Mengharapkan Bumi dan Langit Baru

Oleh Mgr I Suharyo Pr
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/24/utama/4088720.htm

Beberapa tahun lalu saya melihat sebuah iklan terpampang di tempat
yang amat strategis, di salah satu pintu masuk kota Yogyakarta. Iklan
itu memuat gambar mulut orang yang terisi-mungkin lebih tepat
dijejali-berbagai macam buah.

Mulut itu begitu penuh sampai kelihatan menganga amat lebar, hampir
sobek. Saya bertanya dalam hati, masihkah itu boleh disebut mulut?
Iklan yang terpampang selama sekitar tiga tahun itu rupanya ingin
mengatakan kepada orang-orang yang melihat, betapa enaknya produk
makanan yang ditawarkan itu. Waktu saya melihatnya, dalam hati saya
bertanya, bukankah iklan ini mencerminkan salah satu watak zaman, serakah?

Keserakahan inilah yang antara lain membuat Indonesia kehilangan
julukan zamrud khatulistiwa, lalu menyandang sebutan baru sebagai
negara penghancur hutan tercepat (Tempo, 41/XXXVI/3-9 Desember 2007
hal 62). Keserakahan ini pula yang kiranya membuat Konferensi PBB
mengenai Perubahan Iklim di Bali tidak mudah menghasilkan keputusan
bersama. Keserakahan ini pula yang menempatkan Indonesia pada urutan
ketiga paling rawan terkena dampak pemanasan global (Kompas,
12/12/2007, hal 13). Keserakahan itu tak hanya merusak Bumi, tetapi
juga menjadikan manusia penyembah berhala. Menurut perspektif
Kristiani, serakah sama dengan menyembah berhala (bdk Ef 5:5).

Langit baru Bumi baru

Natal adalah peringatan kedatangan Yesus ke dunia lebih dari dua
milenium lalu (Luk 2:1-8). Kedatangan Yesus juga diharapkan pada
kepenuhan waktu, ketika Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor
15:28). Namun kedatangan Yesus tidak hanya menyangkut masa lalu dan
masa depan. "Hari ini", Ia juga harus dilahirkan di tengah dunia nyata
(Luk 2:11). Ketiga makna ini terkait harapan akan masa depan yang
damai dan sejahtera. Beginilah Nabi Yesaya menubuatkan kedatangan
Yesus, ".seorang anak telah lahir untuk kita. dan namanya disebutkan
orang. Raja Damai. dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan. karena
ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran" (9:5-6).

Zaman damai sejahtera itu digambarkan sebagai suatu harmoni alam
semesta sebagaimana dinubuatkan oleh nabi yang sama, "serigala akan
tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping
kambing. anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama, dan
seorang anak kecil akan menggiringnya. tidak ada yang akan berbuat
jahat atau berlaku busuk. sebab seluruh Bumi penuh dengan pengenalan
akan Tuhan" (Yes 11:6-9).

Pada zaman itu Bumi akan menjadi amat subur, ".pembajak akan tepat
menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung
akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran" (Am
9:13-14).

Rusaknya relasi antara Allah dan manusia serta antara manusia (bdk Kej
11) akan diatasi. Demikian juga alam yang hancur karena kejahatan
manusia (Kej 6-7) akan dipulihkan. Akan terwujudlah langit baru dan
Bumi baru (bdk Why 21:1-8). Nyatakah harapan itu?

Hiduplah dengan bijaksana

Ajakan untuk hidup bijaksana itu adalah bagian dari ajakan yang
disampaikan dalam Pesan Natal bersama oleh Persekutuan Gereja-gereja
di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang
berjudul "Hiduplah dengan Bijaksana, Adil dan Beribadah". Agar dapat
hidup bijaksana, umat Kristiani diimbau supaya tekun mendengarkan
firman Allah agar kebijaksanaan Ilahi meresapi pikiran dan hati.

Dalam konteks Natal dan situasi aktual zaman ini, hati dan pikiran
yang diresapi kebijaksanaan Ilahi akan menggerakkan orang untuk-baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama-ikut membangun langit baru dan
Bumi baru sehingga harapan menjadi kenyataan.

Di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah, seorang pemimpin komunitas iman
mengembangkan Gerakan Masyarakat Cinta Air dalam rangka konsientisasi
dan edukasi masyarakat akar rumput. Di Bantul, DI Yogyakarta, ada
orang lain lagi yang selama 25 tahun menghutankan sekitar 400 hektar
bukit kapur kritis serta membentuk sebanyak dua belas kelompok tani
pencinta lingkungan (Kompas, 16/12/2007).

Pada tingkat global ada berita gembira, Peta Jalan Bali disepakati
para peserta Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim, termasuk AS.

Dalam perspektif Kristiani, itu semua adalah wujud kecil atau awal
langit dan Bumi baru. Prakarsa seperti inilah yang antara lain
diamanatkan khususnya kepada umat Kristiani yang merayakan Natal.
Kalau demikian, perayaan Natal menjadi ibadah sejati dan bermakna,
bukan sekadar ibadah basa-basi.

Selamat Natal 2007 dan Selamat Tahun Baru 2008.

I Suharyo Uskup Keuskupan Agung Semarang 

mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke