Anugerah Agung bagi Korban Lumpur
Emha Ainun Nadjib

Pebruari nanti Sidoardjo akan berulang tahun dengan
pencanangan "Sidoardjo
Bangkit". Dan kelihatannya Tuhan sangat mensupport dan turut
mempersiapkan segala
sesuatunya secara effektif.

Berbagai macam formula kegiatan "Sidoardjo Bangkit" sedang
dipersiapkan, semaksimal mungkin semua segmen, kelompok,
lingkaran,
lapisan dan komunitas Sidoardjo akan dilibatkan.

Tetapi itu memerlukan
atmosfir yang mendukung serta harapan ke depan yang prospektif.
Harapan yang prospektif ke depan itulah yang coba saya paparkan
dalam
tulisan ini.

Sampai hampir 1,2 tahun sesudah 29 Mei 2006 lumpur bumi
nyemprot menenggelamkan desa-desa dan peradaban
penduduknya - para
korban lumpur hampir 50.000 orang atau sekitar 11.500an KK
hanya mengalami kesengsaraan dan kegelapan. Padahal Presiden sudah
memerintahkan Lapindo untuk menangani banyak akibat-akibatnya.
Para
korban sudah menerima jatah hidup tiap hari, uang kontrak dll,
tetapi
belum memperoleh kejelasan tentang mau dihitung bagaimana
tanah, rumah
dan bangunan mereka.

Mulai Juni 2007 Bangbang Wetan mulai semburat. Tiba-tiba saja
tanpa
hujan tanpa angin, hanya dengan keajabaikan Tuhan "kalahmin
bilbashar"
sekejapan mata. Dari 94% korban meningkat menjadi 98% korban
mengajukan verifikasi untuk memperoleh pembayaran DP 20%.
Dan sampai
hari ini yang sudah terbayar hampir 11.400 KK.
Dengan harga tanah yang
melambung sekitar 700% dari sekitar 150 ribu permeter menjadi
satu
juta, serta 1,5 juta untuk bangunan. Bahkan sekitar 4.400 KK
yang tidak punya surat hukum apapun yang bisa menjadi kesaksian
yuridis
bahwa mereka benar-benar memiliki tanah dan bangunan: juga
dibayar,
cukup dengan mengisi formulir dan bersumpah kepada Tuhan.

Akan tetapi itu semua belum separo, bahkan masih sangat jauh, dari
ujung atau puncak perjuangan. Masih ada teman-teman di Pasar
Porong
terakhir sekitar 290 KK belum jelas nasibnya, padahal
permintaan mereka awalnya dulu sangat masuk akal: yakni minta pembayaran
100%.
Kemudian ada klausul 50%-50%. Kemudian terakhir kabarnya OK
dengan
20%-80% tapi dengan bonus tanah.
Semula pengungsi di Pasar kabarnya
ada 766 KK, kemudian karena mereka rakyat yang mengerti
demokrasi -
muncul perbedaan pendapat, sehingga terbagi menjadi sekian
faksi dengan tuntutan-tuntutan rasionalnya masing-masing.

Belum lagi para pengusaha yang tergabung dalam GPKL yang juga belum
jelas nasibnya sampai hari ini. Ditambah harapan tentang
pembayaran
80% mulai bulan Mei 2007 nanti yang di belakang dan di
sekitarnya terdapat berbagai wacana, isu dan probabilitas. Konstelasi
di sekitar lumpur sangat dinamis, termasuk konstelasi di dalam tubuh
Lapindo sendiri.

Itu semua memerlukan daya juang berlipat-lipat, para korban memerlukan
pendamping yang canggih, tokoh-tokoh yang mumpuni. Saya
sendiri sejak
bulan Mei 2007 silam tatkala dijawil oleh korban: sadar diri
bahwa saya bukan siapa-siapa dan tidak punya kekuatan atau akses
apapun
untuk mampu menolong mereka sampai tingkat yang memadai.
Maka rasanya
saya adalah "pungguk merindukan rembulan" atau "katak hendak
menjadi
lembu" kalau saya berani-berani menggagas diri saya sebagai
orang yang
akan mampu ikut menolong para korban lumpur.

Dalam konteks inilah maka saya tulis "Anugerah Agung buat Korban
Lumpur" ini. Saya menemukan harapan cerah bagi korban lumpur
dari
minimal seorang tokoh nasional yang sangat dihormati sebagai
panutan,
sebagai intelektual, tokoh Agama, dan sesepuh bangsa. Bahasa
gaulnya:
beliau idola ummat, bahkan idola bangsa.
Kredibilitas beliau sebagai
ilmuwan tak mungkin diragukan lagi. Integritas moral dan
konsistensi
kejuangan beliau hingga usia sepuhnya sangat bisa
dipertanggungjawabkan dan menciptakan rasa aman bagi siapa
saja. Beliau adalah Buya Prof. Dr. M. Syafii Maarif, tokoh puncak
Muhammadiyah organisasi Islam terbesar kedua sesudah Nahdlatul
Ulama.

Di harian Republika 18 Desember 2007 beliau menulis esei sangat indah
berjudul "O Lumpur, O Lapindo". Saya kutipkan inti kearifan
beliau di tulisan itu:
"Sudah lebih setahun, kita dihadapkan pada bencana Lapindo yang tak
kunjung
selesai, sementara penderitaan korbannya sudah sampai di batas toleransi.
Pemerintah Jatim dan organisasi kemasyarakatan seperti tidak punya nyali
untuk
turut mencarikan jalan keluar dari bencana ini. Ada seniman yang jual
tampang ke
sana, tetapi hanya untuk menambah heboh. Penderitaan tidak semakin
berkurang.
Presiden pun pernah datang ke lokasi, tetapi hasilnya sami mawon. Siapa
yang
sebenarnya bertanggung jawab untuk bencana Lapindo itu? Perusahaan,
pemerintah,
atau tidak seorang pun?"

Ungkapan beliau mencerminkan tingkat kejuangan yang sangat
tinggi.
Ibarat shalat, kalau rata-rata kita ini shalat sekadarnya,
maka bagi beliau shalat harus prima tingkat pencapaian kekhusyukannya.
Etos ini
sangat tepat untuk tingkat problem korban lumpur yang sungguh-
sungguh
membutuhkan enerji kejuangan yang setinggi-tingginya, target
yang tidak ala kadarnya, pemahaman masalah yang hati-hati, mapping
persoalan yang sesempurna mungkin dan menyeluruh, analisis yang
adil
dan pengambilan keputusan yang searif-arifnya.

Saya sangat yakin kaliber Buya Syafii Maarif sangat memadai untuk
memperjuangan nasib para korban lumpur mulai hari ini sampai
kelak
tuntas masalahnya. Kita mensyukuri anugerah agung dengan konsen
beliau ini atas penderitaan para korban lumpur.

Beliau bukan penonton,

beliau bukan jenis orang yang hanya berkomentar. Kalau beliau
ucapkan
satu kata tentang sesuatu hal, bisa dipastikan itu berarti
beliau juga memperjuangkan satu kata itu sampai khatam.

Alangkah indahnya Sidoardjo di masa depan. Para korban dan Pak
Bupati
Sidoardjo tinggal merancang kapan berombongan ramai-ramai
menuju Yogya
dengan wajah berbinar-binar bertamu ke rumah Buya Syafii Maarif
untuk
memohon beliau memimpin perjuangan, mewujudkan kegelisahan
dan
komitmen beliau dalam tulisan di koran nasional itu.

Kita komunitas Bangbang Wetan dan Jamiyah Maiyah Jawa Timur
mendukung
dan mendoakan dari garis belakang. Bahkan Kelompok Wirid
Kalimosodo di
Sidoardjo, juga kelompok-kelompok wirid JM lain di Tuban,
Bojonegoro,
Yogya dll siap mem-backup secara spiritual. Insyaallah para
Malaikatpun diperintahkan oleh Allah untuk memperkuat
perjuanganBuya
Syafii Maarif. *
(Kolom Bang Bang Wetan Harian SURYA 21 Desember 2007)

mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke