Kronik Dokumentasi Wida:
SAIRARA Dari kursi beranda hotel sederhana Sriwibowo, terletak di Jalan Dagen, dahulu merupakan daerah Pecinan Yogya, sendiri aku duduk memandang hujan deras yang mencuci jalan dan atap-atap rumah. Seandainya ada pepohonan atau kebun hijau di pekarangan, aku pastikan hujan deras begini akan menambah semarak pemandangan. Yogya makin langka pohon. Dari kursi beranda hotel kecil ini, ingatanku mencari Sairara yang juga sangat mencintai dan menikmati indahnya hujan. Kecil dahulu, apabila hujan membangkitkan gelombang sekaligus di Katingan, sungai kelahiran dan pengasuh, tak ayal aku akan turun dan menerjuni gelombang itu. Membiarkan diri diayunkannya. Ada kenikmatan tersendiri bagiku di ayun ombak sungai dan laut. Kenikmatan menjawab tantangan dan mengatakan pada alam bahwa aku tidak ia tenggelamkan. Aku membayangkan kembali menikmati hujan dan gelombang bersama Sairara. Hotel-hotel kecil di daerah Dagen memang merupakan langgananku saban aku ke Yogya. Yogya, seperti halnya dengan Danau Toba dan Sungai Katingan mempunyai makna khusus dalam hidupku. Khususnya daerah Pecinan Yogya. Ia menyimpan tumpukan kisah lama dan karena itu aku dengan sengaja memilih daerah ini, berharap bisa secara kebetulan tak terduga berjumpa dengan sesuatu yang memang kucari-cari sejak berdasawarsa, tapi ditimbun oleh peristiwa-peristiwa sejarah yang berdarah. Tertimbun ketakutan orang berkisah dan berterus-terang teringat tembok-tembok pun bisa berkhianat. Soal kebetulan memang ada dalam kehidupan tapi aku belum bisa kujelaskan pada diri sendiri apa hakekat kebetulan itu. Sementara aku pun tak mau menjawabnya secara gampang-gampangan dengan melarikan diri ke jurusan kekuatan gaib nun jauh di negeri antah-berantah yang riuh debat dan polemik mengabad. Tapi tidak. Sairara terlalu jauh untuk bisa datang sekarang menemaniku menikmati hujan. Terlalu jauh untuk sekejap tiba. Sairara tinggal jauh dan tidak mungkin datang. Yang datang tanpa memperdulikan kucuran air dari langit adalah Nursam dari Penerbit Ombak. Seorang putera Bugis, etnik asal Kraeng Galesong yang kukagumi dan kupandang sebagai tokoh heroik berjiwa keindonesiaan dengan mimpi manusiawi yang agung. Putera Bugis yang telah meninggalkan kesempitan pandang etnisisme, di alur jalan mimpinya, lalu meninggalkan laut perlawanan, mendarat untuk bergabung dengan Trunojoyo di Jawa Timur guna bersama-sama menarung kolonialisme Belanda. Begitu mendarat di bandara Adisucipto aku sudah meng-smsnya, tapi ia sedang berada di Makassar. Sesuai jam, di bawah hujan yang mengucur deras dari langit, Nursam yang kutunggu tiba dengan sepeda motornya. Saban ke Yogya aku memang selalu mencarinya. Ada saja yang kami bicarakan dan jika kami bertemu, percakapan seperti pinisi melayari laut. Dalam pertemuan akhir Oktober 2007 lalu di Sriwibowo, yang paling mengesankan dan menancap di ingatanku adalah pernyataan anak muda Bugis ini yang ia ucapkan dengan penuh semangat dalam aksen anak seberang: "Aku bangga menjadi Indonesia! Aku adalah campuran segala budaya negeri ini dan campuran inilah yang telah menjadikan diriku Indonesia tulen!". Aku menatap lurus sepasang mata sobatku ini dan setengah berkata pada diri sendiri dalam gumam: "Menjadi Indonesia adalah suatu proses dan proses itu seniscayanya alami. Tak ada pemaksaan, tapi sebagai buah pencarian". Mendengar gumamku itu, sepasang mata anak muda Bugis yang berlatar belakang pendidikan Fakultas Sejarah Gama ini menjadi kian menyala. Dalam hati aku pun berpikir lebiuh jauh: Kalau begini, apakah separatisme dan gerakan kemerdekaan etnik atau daerah merupakan jawaban tepat bagi permasalahan negeri dan bangsa? Ataukah separatisme dan gerakan kemerdekaan tidak lain suatu tanggapan atas penindasan dan penghisapan sentralisme? Ujud dari protes kemarahan daerah, padahal layakkah dan benarkah kemarahan dijadikan pilihan politik yang berdampak waktu, ruang dan publik? Sambil berbincang santai Nursam asyik meng-sms entah siapa. Sementara aku diam-diam menikmati hujan yang membawa kenangan pada Sairara, penikmat hujan dan mengerti arti hujan dengan segala tafsir subyektifnya. Usai dengan smsnya, Nursam berkata: "Aku sudah memanggil seorang teman yang lama tinggal di Australia untuk bergabung ke mari. Ia sejak lama ingin ketemu Bung, dan Bung perlu ketemu dia". "Ia akan datang segera walau pun baru sakit tipus", lanjut Nursam. Mendengar kata-kata Nursam ini, aku jadi geli dan malu sendiri. "Apa-siapa sih aku si pengembara yang dikutuk seperti Ahasveros ini yang merangkaki dinding-dinding benua tanpa sudah? Apa orang-orang tak salah nilai dan tak salah imajinasi?". Tak lama kemudian teman dari Australia itu pun datang. Hujan masih deras. Mengharukan. Tanpa perduli hujan deras dan baru lepas sakit pula, ia datang hanya untuk berjumpa si Ahasveros yang dikutuk. Aku berdiri menyambutnya mengucapkan terimakasih dengan membungkukkan badan atas kehormatan besar yang ia berikan. Ia sudah menenerobos hujan. Keindahan dan sekaligus tantangan. Ia sudah menjawab tantangan hujan. Memperlihatkan manusia niscaya menjawab tantangan dengan gagah untuk melahirkan keindahan yang merah menyala jika mau disebut manusia, "anak enggang putera-puteri naga". Percakapan bertiga bagai arus yang liar mengalir menyusur teluk, tanjung dan rantau sungai ke muara yang jauh, berhulu di satu mimpi: cinta manusiawi tapi justru cinta ini terluka dan dilukai kenyataan yang garang tak berbelas kasihan. Tiba-tiba teman yang lama di Australia ini bertanya: "Bung kenal Suthasoma?" Aku menatapnya lurus. "Tentu saja", jawabku. "Ia tetangga dekatku di jalan Sukun [sekarang menjadi Jalan Mangunsarkoro, karena tokoh ini tinggal tak jauh dari jalan Sukun juga. Rendra dan Mas Soenarto Pr, sang pelukis dari Sanggar Bambu juga tinggal di jalan ini] dulu". Terbayang padaku bagaimana Suthasoma mengajar anak puterinya yang masih balita main piano. Suthasoma adalah seorang pengajar di Akademi Seni Musik Indonesia Yogyakarta. "Bung tahu apa yang terjadi dengan Suthasoma?" Aku menggeleng sambil membuka mata lebar-lebar dan memasang telingga tajam-tajam. "Aku memang lama mencari kabar tentang beliau", ujarku. "Ia dituduh PKI dan setelah keluar penjara, ia kudapatkan di bawah jembatan dengan ingatan sedikit terganggu". "Apa Bung mau mengucap ulang keterangan Bung?" , pintaku pada teman dari Australia itu. "Suthasoma menjadi salah seorang penghuni bawah jembatan di Yogya ini dengan ingatan sedikit terganggu", ulang sobat dari Australia. Aku terdiam sejenak. Tak bisa membayangkan musikus , dosen di Akademi Seni Musik Yogyakarta, berperangai lembut dengan kemampuan profesesional yang tinggi dan sama sekali tidak pernah bersama kami di Lekra dalam berbagai kegiatan ditangkap dan dituduh PKI. Hatiku memberontak dan sekaligus merasa tertikam dalam oleh sebuah badik tajam bernama ketidakadilan. "Aku pernah membantunya dengan memberikan makanan dan rokok semampuku", lanjut si Australia memecah kekagetanku. Aku masih saja diam. Sebenarnya tubuhku sedikit gemetar, bukan karena hujan tapi karena kembali dihadapkan pada ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ketidakmanusiawian. "Suthasoma , ya aku sangat mengenalnya", ujarku lirih dengan kesedihan dalam. "Ia tetangga dekatku di Jalan Sukun". "Di mana dia sekarang?", tanyaku setelah mengendalikan perasaan sedih. "Aku sendiri tidak tahu pasti. Aku mencoba mencarinya tapi tidak pernah ketemu. Ada yang mengatakan ia sudah almarhum". Nursam, si anak muda Bugis, memandangku dengan sedih. Memahami perasaanku saban mendengar sendiri bagaimana orang-orang berkisah tentang keadaan teman-temanku yang hilang, dipenjara, disiksa atau mati. Lagi-lagi aku berkata pada diri bahwa mencintai bukanlah urusan gampang. Ia bertaruhkan kepala karena sering dipandang sebagai subversif dan melawan arus. Cinta adalah suatu komitmen , kesetiaan pada kata dan nilai. Dan benar bahwa cinta bisa jadi awal pemberontakan, baik berbentuk kekerasan atau pun pemberontakan damai sebab "non-violence" tidak lain dari bentuk pemberontakan juga adanya. "Violence of non-violence". Cinta adalah kata benda dari kata kerja "mencintai". Kata kerja mengawali banyak hal. Bagiku sendiri, cinta memberiku kekuatan hidup dan makna di hadapan ajal yang paling pasti dalam kehidupan di tengah-tengah kerunyaman ketidakpastian yang lain. Hujan masih deras. Kami berpisah meneruskan rencana masing-masing meninggalkan Sriwibowo. "Sampai ketemu, Pak!", seru pemilik hotel yang sangat mengenalku dan selalu memberiku harga khusus, membalas kata pamitku menembus hujan. Sairara, berarti warna merah menyala! Akankah cintaku selalu berwarna merah menyala di arus waktu yang juga tak perduli pada kita, sekaligus menguji kesungguhan?! Hujan hanyalah satu peristiwa. Sairara adalah warna asa dan warna Indonesia yang republiken. Tahu!? Teman yang lama tinggal di Asutralia itu pun seluruh keluarganya lenyap dalam Tragedi September '65. Hanya kulihat dari sorot mata dan mendengar katakatanya, kutahu cintanya pun pada hidup, kemanusiaan dan Indonesia masih berwarna Sairara. Hujan duka tidak menghanyutkannya bagai debu terbasuh dari atap dan jalan-jalan kota. Yesus yang katanya lahir pada 25 Desember pada 2007 tahun lalu, adalah lambang cinta, ide, mimpi tak pernah dihabisi salib ajal. Cinta dan salib merupakan lambang pertarungan dan keteguhan tak henti sebagai keniscayaan dalam terik dan hujan. Selamat Hari Natal adalah janji setia pada cinta dan tekad mengujudkannya di bumi, tersimpul di satu kata dan warna: Sairara! Paris, Desember 2007. ----------------------------- JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia, Paris. [Non-text portions of this message have been removed]

