http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/ayu-utami.html


Senin 17 Desember 2007 aku menghadiri acara ‘talk show’ dengan pembicara utama 
Ayu Utami dengan moderator Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka. ‘Talk show’ 
diselenggarakan di sebuah event yang diberi tajuk KAMPOENG WEDANGAN bertempat 
di kampus BLPT Jalan Brotojoyo Pondok Indraprasta Semarang. 
Menurut info yang kubaca di Suara Merdeka, acara dimulai pukul 19.00, sedangkan 
aku baru sampai ke tempat sekitar pukul 19.30. Untuk memberi alasan mengapa aku 
datang terlambat (coz I always insist I belong to the punctual type ) 
aku selesai mengajar pukul 19.00. I needed some time untuk berjalan dari 
classroom ke teachers’ room, mengembalikan attendance list ke tempatnya, minum, 
dll. Setelah itu, aku harus mengantar Angie pulang ke rumah dulu, karena dia 
harus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi final semester di sekolah, 
sehingga dia ga bisa ngikut aku nongkrongin Ayu Utami.  Sesampai di 
rumah, aku sempatin mengganti “baju kebesaranku” mengajar (rok panjang hitam, 
blus, plus blazer hitam), dengan celana jeans plus sweater (hawa di Semarang 
sedang cukup dingin karena hujan yang sedang “rajin” turun membasahi bumi yang 
memiliki landmark Tugumuda ini). 
Meskipun datang terlambat, dengan pedenya aku langsung menempatkan diri duduk 
di salah satu kursi yang terletak di deretan paling depan. Aku tengarai karena 
hujan yang mengguyur sejak siang hari, sehingga tidak banyak masyarakat 
Semarang yang mengunjungi KAMPOENG WEDANGAN; tidak banyak juga orang yang 
menempati kursi yang disediakan oleh panitia untuk “menikmati” Ayu Utami. LOL. 
Begitu duduk, Triyanto bertanya kepada hadirin, “Ada pertanyaan?” Waduh ... 
jelas I had no question karena aku belum tahu sampai mana perbincangan antara 
Ayu dan Triyanto, dan aku juga lumayan kaget karena aku yakin acara belum lama 
dimulai (mengingat ‘budaya’ buruk jam karet yang nampaknya telah mendarah 
daging di orang-orang Jawa; sorry, bukan bermaksud menghakimi nih: AKU YAKIN 
TIDAK SEMUA ORANG JAWA MEMPRAKTEKKAN BUDAYA—if we can call it BUDAYA—JAM 
KARET.) kok tahu-tahu Triyanto sudah ‘menyeruduk’ hadirin dengan “Ada 
pertanyaan?”
Berhubung tidak, atau belum ada satu pun pengunjung yang mengacungkan tangan 
sebagai tanda ingin mengajukan pertanyaan, Triyanto turun dari panggung, 
menghampiri seorang pengunjung yang duduk di sebelah kananku, dan bertanya,
“Apa yang membuat anda menghadiri acara ini?”
Berhubung jawabannya terlalu berbelit-belit, atau memang aku yang sudah menjadi 
makhluk pelupa, LOL, aku pun lupa apa alasan yang dia kemukakan. Aku sudah 
mempersiapkan diri jika Triyanto menanyaiku pertanyaan yang sama: “I am one fan 
of Ayu Utami! That for sure made me come to this place.” But ternyata harapanku 
itu terlalu tinggi. Triyanto langsung balik ke panggung, tanpa melirikku 
sedetikpun. (kayaknya sih. LOL.)
Satu hal yang sangat menarik bagiku yang dikemukakan oleh Ayu adalah dia 
menegasikan teori Roland Barthes tentang “The author is dead” begitu seorang 
pengarang usai menulis buku, dan buku tersebut dipublikasikan dan disebar ke 
masyarakat. (You can read one post of mine, I entitled “The death of the 
author” or similar like that in my blog http://afeministblog.blogspot.com) di 
post ini, aku pun menuliskan ketidakpedeanku untuk menggunakan teori Barthes 
ini, karena aku lebih condong ke teori Genetic Structuralism milik Lucien 
Goldmann, yang melibatkan ketiga elemen penting dalam menelaah suatu karya 
sastra, world view, the author’s view, plus his/her background, as well as the 
work itself.)
Berbeda denganku yang tidak mengimani teori Barthes karena aku bukan seorang 
yang pede, Ayu menjelaskan bahwa dia baru saja kembali dari Prancis, dalam 
rangka menghadiri launching SAMAN dalam versi Francaise. Sebelum buku SAMAN 
berbahasa Prancis itu diluncurkan ke masyarakat Prancis, Ayu diminta untuk 
menjelaskan kepada publik, “What is Saman all about?” yang bermakna Ayu tidak 
dimatikan oleh masyarakat sastra disana, Ayu tetap dianggap hidup sehingga 
suaranya perlu didengar untuk menjelaskan apa sih yang dia kemukakan, maupun 
yang dia kritisi, lewat novel perdananya yang dianugerahi sebagai tonggak 
bangkitnya Sastrawan Angkatan tahun 2000.
Seorang pengunjung bertanya tentang polemik sastra yang heboh di internet 
beberapa waktu lalu, antara pihak Forum Lingkar Pena—yang dimotori oleh Taufik 
Ismail—dengan Komunitas Utan Kayu—tempat dimana SAMAN dulu dilahirkan, meskipun 
sekarang Ayu tidak lagi terlibat secara aktif di KUK. Aku ingat yang ‘heboh’ di 
internet, adalah pelaku polemik yang menurutku mengklasifikasikan diri mereka 
ke dalam dua ‘kubu’ yakni ‘penghujat’ dan ‘pembela’ KUK dengan alasan 
masing-masing, bersaing siapa yang mampu mengemukakan alasan yang lebih 
intelektual. Ayu sendiri yang dihujat adem ayem saja. “Biarkan anjing 
menggonggong, kafilah tetap berlalu” mungkin Ayu berpikir begitu. 
Dan, ternyata setelah bertemu langsung, Ayu pun tetap memilih untuk tidak 
‘menceburkan’ diri ke kelompok pembela KUK, ataupun pembela diri sendiri. 
Dengan kata lain Ayu tetap dengan arif membiarkan para ‘anjing’ itu 
menggonggong, dan dia tetap berlenggang. 
Tatkala mendapatkan kesempatan, aku bertanya, “Bukankah itu berarti mbak Ayu 
‘dimatikan’ oleh kelompok penghujat?”
Dari jawaban yang diberikan olehnya, aku mengambil kesimpulan bahwa dia memang 
memilih sikap, “I don’t give a damn.” Katanya lagi, dari sekian banyak kritik 
yang ditulis oleh para krittikus sastra, baik dalam maupun luar negeri, satu 
kritik yang dia soroti, ditulis oleh seorang feminis Australia yang mengatakan, 
bahwa sebenarnya SAMAN akhirnya kembali lagi ke dikotomi makhluk publik dan 
domestik, makhluk superior dan inferior, karena SAMAN, sang karakter laki-laki 
lah yang mendapatkan porsi sebagai ‘pahlawan’, makhluk publik dan superior, 
sedangkan karakter perempuan yang ada, tetaplah merupakan tokoh pelengkap, 
seperti biasa, kehadiran makhluk berpayudara dan bervagina ini hanya untuk 
menjadikan satu suasana, era, or whatever we call it, menjadi lebih colorful.
FYI, tujuan utama panitia KAMPOENG WEDANGAN mengundang Ayu Utami adalah untuk 
memberikan inspirasi kepada masyarakat Semarang, bahwa menulis bisa dijadikan 
salah satu cara berwirausaha, mengingat tema utama KAMPOENG WEDANGAN adalah 
“Expo Kewirausahaan dan Budaya”.
Berbicara tentang menulis, Ayu Utami membagi profesi menulis ini menjadi dua
1.penulis yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai WRITER, sebagai tataran 
pemula
2.pengarang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai AUTHOR, sebagai kelas 
yang lebih tinggi, lebih sesuai disejajarkan dengan SENIMAN
Untuk menjadi AUTHOR, seseorang seyogyanya memulai dari tataran pemula, sebagai 
WRITER. Tulislah apa saja, misal tentang “How to be a millionaire”, “How to say 
NO to your boyfriend when he asks you to have sex” (NOTE: ini ideku, bukan yang 
disampaikan oleh Ayu. LOL.) Dalam menggapai ke-AUTHOR-annya, Ayu memulainya 
dengan profesinya sebagai wartawan dan kolumnis. Setelah merasa capable, dia 
baru memulai menulis proyek idealis (plus ambisius)nya, yakni menulis novel 
yang dia beri judul SAMAN.
Masih banyak lagi yang dikemukakan oleh Ayu, kusimpan untukku sendiri. LOL. 
Atau, kalau mood nulis datang (lagi), akan kutulis di post yang lain. 
LL TBL 10.52 221207


Minds are like parachutes, they only function when they are open. 
  (Sir James Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com

THANK YOU
Best regards,
Nana


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke