tidak dijadikan 
sandaran. Padahal pengalaman Festival Lima Gunung di Magelang, Jawa Tengah 
[menurut kabar Dorothea Rosa Herliany dari Indonesia Tera akan menerbitkan 
sebuah buku mengenai Festival Lima Gunung ini], mereka secara finansial dan 
aktor bersandar sepenuhnya pada orang kampung yang di bawah, bukan para elit 
sastra-seni bernama beken.  Aku mendengar gema nyaring Festival Lima Gunung 
yang sudah diselenggarakan empat kali  secara berhasil selama empat tahun 
berturut-turut dan pernah dihadiri oleh mantan Presiden Megawati dan Susilo 
Bambang Yudhoyono [SBY] tanpa melakukan komitmen apa pun dari  keduanya kepada 
pihak penyelenggara Festival.  Kedua tokoh ini tidak memberikan sumbangan apa 
pun kecuali kehadiran mereka. Pengalaman Rumah Dunia, Serang, Banten, dalam 
menyelenggarakan pertemuan sastra-seni Ode Kampung pertama dan kedua, kukira 
pun menyumbangkan pengalaman berharga. 


Dalam hal ini, aku sama sekali tidak menggugat -- bahkan menghargai -- 
"dukungan penuh" PT Djarum Kudus untuk menyelenggarakan Kongres dan Seminar 
Nasional ini. Yang aku pertanyakan adalah orientasi, tujuan, mau ke mana dan 
bagaimana  serta siapa yang dijadikan sandaran Kongres & Seminar Nasional ini? 
Menurut Siaran Pers di atas, "perjalanan  KSI" sudah berlangsung 12 tahun.  
Dibandingkan dengan harapan bahwa komunitas-komunitas bisa menjadi dasar dan 
aktor munculnya gerakan kebudayaan, sekali pun dikatakan bahwa Kongres & 
Seminar Nasional Komunitas Sastra Indnesia ini  "diikuti sekitar 200 pelaku 
sastra, belasan cabang atau koordinat KSI di pelbagai wilayah di Indonesia " , 
tapi agaknya yang disebut gerakan kebudayaan masih memerlukan  kerja sebelum 
suatu gerakan kebudayaan sungguh-sungguh nyata ada di negeri ini.  Apakah PT 
Djarum mendukung penuh kongres dan seminar nasional karena nama-nama besar 
tersebut? Nama-nama besar dan kata nasional memang layak dijual serta relatif 
mampu meyakinkan sponsor? Atau benarkah Kongres & Seminar Nasional Komunitas 
Sastra Indonesia ini sudah merupakan sebuah janin gerakan kebudayaan di negeri 
kita? Sekali pun demikian, aku masih melihat bahwa gerakan kebudayaan 
republiken dan berkeindonesiaan kiranya masih tak terbayangkan jika bersifat 
elitis dan mengabaikan aktor berjumlah besar dari bawah.  Elitisme akan 
memisahkan diri kehidupan dan bertengger di menara gading, asyik dengan diri 
sendiri sebagai "anak raja" dan "pangeran",  ujar penyair Perancis Paul 
Elouard. 


Inti pertanyaanku, sekaligus menyarikan kronik ini:  Dengan mengesankan 
elitisme seperti yang terbaca di Siaran Pers, mau apa dan mau ke mana Kongres 
Kebudayaan KSI Kudus ini selanjutnya? Apakah komunitas di basis yang 
pontang-panting siang-malam berkreasi dan berkegiatan, tidak selayaknya 
mewakili diri mereka sendiri dan bukan oleh yang disebut para pengamat, pakar 
dan nama-nama mapan?  Pertanyaan yang menanti uraian rinci dan ikhtisar data 
dari kerja selama 12 tahun serta dampaknya.  Apalagi suatu kongres niscayanya 
membuat sebuah neraca kegiatan untuk bisa melangkah lebih jauh bermakna lagi. 
Ataukah pertanyaan-pertanyaanku termasuk alur pikiran "kakek-kakek" belaka juga 
, jika menggunakan ungkapan seorang yang menyebut diri sebagai sejarawan muda 
Indonesia yang berangkat dari obyektivitas ketika melihat masa silam, hari ini 
dan esok? Dalam keadaan sudah menjadi "kakek-kakek" bersama Rendra aku ingin 
berkata:


"Ya! Ya! Akulah seorang tua!
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan 
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak
Sebagai seorang manusia"


Aku masih melihat bahwa makna dasar komunitas, termasuk komunitas sastra-seni 
terletak pada keinginan dan kegiatan pemberdayaan untuk pemanusiawian diri,  
dengan menjadikan diri sebagai aktor , bukan digantikan oleh elite yang jauh di 
menara gading, asing dari kehidupan. Komunitas menggaungkan harapan dengan 
usaha-usaha mereka yang kadang merangkak dan tertatih-tatih, berjalan menuju 
demokratisasi budaya dan menolak dominasi. 


Berbarengan dengan serangkaian pertanyaan di atas, aku masih ingin menyampaikan 
harapan terbaik dengan segala makna serta hakekat pertanyaanku, kepada para 
peserta Kongres & Seminar Nasional Komunitas Sastra Indonesia di Kudus Januari 
tahun depan. ***


Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.


  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke