MEMANG perumusan manusiawi mengenai Trinitas tidaklah sempurna, 
karena hanya memberikan gambaran yang memuaskan sebagian orang. 
Demikian juga hasil perumusan Konsili di Konstantinopel (381) jelas 
tidak mungkin menggambarkan kebenaran yang dinyatakan kepada kita di 
atas. Yang perlu dilakukan, adalah mengembalikan perumusan itu kepada 
Alkitab, <<< ----- >>> 
   
  b. Alkitab dipandang sebagai keseluruhan 
   
  Salah satu aspek dari cara-berpikir pada periode sesudah perang, ialah 
desakannya bahwa Alkitab dapat dan bahkan harus didekati secara keseluruhan. 
Penekanan yang demikian merupakan reaksi terhadap teologia liberal, yang sering 
memberi kesan seolah-olah memutlakkan satu unsur dari isi Alkitab. Misalnya, 
gambaran Yesus dalam Injil-injil Sinoptis (atau bagian-bagian tertentu dari 
gambar tersebut) dianggap definitif; selanjutnya gambar sinoptis yang 
dimutlakkan itu dipertentangkan dengan gambar Yesus menurut Paulus. Atau 
(contoh lain) dipertentangkan antara Allah Perjanjian Lama dengan Allah 
Perjanjian Baru. Ditekankannya Alkitab sebagai keseluruhan juga merupakan 
protes terhadap metode para pengritik yang menekankan analisa melulu. Memang, 
kata kaum neo-orthodox, Alkitab dapat dibagi-bagi menurut sumber-sumbernya. 
Tetapi sesudah tugas analisa itu dikerjakan, apakah tidak dapat dikatakan 
sesuatupun tentang makna Alkitab sebagai keseluruhan? Diakui adanya 
perbedaan-perbedaan
 historis dan keanekaragaman penekanan-penekanan di dalam keseluruhan Alkitab 
itu. Tetapi menurut kaum neo-orthodox, suara-suara yang berlain-iainan itu 
merupakan suatu paduan suara yang harmonis. Alkitab berpengaruh terhadap iman 
Kristen bukan hanya melalui bagian ini atau bagian itu, melainkan juga 
berbicara melalui interelasi antara semua bagian yang terdapat dalam Alkitab 
itu. Contoh yang paling menyolok ialah: adalah merupakan aksioma, menurut kaum 
neo-orthodox, bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bersama merupakan suatu 
kesatuan. Oleh karena itu, kaum neoorthodox mengecam kecenderungan teologia 
liberal untuk mengabaikan Perjanjian Lama. Ditekankan bahwa cara berpikir orang 
Ibrani tidak hanya menjiwai seluruh Perjanjian Lama, melainkan mewarnai 
Perjanjian Baru juga. Bahkan ada yang mengatakan bahwa cara berpikir Ibrani itu 
justeru merupakan kunci yang membuka pengertian Perjanjian Baru. Kaum 
neo-orthodox menekankan bahwa Perjanjian Baru itu dapat disalah-mengerti
 sama sekali kalau dibaca dengan bantuan kategori-kategori Yunani yang laku 
pada abad yang pertama Masehi. Hanya jikalau orang membaca Perjanjian Baru 
menurut kategori-kategori Ibrani, dapatlah diperoleh pengertian yang sah. 
Pendek kata, keyakinan akan kesatuan Alkitab mendapat perhatian yang lebih 
besar, dibandingkan dengan yang lazim selama puluhan tahun sebelumnya. 
Analisa-analisa yang telah dibuat oleh para pengritik Alkitab telah merobohkan 
harmonisasi-harmonisasi yang kuna dan telah menyatakan keanekaragaman 
sumber-sumber Alkitab, baik dalam hal ketelitian historis, maupun dalam hal 
penekanan-penekanan teologisnya. Maka oleh kaum neoorthodox, pendekatan yang 
analitis itu diimbangi dengan pendekatan yang lebih bersifat sintetis.
  kesimpulan : Al Kitab bukan sesuatu yg otentik, Al Kitab merupakan hasil 
perumusan manusia.

RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          --- In 
[email protected], sFe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas oleh L. Berkhof
> Diterjemahkan oleh: Drs. H. Thoriq A. Hindun ASAL USUL DAN 
SEJARAH KRISTEN 
> Pendiri agama Kristen adalah seorang Yahudi bernama Yesus,
> yang lahir di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4
> SM.

papperlepaaappp.

Yang benar adalah:

MEMANG perumusan manusiawi mengenai Trinitas tidaklah sempurna, 
karena hanya memberikan gambaran yang memuaskan sebagian orang. 
Demikian juga hasil perumusan Konsili di Konstantinopel (381) jelas 
tidak mungkin menggambarkan kebenaran yang dinyatakan kepada kita di 
atas. Yang perlu dilakukan, adalah mengembalikan perumusan itu kepada 
Alkitab, dimana di situ jelas dinyatakan beberapa sifat Tritunggal, 
seperti misalnya ketiganya `Esa' namun juga merupakan `Tiga Pribadi 
Yang Terpisah' dan berbeda fungsi dalam rangka pemeliharaan dan 
penyelamatan manusia oleh Allah. Ke-3nya ada sejak awal dunia bahkan 
Bapa dan Anak dianggap sebagai `Alpha & Omega' 
(Wah.1:8,17;21:6;22:13; band.Yes.44:6;48:12), dan ke-3nya kekal. Ke-
3nya sering dipertukarkan atau disamakan, demikian juga dalam rumus 
pembaptisan ketiganya di satukan (Mat.28:19). Menghujat Allah disebut 
sebagai perilaku Iblis yang hukumannya api neraka, demikian juga 
menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni (Mat.12:31). Yang jelas, 
ketiga penyataan itu disebut sebagai pribadi Ilahi. 

Penyataan Alkitab cukup jelas, namun yang membuat manusia bingung 
adalah ketika kita mencoba merumuskannya dalam bayangan manusia, maka 
bisa menimbulkan kontroversi, jadi bila kita mau menyebut soal 
Trinitas, ada baiknya kita menunjukkan data-data Alkitab sendiri. 

Salah satu yang ditekankan oleh Saksi-Saksi Yehuwa adalah bahwa `Anak 
lebih rendah dari Bapa' misalnya dengan mengutip Ibr.2:9 dimana 
dikatakan bahwa `Yesus lebih rendah dari malaikat', namun kita harus 
sadar bahwa `ayat itu selengkapnya' berbunyi dalam `waktu singkat' 
dan dalam Ibr.1:6 disebut bahwa "Semua malaekat harus menyembah Dia" 
bahkan Yesus Sang Anak disebut `Allah' oleh `Allah Bapa' (Ibr.1:8-
10). Saksi-Saksi Yehuwa biasa mengutip ayat-ayat ketika Yesus masih 
dalam tugas inkarnasi sebagai manusia yang tentu lebih rendah dari 
Bapa, namun setelah kebangkitannya, kita dapat melihat dalam Alkitab 
bahwa keduanya dibuat setara, bahkan dalam kitab Wahyu keduanya 
menduduki tahta bersama-sama. 

ROH KUDUS adalah bagian dari ke'Tritunggal'an Allah yang berfungsi 
sebagai Roh, karena itu memang tidak tergambar dalam penglihatan 
tersebut. Demikian juga dalam kitab Wahyu disebut jelas mengenai 
Yesus sebagai SERUPA dengan `Anak Domba' atau `Anak Manusia' namun 
mengenai Bapa tidak dijelaskan mukanya bagaimana. Dalam bagian lain 
Alkitab disebutkan bahwa `tidak seorang pernah melihat Bapa', Musa 
melihatnya sebagai `api yang membakar semak namun tidak 
menghanguskan'. Penglihatan Stefanus dan Yohanes dalam kitab Wahyu 
lebih menggambarkan penampakan Bapa di atas tahta 
digambarkan `sebagai terang yang besar', dan ungkapan `duduk 
disebelah kanan adalah suatu gambaran lambang yang tidak dapat 
digambarkan seakan-akan seorang yang duduk dibangku sebelah kanan 
Allah Bapa. Untuk penjelasan lebih jauh mengenai oknum Roh Kudus 
silahkan membaca kembali ARTIKEL (034) berjudul TRINITAS (4)

(T-4) ALLAH KRISTEN TIGA? Bagaimana kita menjawab tuduhan orang 
bahwa Allah kristen itu tiga, jadi umat Kristen `menyekutukan Allah'? 

(J-4) UMAT KRISTEN tidak menyekutukan Allah, karena Allah dalam 
penyataannya di Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Baru dengan jelas 
menyatakan diri sebagai `Esa' namun juga menyatakan diri dalam `Tiga 
Pribadi' Bapa, Anak dan Roh Kudus. Maka, bila kita menjadikan Alkitab 
sebagai otoritas, maka kita tidak perlu membelanya, namun membiarkan 
Alkitab berbicara mengenai penyataannya! Kita dapat secara ideal 
menjadikan Allah sebagai `monotheisme' mutlah, namun kalau ternyata 
Allah itu Monotheis yang menyatakan diri dalam `tiga pribadi' 
tentu `Monotheisme Mutlak' itu membatasi Allah sendiri. Tuhan 
menyatakan diri sebagai `Aku adalah Aku' (Kel.3:14).



                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke