Surat Dari Montmartre:
AKU MENGENANG DAN MEMIKIRKAN KAU, BERSIHAR! Tahun 2007 seminggu lagi akan berakhir. Tahun 2008 segera tiba dengan kepastian laju waktu menanti dengan sekian peristiwa yang tak obah ribuan halaman teka-teki silang minta diisi oleh tangan-tangan kita. Di tengah dingin merasuk tulang pada penghujung tahun 2007 ini, kembali aku teringat kau, Bersihar Lubis. Teringat pada kebersamaan kita di Majalah Medium yang kau pimpin dan dituduh diterbitkan dengan dana dari Golkar sehingga beberapa orang berkomentar sinis padaku karena membantumu sebagai terangkul Golkar. Waktu itu, kau belum kukenal benar. Aku menyambut uluran tanganmu yang hangat karena kau menyebut nama Amarzan Ismail Lubis, penyair Medan, yang sejak remaja menjadi sobat dekatku. Nama Amarzan sebuah kartu as di tanganmu. Nama yang punya makna dan kisah tersendiri bagiku dan juga bagi Amarzan sendiri yang pikiran-pikirannya sering menyentakku, seperti pikiran yang ia ungkapkan di tingkat empat kantor Majalah Tempo, Jakarta mengenai Soekarno. "Apa Indonesia sekarang memerlukan Soekarno ataukah bukannya kita memerlukan tokoh khas zaman ini?" tanyanya. Menjawab pertanyaan ini, aku mengacungkan jempol karena sudah tidak tenang oleh datangnya sms dari Rara yang mengatakan ia sudah bosan menungguku karena tahu jika aku sudah ketemu Amarzan, kami bisa ngomong berharihari. Tahu keadaan demikian , Amarzan berkata dengan paham: "OK, kau pigilah sekarang. Aku nikmati gado-gadoku". Aku pun membuka pintu menuruni tangga kantor Tempo yang bertetangga dengan tokobuku Immanuel dengan warung bersihnya. Sebelum menutup pintu kantornya, Amarzan kusalami dengan salam genggam yang ia jawab dengan gelengan kepala. Waktu keluyuran di Tokobuku berbagai kota yang kusinggahi saat kembali ke tanahair tahun ini, secara kebetulan aku dapatkan Majalah Medium kita dahulu. Tentu saja majalah tersebut segera kubeli. "Masih hidup! Majalah Medium masih ada", ucapku pada diri sendiri. Halaman pertama segera kubuka untuk mengetahui siapa yang mengelolanya sekarang. Bersihar! Di situ tak kudapatkan lagi namamu dan dari situ aku segera tahu bahwa Medium bukan lagi Majalah Medium kita yang dahulu. Barangkali ia sudah dijual. Aku tak pernah tahu persisnya. Yang kuketahui hanya keadaan bahwa beberapa e-mailku ke alamat ini tak pernah berjawab bahkan mental kembali kepadaku. Yang kutahu melalui surat-surat listrikmu, bahwa kau sekarang sudah jadi penulis freelance untuk berbagai penerbitan di Indonesia. Aku melihatmu jadi "kéré" banget[sama kérénya dengan diriku. Hono caraka pada jayanya, pada kéréne, pada melaraté] , tapi tetap setia pada profesi kewartawanan dan kepenulisan, kekerasan hati seorang Batak. Apakah si Golkar yang dibilang membantu Majalah Medium sudah mencampakkan kau? Ataukah tuduhan bahwa Majalah Medium dibantu secara finansial oleh si Golkar hanyalah suatu prasangka muncul dari curiga dan pola pikir subyektif lalu ditabur sebagai gunjing beracun? Gunjing beracun agaknya merupakan budaya tersendiri yang cukup subur berkembang di negeri kita, bentuk dari keisengan menghibur diri karena kemalasan berpikir.Tapi benar juga bahwa gunjing merupakan salah satu alat politik. Seperti halnya canda. Lebih-lebih canda diplomatik. Hanya yang jelas bagiku bahwa gunjing tak ada sangkutpautnya dengan sikap ilmiah. Cara menghibur diri narsistik yang berbahaya, terutama untuk orang lain. Tiba-tiba beberapa hari berturut-turut, kau datang kepadaku meminta bahan-bahan makalah Joesoef Isak di Hari Sastra, Nomvember 2004 di Paris. Hari Sastra Indonesia pertama yang diseleneggarakan di Paris dan diliput oleh Majalah Medium secara besar-besaran. Satu-satunya yang melakukannya di Indonesia. "Aku memerlukan makalah tersebut karena aku diajukan ke depan pengadilan karena kata "dungu" yang oleh pengadilan dianggap menghina pengadilan negeri". Kata yang kau kutip dari pemakalah sebagai seorang pelapor dan kolumnis. Kembali dan lagi-lagi aku merasa negeri kita sebagai negeri yang tidak suka akan laporan jujur dan betapa pekerjaan menulis bergerak di daerah penuh bahaya. Gilenya, kita , ya gilenya, juga kau masih mencintai dan memilih daerah rawan bahaya ini. Daerah rawan bahaya ini agaknya telah menyihirmu sebagai seorang pemimpi jujur. Hampir usai sudah tahun 2007, dan aku menduga proses pengadilanmu pun sudah sampai pada kesimpulan. Aku mengenang dan memikirkan kau, Bersihar. Apalagi beberapa suratlistrikku kepadamu sama sekali tak berbalas. Aku sangat ingin mengetahui apa yang sudah dan sedang terjadi, bagaimana keputusan pengadilan negeri terhadap kasus kata "dungu" itu. Dengan surat ini, sebenarnya aku menghimbau orang-orang bernurani agar kau dan kasusmu tak dilupakan. Pada kasusmu ada masalah kebebasan berpendapat, kejujuran membuat laporan, ada masalah keleluasaan mimpi dan berharap akan adanya negeri yang rara. Rara adalah warna mimpi kita tentang esok negeri dan kehidupan. Melupakan kau, nampak padaku, orang-orang melupakan esok negeri yang rara demikian. Maka ingin kukatakan: Kenang Dan Pikirkan Bersihar! Kasusnya adalah satu lambang. Tapi barangkali kata-kata ini pun akan sirna tanpa tanda seperti tetes hujan lenyap ditelan pasir pantai warna tembaga dijilat ombak. Dengan kesederhanaan daya diriku yang dipaksa jadi perantau, aku mengenang dan memikirkan kau Bersihar. Rara adalah warna mimpimu sewarna fajar yang bolakbalik mewarnai pagi. Rara yang kusongsong dengan lahap [pekikan pertarungan, bahasa Dayak] sebagai laiknya seorang Dayak. *** Paris, Desember 2007 ----------------------------- JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia, Paris. [Non-text portions of this message have been removed]

