Surat Dari Montmartre:
MENCOBA MEMBACA MASA SILAM, MENCOBA MENYONGSONG ESOK YANG SAIRARA [Kepada A. Kohar Ibrahim, Putera Betawi Indonesia Yang Bersemangat]. Kohar syohibku, putera Betawi, Tanpa saling mengucapkan sepatah kata pun, kalau bertemu, aku tahu kau akan segera memelukku erat mengucapkan segala rasa dan kenangan yang dimatangkan oleh segala peristiwa yang kita lalui bersama sejak usia masih remaja. Kita adalah sahabat yang tak pernah bisa hilang , tak pernah saling melupakan, walau pun bisa terjadi kita bersilang pandang. Juga bisa dan sudah terjadi antara kita saling kirim berita merupakan sesuatu yang istimewa. Tapi di lubuk hati terdalam masing-masing menempatkan nama masing-masing di tempat tersendiri yang tiada nama seorang pun bisa menggantikannya. Dari kita berlima yang dikirim ke mancanegara mewakili Lekra, sebuah Delegasi Lekra termuda yang pernah dikirim ke luar negeri, hanya kita berdua saja yang tertinggal dan sekarang sudah dipandang oleh seorang sejarawan muda Indonesia mengaku progresif pula, sebagai "kakek-kakek" yang bersuara nyinyir dan pemberang seakan tanpa guna. Biarkan sqaja sejarawan muda patriotik, heroik, pembela yang tertindas dan terhina dan ilmuwan ini berbicara leluasa, dan biarkan waktu pula mengujinya apakah ia "seekor kuda yang tahan dalam perjalanan jauh" jika menggunakan ungkapan Tiongkok kuno yang kau pun sangat tahu. Secara prinsip pemaduan dan kesinambungan angkatan, yang memandang kita sebagai "kakek-kakek" tak berguna dan pemberang, kukira sudah terpleset dan atas nama ilmu sejarah pun kukira sipengucap sudah kepleset. Juga dari segi pandangan dan sikap sejarah yang kuanut yaitu kelompok sejarawan Annales. Dari segi organisasi, pengkaderisasi , pandangan dan sikap ini pun merupakan pandangan yang sulit dipertanggungjawabkan kecuali sebagai "keperkasaan" dan "kepahlawanan" anak muda yang baru menapak jalan tanpa ujung. Biarkan ia bicara, karena jika belajar dari orang Tiongkok Kuno maka "yang berbicara tidak berdosa, yang mendengar patut waspada". Untuk apa meminta pertanggungjawabannya? Anggap saja kata "kakek-kakek" dan lain sebagai semangat menggelora tak terkendalikan dari anak muda sejarawan itu sebagai angin lalu terlanjur berhembus dan biarkan ia diuji waktu. Kehidupan yang garang dan esok yang sairara, apalagi tak memerlukan dan tak bisai dibangun dengan kepongahan remaja yang sudah bangga karena sudah menggondol gelar S1, padahal jenjang akademi, tentu saja bukan bukan takaran kematangan seseorang sebagai anak manusia. Lihat saja, dengan jenjang akademi S1 saja, ia sudah tak enggan melecehkan orang lain sebagai "kakek-kakek" pemberang, pendendam, tak tanggap zaman, tak ilmiah, dan ia ingin jadi pahlawan penyelamat. Ya, ingin menjadi pahlawa memang sebuah niat bagus sih. Semangat dan niat baiknya, patut dihargai dan didorong.Tapi, dengan berkata demikian, apakah ia tidak kepagian alias sembrono dan gegabah berucap, apalagi berani-beraninya mengatasnamai satu generasi? Sebagai sejarawan, laiknya, ia mengerti hubungan dan saling hubungan antara individu dan massa. Aku hanya bisa berharap bahwa ia benar-benar jadi pahalawan, walau pun apa siapa pahlawan merupakan suatu debat teoritis dalam sastra. Apa siapa masing-masing kita, tokh, tanpa diskriminasi, semuanya masih akan diuji waktu. Hanya saja jika tidak setuju dengan suatu pendapat, apakah tidak sebaiknya jika argumen dijawab dengan argumen, bukan dengan memasang topi atau predikat secara gampang-gampangan, apalagi atas nama ilmu dan generasi? Aku memahami keadaan demikian, mungkin keliru pula, tidak lain dari sebagai cerminan satu pola pikir dan mentalitas yang patut dipelajari dan diamati guna membaca zaman dan negeri ini. Lebih-lebih oleh para "kakek" seperti aku dan kau misalnya [aku mau ngakak geli, Kohar!], yang secara tersirat oleh sejarawan muda Indonesia itu, dipandang sebagai tak mampu membaca zaman. Coba katakan padaku, siapa yang berani mengatakan kepadaku bahwa anak muda pun ada jaminan mampu membaca dan menjawab zamannya? Ketika berada di Indonesia, justru aku sering menghadapi kenyataan asingnya orang Indonesia dari Indonesia. Tak acuhnya orang Indonesia pada Indonesia. Berada di Indonesia bukanlah jaminan tahu dan prihatin pada Indonesia. Indonesia banyak kulihat diselingkuhi putera-puterinya dari berbagai angkatan. Indonesia adalah negeri aman buat perselingkuhan dalam berbagai bentuk termasuk kepongahan akademi kosong, ekstrimisme dan ketidaktoleransi. Indonesia adalah negeri perdagangan budak. Budaknya adalah kita sendiri. Anak negeri dan bangsa kita sendiri. Pedagangnya adalah kita sendiri. Barangkali aku keliru dan memang tidak mampu membaca Indonesia karena aku seorang "kakek" yang nyinyir, pemberang dan pendendam, bermata rabun. Aku hanya berharap agar di Indonesia dokter mata cukup baik dan bertanggungjawab, agar anak muda tidak terjangkit penyakit trahum. Kohar anak Betawi syohibku, Kutulis surat ini setelah mengikuti tulisan-tulisan serial Bung hingga nomor 25 ini. Seri 25 tulisan Bung, terutama yang menyangkut soal "politik sebagai panglima" cukup kembali membuatku berpikir, walau pun ketika kau mengutip penuh tulisan Joebaar Ajoeb, dengan siapa aku relatif cukup sering berbincang sebelum ia meninggal, tetap mengusik. Kukatakan mengusik karena aku ingin mencoba membaca cermat masa silam untuk mencoba memahami dan bertindak tanggap terhadap hari ini dan yang suka atau tidak suka akan berdampak pada esok. Mencoba, artinya mengandung resiko gagal walau pun sudah berusaha maksimal dengan menggunakan penguasaan aksara yang dipunyai. Membaca sebagai usaha belajar untuk kemudian melaksanakan hasil bacaan, bukanlah hal yang sederhana. Membaca merupakan bagian dari proses berpikir dan berkegiatan. Tulisan serial Bung mengajakku membaca ulang kegiatan kita di Lekra dan tumpukan peristiwa budaya negeri kita. Dalam membaca ulang ini, aku mencoba mengambil jarak dari obyek,yang barangkali diperlukan untuk cermat membaca dengan tenang. Tentu saja di sini, aku tidak akan memasuki semua masalah yang Bung ajukan, tapi lebih menitikberatkan pada soal "politik sebagai panglima" walau pun, sekali lagi, telah dijelaskan oleh Joebaar Ajoeb dalam artikelnya yang Bung kutip lengkap. Anggap saja apa yang kemudian kuajukan tidak lebih dari usaha mencoba dan belajar membaca masa silam untuk kepentingan hari ini. Karena aku masih menganggap masa silam mempunyai pengaruh pada hari ini. Aku masih berpikir perlukan kita membedakan antara akar dan pengaruh atau dampak? Akar, kalau dicabut akan mematikan pohon, sedangkan pengaruh, boleh jadi dampaknya tidak separah dengan pencerabutan akar. Entah ia sebagai akar atau pengaruh, tapi aku tetap melihat bahwa masa silam patut dibaca tenang. Setenang mungkin tanpa emosi, tanpa penyederhanaan masalah jadi hitam-putih, tanpa mencari menang-kalah kecuali menangkap sarinya. Artinya, dengan sikap ini, kita pun layak berani menghakimi diri sendiri seadil mungkin. Penyair-cerpenis Putu Oka Sukanta, ketika membuat film tentang Tragedi Nasional September '65, di TIM Jakarta, bertanya padaku: "Apakah Bung dendam?". Jawabku: "Barangkali pertanyaan Bung keliru sebab masalahnya tidak terletak pada dendam atau tidak, tapi pada meletakkan soal pada proporsinya sesuai dengan rasa keadilan manusiawi". "Benar aku disakiti, dilukai, bahkan dibuat jadi pengembara terpental dari kampung-halaman yang entah kapan ujungnya, tapi masalahnya bukan terletak pada derita individual melainkan bagaimana memahami hakekat agar kemudian kita pandai berbangsa dan bernegeri serta bernegara dengan membaca masa silam dan hari ini". Dendam bersifat emosional dan emosi sering membuat mata kita rabun, walau pun emosi tidak lepas dari proses sebab-akibat . Tapi bisakah emosi dijadikan dasar penyelesaian soal secara nalar, walau pun ia tetap masuk hitungan dari segi proses sebab-akibat dan psikhologis. Dasar sikap ini pun kubawa ketika berbicara soal sastra-seni di periode-periode yang pernah kita hidupi sampai sekarang, walau pun sikap ini tentu saja bukan pintu terpalang. Belajar membaca dan berusaha belajar merupakan inti dari soal-soal yang kuajukan di atas. Belajar dan membaca sebagai kegiatan dasar untuk kepentingan hari ini, bukanlah sesuatu yang sederhana. Tahu aksara belum tentu bisa membaca. Punya mata belum tentu bisa tepat melihat, punya telinga, belum tentu tepat mendengar. *** Paris, Desember 2007. ----------------------------- JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris. [Berlanjut.....] [Non-text portions of this message have been removed]

